Membangun Budaya Mendengarkan di Kalangan Siswa

Membangun Budaya Mendengarkan di Kalangan Siswa

  Sabtu, 16 April 2016 10:35   950

SETELAH lebih dari dua setengah dekade bergelut di jagat pendidikan (sekolah), saya semakin menyadari menjadi guru bukanlah pekerjaan mudah. Menjadi guru menuntut kesungguhan dan totalitas. Meskipun khalayak sering kali sinis dan memandang rendah pekerjaan guru (karena pekerjaan sebagai guru tak menjanjikan kesejahteraan secara finansial), saya berpendapat menjadi guru bukanlah pekerjaan biasa melainkan pekerjaan mulia untuk mencerdaskan generasi peradaban sebuah bangsa.

Merefleksikan pekerjaan (tepatnya panggilan hati) sebagai guru, selalu saja saya temukan peristiwa-peristiwa unik, menarik, menggelitik, bahkan kontradiktif dengan apa yang saya pikirkan, saya idealkan sebagai guru. Ketika mengajar, misalnya, saya mengidealkan para siswa akan mendengarkan dengan penuh perhatian materi pelajaran yang disampaikan. Namun faktanya sebaliknya. Siswa acapkali sibuk dengan temannya dan dirinya sendiri.

Berapa banyak siswa mau dengan setia mendengarkan penjelasan dari guru? Berapa banyak siswa yang sabar mendengarkan (tanpa menghakimi) saat teman mereka bertanya terkait materi pelajaran yang belum mereka pahami? Berapa banyak siswa mau membuka diri dan mendengarkan pendapat-gagasan yang dikemukakan oleh teman-temannya (tanpa mencibir)? Berapa banyak siswa mau mendengarkan dengan serius teman-teman mereka saat teman-teman mereka melakukan presentasi di depan kelas? Tak banyak, bukan?

Merefleksikan ‘peristiwa-peristiwa kecil’ yang muncul dan terjadi di lingkungan kelas saat melaksanakan tugas sehari-hari sebagai guru, saya berkesimpulan, aktivitas mendengarkan apalagi dengan hati merupakan pekerjaan sulit bagi sebagian besar siswa di sekolah-sekolah kita. Sikap tak peduli dan tidak hormat masih diidap sebagian besar siswa kita. Benar yang dikatakan penulis dan jurnalis kenamaan Ernest Hemingway, kebanyakan orang tak mau mendengarkan (termasuk di kalangan siswa).

Sikap tak peduli, tidak mendengarkan orang lain (termasuk terhadap teman dan guru ketika menjelaskan materi pelajaran) sesungguhnya menunjukkan sikap yang merendahkan orang lain. Saya berpendapat, sikap yang demikian mesti dieliminir agar hal itu tidak menjadi ‘budaya’ di kalangan siswa. Sebaliknya, sikap peduli, hormat, simpati, empati, dan menghargai orang lain mesti ditanamkan dan dikuatkan agar tercipta iklim yang memungkinkan nilai-nilai keutamaan hidup tumbuh dan berkembang dalam diri para siswa. Pada titik ini, penanaman hakikat “Budaya Mendengarkan di Kalangan Siswa” menjadi penting.

Membangun empati dan simpati (sikap peduli dan hormat) agar sukses menjalin komunikasi dengan orang lain (dalam konteks pembelajaran di sekolah, yaitu dengan teman dan guru) sehingga mampu mendengarkan apa yang disampaikan teman dan guru secara aktif dan efektif adalah suatu keniscayaan yang mesti dilakukan siswa menuju suskses studinya. Namun hal itu tidaklah gampang. Bagaimana caranya membangun budaya mendengarkan di kalangan siswa  agar dapat menjadi siswa pendengar aktif? Tulisan ini memaparkannya.

Proses Intelektual

Mendengarkan merupakan suatu proses intelektual dan emosional yang cukup rumit. Kegiatan ini melibatkan beberapa unsur, yaitu mendengar, memerhatikan, menyimak, merasakan, menangkap, memahami, dan mengingat. Proses tersebut merupakan kegiatan menggerakkan unsur-unsur untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan masukan (input), fisik, emosional, dan intelektual dari orang lain (baca: guru) serta berusaha untuk menangkap pesan dan maknanya. Proses mendengarkan juga menuntut adanya kehendak, kemauan, motivasi, kerelaan, dan kesabaran. Ia membutuhkan kerja keras, bukan hanya sekadar memusatkan konsentrasi dan kepekaan, tetapi juga mempengaruhi perubahan fisik dalam tubuh pendengar itu sendiri (lih. Hendra Surya, 2009).

Para ahli dalam penelitiannya membuktikan bahwa kecepatan mendengar jauh melebihi kecepatan berbicara. Meskipun demikian, orang (termasuk para siswa) lebih senang menjadi pembicara daripada menjadi pendengar yang baik (aktif -yang melibatkan sejumlah unsur yang disyaratkan untuk seorang pendengar yang baik itu). Ini disebabkan, menjadi pembicara lebih mudah, sedangkan menjadi pendengar yang baik menuntut usaha sadar yang serius agar dapat mengerti dan memahami isi informasi yang disampaikan oleh pembicara kepada kita sebagai pendengar.

Membangun Budaya Mendengarkan

Agar orang, utamanya siswa memiliki kemampuan mendengarkan yang baik sehingga ia dapat menjadi siswa pendengar yang aktif, hal-hal yang mesti diperhatikan adalah sebagai berikut. Pertama, jadilah pendengar yang simpatik. Umumnya, setiap orang (siswa dan juga guru) merasa senang, merasa dihargai jika (lebih) diperhatikan, diutamakan, dan didengarkan apa yang dijelaskannya. Untuk itu biarkan dan berikanlah kesempatan kepada teman dan guru untuk menyampaikan penjelasannya, baru setelah itu ditanggapi kalau ada masalah yang belum jelas.

Kedua, belajar mengamati. Untuk menjadi pendengar yang baik, sangat dibutuhkan kemampuan membangun konsentrasi dan memusatkan perhatian pada inti (core) persoalan yang dibicarakan. Oleh karena itu berlatihlah, belajar mengamati dan menggiring pemikiran secara terfokus pada persoalan yang sedang dibicarakan.

Ketiga, memahami perasaan orang lain. Untuk menjadi siswa pendengar yang baik (aktif), memiliki perasaan empati dan simpati pada orang lain (teman dan guru) adalah keniscayaan.  Peningkatan kepekaan dan perhatian terhadap teman dan guru akan memudahkan melakukan adaptasi terhadap suasana proses pembelajaran dan akan lebih mudah memahami apa yang disampaikan oleh teman dan guru.

Keempat, bersikap terbuka. Di sini, perasaan negatif (prasangka buruk) harus dibuang jauh-jauh. Perasaan benci, antipati, dendam pada orang lain (dalam konteks pembelajaran di kelas, terhadap teman dan guru) harus disingkirkan. Sebaliknya, bayangkan atau tonjolkan efek senang dalam hati agar timbul rasa suka terhadap teman dan guru dan materi pelajaran yang disampaikannya.

Kelima, mendengar aktif. Untuk menjadi pendengar yang aktif, siswa memerlukan kunci pemandu pemusatan perhatian, konsentrasi, dan menggiring pemikiran secara terfokus untuk menggali informasi lebih lanjut, mendetail, dan menyeluruh. Umumnya, kunci pemandu untuk menjadi pendengar yang aktif itu adalah jembatan berpikir 5W + 1H ( What, Why, Where, When, Who, dan How).

Keenam, cara merespons (memberi tanggapan). Agar proses pembelajaran berjalan efektif, siswa mesti mampu mengendalikan diri untuk tidak berkomentar atau memotong pembicaraan/penjelasan teman dan guru. Setelah diberi waktu untuk berkomentar/bertanya, sampaikanlah komentar atau pertanyaan itu dengan santun.

Perhatian (concern) dan kualitas/intensitas pendengaran siswa dalam proses pembelajaran menjadi tuntutan agar proses pembelajaran  berlangsung sangkil dan mangkus. Jika siswa tidak ada perhatian dan tidak fokus mendengarkan pada materi pembelajaran yang disampaikan oleh teman dan guru, optimalisasi dan efektivitas proses pembelajaran sulit diwujudkan. Untuk itu, menyalakan api per-HATI-an dan pen-DENGAR-an (baca : Membangun Budaya Mendengarkan) di kalangan siswa adalah pilihan bijak.

 

* Penulis Seorang Pendidik Alumnus USD Yogyakarta Humas SMP santo F. Asisi, Tinggal di Kota Pontianak                                                                                                        

 

 

 

 

 

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.