Membangun Pioner Industri Tambang

Membangun Pioner Industri Tambang

  Selasa, 5 April 2016 09:22
SMELTER: Seorang pekerja sedang melintas di kawasan PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery. Pembangunan smelter yang dibangun di atas lahan seluas 842,97 hektare ini hampir rampung. Kapasitas produksi yang dihasilkan ditargetkan mencapai empat juta ton pertahun. RAMSES/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pemerintah pusat terlihat serius membangun kota industri di luar Pulau Jawa. Hal itu terlihat dari respon kuat pemerintah dalam pembangunan pabrik pengolahan bauksit PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT. WHW) di Ketapang. Kabupaten ini bakal jadi pioner industri tambang di Kalimantan Barat. 
 
****

KEPUTUSAN membangun pabrik pengolahan bauksit dengan nilai total investasi Rp12,5 triliun menggambarkan iklim usaha di Kalbar kondusif. Apalagi ini menjadi komitmen dari PT. WHW untuk merealisasikan proyeknya agar sesegera mungkin dirasakan masyarakat sekitar.

Saya melihat langsung kawasan yang akan dibangun di Dusun Sungai Tengar, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang. Di atas hamparan lahan seluas 842,97 ha, berdiri pabrik yang mengolah bauksit menjadi alumina. Bahan nantinya ini akan memenuhi kebutuhan logam dasar bukan besi baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sejauh ini proses pengerjaanya sudah hampir rampung. Mulai dari pelabuhan yang digunakan untuk menerima dan mengeluarkan bauksit yang sudah diolah. Kemudian jalur yang digunakan untuk membawa bauksit dari pelabuhan ke pabrik pengolahan. 

Di area ini juga dibangun tempat tinggal karyawan. Saat ini tercatat ada 2.084 tenaga kerja Indonesia dan 350 tenaga kerja asing. PT WHW memastikan jumlah karyawan terus bertambah, seiring dengan lamanya WHW berinvestasi di Kalimantan Barat. 

Dari total nilai investasi itu, pengerjaannya dilakukan dua tahap. Untuk tahap I nilai total investasinya Rp7.080.934.602.599. Di tahap ini rencananya kapasitas produksi sebesar satu juta ton. 

Sedangkan untuk rencana investasi tahap II yakni senilai Rp5.472.897.092.408. Bertambahnya nilai investasi maka bertambah pula kapasitas produksi. Target akhirnya kapasitas produksi yang dihasilkan PT. WHW sebanyak empat juta ton. 

Perusahaan ini 70 persen sahamnya dari pihak asing. Di antaranya China Hongqiao Group Limited (Cayman Islands  55,00 persen (Rp1.283.700.000.000,00), Shandong Weiqiao Aluminium & Electricity Co. Ltd (R.R Tiongkok, lima persen) Rp116.700.000.000, Winning Investment (HK) Company Limited (Hongkong, RRT, 10 %) Rp233.400.000.000. Sedangkan saham dalam negeri hanya sebesar 30 persen yakni sebesar PT. Cita Mineral Investindo Tbk  Rp700.200.000.000. 

WHW tidak hanya membangun pabrik pengolah, juga fasilitas pendukung lainnya seperti listrik. Karena membutuhkan daya yang begitu besar, PLN ditenggarai tidak akan mampu memenuhi kebutuhan listrik di perusahaan ini. 

Alhasilnya dibangunlah pembangkit dengan total daya sebesar 160 megawatt. Saat ini sudah selesai dibangun satu pembangkit dengan besaran daya 80 megawatt. Progres akan dilakukan, agar pembangkit kedua bisa segera rampung. 

Lahan yang dibangun itu untuk pengolahan bauksit menjadi bahan yang siap ekspor. Namun bauksitnya diambil di empat daerah yakni di Sandai, Labai, Tayap, dan Air Upas. 

Dari sini bauksit dibawa ke Kendawangan menggunakan jalur air. Ini dilakukan untuk mencegah terjadi kerusakan jalan akibat lalu lintas kendaraan berat. Justru menariknya, jalan yang dilintasi menuju kawasan WHW diajukan menjadi jalan nasional. 

Berdasarkan data hasil eksplorasi IUP Harita Group (Des 2013), total cadangan bauksit untuk supplai PT. WHW Refinery sebanyak 828 juta ton. Sedangkan selama berada di Kalbar total Metallurgical Grade Bauxite yang dilakukan PT. WHW yakni sebanyak 303 juta ton. 

Bupati Ketapang Martin Rantan menilai saat ini Kalbar mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat untuk proyek strategis nasional. Dari tujuh proyek itu, salah satunya ada di Kabupaten Ketapang. 

“Termasuk pembangunan smelter di Dusun Sungai Tengah, kawasan industri di Padat Mentimun dan food estate di ketapang,” kata dia. 

Menurutnya, kehadiran sektor industri ini bisa menghadirkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Secara tidak langsung pun hal ini bisa menggerakan roda perekoniam masyarakakat setempat. 

Kendati demikian, Martin mengakui masih ada persoalan yang mengganjal untuk mendorong tumbuhnya sektor industri. Tak lain dan tak bukan persoalan itu berkaitan dengan infrastruktur di daerah. 

Martin berharap ada dukungan dari pemerintah pusat untuk membangun infrastruktur di bumi ale-ale ini. Karena mengingatkan kemampuan APBD Kabupaten dan Provinsi yang terbatas. 

“Saya sudah meminta petunjuk gubernur untuk jalan Sidu Ketapang, Kendawangan, Marau, Air Upas, Manis Mata menjadi jalan strategis nasional. Karena industri ini kerjasama dua negara, maka diperlukan dana pusat untk meningkatkan infrastruktur,” harap saat kunjungan Kepala BKPM Franky Sibarani bersama Gubernur Kalbar Cornelis ke PT. WHW.  

Gubernur Kalbar Cornelis yang meninjau langsung progress pembangunan itu memastikan setiap perijinan untuk investasi tidak mengalami kendala. Masing-masing SKPD di lingkungan pemerintah provinsi memberikan klarifikasi kesiapan izin yang diberikan. 

Cornelis berharap pihak asing yang menanamkan modalnya tetap memperhatikan kepentingan masyarakat. Pekerjaan sederhana pun, lanjut dia, tidak harus mengambil tenaga kerja dari Tiongkok. 

“Jika memang ada masyarakat yang tidak pandai kerja, maka bisa dibuatkan pelatihan. Jangan sampai hanya pekerjaan mengambil batu harus mengambil tenaga kerja dari Tiongkok,” kata dia mengingatkan. 

Dia berharap hubungan antara masyarakat dan perusahaan bisa berjalan harmonis. Sebab, investor yang masuk tetap berharap situasi berjalan kondusif. Dia menilai jika investasi berjalan lancar, maka negara juga akan meningkatkan pendapatan negara di sektor pajak. 

“Jangan ada konflik terus. Ciptakan hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat. Itu tujuan pemerintah kenapa dibangun di sini. Jangan sepihak saja yang menikmatinya,” pesan dia. 

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal RI Franky Sibarani memastikan pihaknya terus memonitor proyek investasi di bidang hilirisasi produk menineral. Termasuk yang dilakukan PT. WHW. 

Sebab dia menilai kehadiran investor bisa mendukung penyerapan tenaga kerja, meningkatkan nilai tambah, meningkatkan ekspor, menghemat devisa dan tidak kalah pentingnya mempercepat pembangunan di luar Pulau Jawa. 

Dia menjelaskan proyek investasi PT. WHW memiliki rencana investasi sebesar Rp12,5 triliun. Hingga sekarang realisasi investasinya sudah mencapai Rp7,9 triliun. Dari jumlah itu ada 2,435 tenaga kerja yang sudah diserap dalam proyek investasi ini.

Franky menyebutkan jika ini merupakan pabrik alumina terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksinya satu juta ton pertahun untuk tahap I. Dari jumlah itu, persensasenya 90 persen di ekspor dengan nilai sebesar USD765 juta. 

“Sisa produksi sebesar 10 persen untuk dipasok ke PT. Inalum,” kata dia. 

Franky pembangunan industri penghasil smelter grade alumina ini dapat memberikan dampak multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi di Ketapang. Dari pembangunan ini diperkirakan mampu menghemat devisa sebesar USD85 juta pertahunnya melalui subtistusi impor bahan baku. 

Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis menambahkan di tahun 2015, realisasi investasi PT. WHW telah berkontribusi sebesar Rp5,4 triliun atau sebesar 23 persen kontribusinya terhadap realisasi investasi Kalimantan Barat.

Direktur Operasional PT. WHW Li Yu Yong berjanji pihaknya akan bekerja keras dalam investasi yang menghubungkan dua negara ini. Salah satunya untuk memenuhi kebutuhan listrik di perusahaan ini. Dia menyebutkan satu pembangkit selesai dibangun dan bisa menyuplay listrik sejak 28 Maret 2016. 

Rencananya, lanjut dia, dalam tahap pertama ini pabrik pengolahan sudah bisa berproduksi di bulan April ini. Seiring dengan itu Li Yu Yong berharap investasi yang dilakukan ini bisa berjalan kondusif.

“Kami ingin minta saran, agar PT WHW bisa berjalan dengan baik dan tidak bertentang dengan aturan di negara ini. Jadi perusahaan ini resmi dan aman,” ujar dia. 

Menurut Li Yu Yong, rencana investasi yang dilakukan sebesar Rp12,5 triliun itu memiliki kapasitas produksi dua juta ton pertahun. Akan tetapi nilai invetasi bisa semakin besar yakni sekitar Rp1 miliar dollar untuk kapasitas produksi sebesar dua hingga empat juta ton alumina. 

“Selama produksi, muatan tidak yang dibawa tidak akan menggunakan jalan darat. Ini dilakukan agar tidak mengganggu aktivitas jalan ini,” kata dia. 

Dari data BKPM, Realisasi Investasi Kalbar mencapai Rp2,8 triliun. Angka itu terdiri dari PMA sebesar Rp16,7 triliun dan PMDN sebesar Rp6,1 triliun. Realisasi meningkat 47,1 persen dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp15,5 triliun.

Sedangkan realisasi investasi secara nasional pada tahun 2015 mencapai Rp545,4 triliun, meningkat Rp17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp463,1 triliun. Realisasi PMDN 15,0 persen sebesar Rp179,5 triliun. Sementara realisasi investasi PMA naik 19,2 persen sebesar Rp365, 9 triliun. (mse) 

Berita Terkait