Membangun Budaya Baca Masyarakat

Membangun Budaya Baca Masyarakat

  Selasa, 7 November 2017 09:18   54

Oleh Y PRIYONO PASTI

MEMBACA senyatanya merupakan kegiatan yang sangat penting dalam membantu seseorang mencapai kepenuhan kemanusiaannya, baik secara individual maupun sosial. Dalam konteks kepenuhan kemanusiaan secara individual, membaca merupakan salah satu ruang tempat seseorang melakukan kegiatan yang paling dia sukai secara pribadi; dan di situ ia secara penuh memiliki dirinya. Ruang-ruang seperti ini sangat penting untuk memelihara keseimbangan fisik, mental, dan jiwa seseorang.

Dengan membaca, pengetahuan dan wawasan seseorang bertambah. Melalui membaca, penulis atau penyusunnya bisa berbagi pengalaman kemanusiaannya, ilmu, pengetahuan, bahkan imajinasi yang dapat menjadi bekal berharga bagi pembaca dalam mengarungi setiap denyut kehidupan. Bahkan dengan membaca, penjajah bisa dilenyapkan, bangsa bisa dicerdaskan.

Menyadari betapa pentingnya membaca, organisasi pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNESCO, menetapkan 50 judul buku untuk dibaca per satu juta penduduk untuk negara-negara berkembang. Sementara untuk negara maju, sedikitnya 500 judul buku untuk dibaca oleh per satu juta penduduk. Pertanyaan reflektif-substansialnya, bagaimana upaya untuk membangun budaya baca masyarakat kita, termasuk di Kalbar bahkan di kota Pontianak?

Upaya membangun budaya baca masyarakat dalam rangka mewujudkan Indonesia Gemar Membaca 2019 terus digencarkan. Dalam konteks Kalimantan Barat, salah satu upaya untuk membangun budaya baca masyarakat tersebut adalah diselenggarakannya pemilihan Duta Baca pada November 2017 mendatang.

Tahun ini, selain pemilihan Duta Baca Kalbar 2017, pemilihan Duta Baca Cilik, juga diadakan pemilihan Relawan Baca dan Tokoh Baca Kalbar. Masyarakat dapat memilih relawan dan tokoh baca melalui guntingan kupon di Pontianak Post, surat, dan email. Pendaftaran dibuka hingga 28 Oktober 2017. 

Tugas utama Duta Baca adalah sebagai motivator peningkatan minat baca masyarakat dan pendukung utama kegiatan perpustakaan dalam mengampanyekan kegiatan gemar membaca dan mendayagunakan perpustakaan secara optimal. Sementara relawan dan tokoh baca bertugas mengajak masyarakat untuk akrab dengan buku, mencintai buku, mengajak masyarakat untuk membuka wawasan dengan membaca.

Dalam konteks Kalbar, dalam rangka membangun budaya baca masyarakatnya, selain melalui pemilihan Duta Baca, Relawan dan Tokoh Baca, juga melalui program Kepung Buku. Namun, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kepala Unit Pelayanan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat, Untad Dharmawan (Rabu, 18/10/2017), program yang menempatkan buku di warung kopi, restoran, hotel, kampung-kampung hingga perbatasan ternyata belum cukup. Perlu kerja sama semua pihak dan upaya-upaya strategis lain untuk membangun budaya baca masyarakat itu.

Membudayakan Perpustakaan

Agar Program membangun budaya baca masyarakat itu dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka membudayakan perpustakaan adalah kuncinya. Pemahaman dan budaya perpustakaan mutlak diperbaharui, dikembangkan, dan ditumbuh-kembang-suburkan. Perpustakaan bukanlah sekadar tempat (ruang) menyimpan hasil pemikiran orang dalam bentuk buku-buku, diktat-diktat, dan sejenisnya yang tertata rapi, tempat yang bisu dan mati tanpa makna. Perpustakaan merupakan ruang dinamis, menyimpan karya-karya yang membangun peradaban kemanusiaan. Suasana di dalamnya ada nafas kehidupan, spirit, dan roh kreativitas yang terus dan selalu mengalir penghilang dahaga haus keilmuan.

Budaya perpustakaan bukan hanya sebatas kebiasaan orang suka ke perpustakaan. Ia menyangkut sikap disiplin, suka kerja keras (dan kerja cerdas), kejujuran, penghargaan terhadap kerja/karya orang lain, optimistis, kemandirian, kesungguh-sungguhan, tanggung jawab, law enforcement, dan ketaatan terhadap peraturan (lih. Eko Setyowardani, 2009). 

Ada sejumlah alasan pentingnya membudayakan perpustakaan dalam mendukung budaya baca masyarakat. Mengkristalisasikan Eko Setyowardani dan pemahaman reflektif penulis terkait manfaat perpustakaan, sejumlah alasan itu diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, perpustakaan adalah jantung pendidikan. Pendidikan yang baik dan berkualitas memerlukan dukungan dan sarana penunjang pembelajaran yang baik pula. Satu diantaranya adalah perpustakaan.

Kedua, sebagai mata rantai yang menghubungkan sejarah dan kontinyuisasi pemahaman dan pengetahuan baru. Peristiwa-peristiwa besar sejarah dapat dipelajari dan dihayati sampai saat ini. Lewat bacaan dalam perpustakaan, ilmu pengetahuan dapat terus berkembang karena orang yang membaca akan terus mempertanyakan, dan mendialogkannya. Dan proses dialektika dari buku-buku yang dibaca itu akan (terus) muncul pemahaman dan pengetahuan baru. 

Ketiga, sebagai harta karun batin berupa karya sastra, buah penemuan (filsafat dan teknologi) yang turut menyempurnakan keutuhan kemanusiaan para pembacanya.

 Keempat, perpustakaan memberi akar bagi kehidupan masyarakat modern saat ini, utamanya tuntutan atas kebutuhan informasi. Berada di ruang simulacra saat ini, tanpa atau ketinggalan informasi dapat menyebabkan manusia terpencil dan terasing.

Kelima, perpustakaan mengajak manusia untuk bersikap terbuka. Setiap penemuan dan pemikiran yang terhampar di perpustakaan menjadi milik bersama. Lewat saling bertukar ilmu melalui buku-buku, pengetahuan pembacanya menjadi (dan terus) bertambah, baik itu pengetahuan pokoknya maupun sampingannya.

Keenam, perpustakaan merupakan fasilitas bersama yang murah dan mudah untuk membimbing pembacanya melangkah ke depan, menapaki hari esok yang lebih baik. Dapat dibayangkan, betapa beratnya siswa dan mahasiswa, bahkan masyarakat pada umumnya untuk mengembangkan dan membimbing potensi diri (kreatif) menuju kepenuhannya tanpa perpustakaan.

Di tengah masih rendahnya budaya baca sebagian besar masyarakat di satu pihak, dan kuatnya keinginan untuk menjadikan masyarakat kita masyarakat gemar membaca (reading society) sebagai syarat menuju masyarakat gemar belajar (learning society) di pihak lain, membudayakan perpustakaan sebagai wahana membangun budaya baca, pencerdasan dan pencerahan diri, membangun idealisme, peningkatan kualitas nilai diri, serta mengelola dan mengasah potensi diri adalah mutlak dilakukan.  

Prinsip “Knowledge is Power” harus diwujudkan melalui membangun budaya baca. Dalam konteks Kalimantan Barat, yang budaya literasi (budaya bacanya) masih rendah dibandingkan budaya baca di Kalimantan lainnya (Pontianak Post, Rabu, 18/10), membangun budaya baca di kalangan masyarakatnya adalah pilihan bijak. Karena itu, tersedianya perpustakaan (yang representatif) menjadi prasyarat.

Penulis,  Alumnus USD Yogya