Memahami Semangat Jabar di PON

Memahami Semangat Jabar di PON

  Senin, 26 September 2016 09:30   534

Oleh: BAMBANG INDRA K.*

 

KERICUHAN dalam pertan dingan cabang olahraga (cabor) polo air di kolam renang Pusat Olahraga Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin (19/9) adalah dinamika pelaksanaan event olahraga seperti PON XIX/2016 Jawa Barat (Jabar). Emosi yang tak terkendali, luapan kekesalan, dan kekecewaan sangat dimungkinkan terjadi pada

sebuah pertandingan. Kejadian mun cul pada cabor polo air, yang selama ini tidak populer dan minus penggemar. Keamanan pun pada cabor seperti ini terkesan longgar.

Pertandingan semifi nal semakin seru dengan kedatangan suporter dari DKI Jaya, yang menyaksikan duel Sumatera Selatan (Sumsel) melawan tuan rumah Jabar. Semua

berjalan normal. Menjadi abnormal ketika tampak pada tayangan video keterlibatan oknum aparat ber seragam. Menjadi heboh lagi karena peristiwa itu terjadi pada era

digitalisasi seperti sekarang. Video rekaman langsung diunggah ke YouTube dan berbagai media sosial lain sehingga dalam hitungan detik menjadi viral.

Suporter pertandingan, kini bukan manusia lagi yang hadir di tribun penonton. Tetapi juga para penonton dunia maya atau yang lazim disebut netizen. Mereka juga

memiliki ”hak pilih” yang tinggi sehingga membentuk opini yang mahadahsyat dan tanpa batas. Apa pun gerak-gerik kita seolah diawasi mata dunia, mata media sosial yang begitu dahsyat.

Kita (maaf ) kentut pun, seolah seluruh dunia mendengar. Itu yang dilupakan pada penyelenggaraan PON XIX di Jawa Barat ini. Kejadian di polo air membuyarkan upaya

Jabar dalam mencitrakan diri sebagai tuan rumah yang sukses. Meluluhlantakkan ”Jabar yang Someah Hade Kasemah”. PON sekarang bukan seperti PON pertama. Bukan PON Solo 1948 yang ketika itu penyampaian informasi masih sangat primitif. Hasil pertandingan saja diantar melalui kurir dengan bersepeda onthel. Ini bukan PON yang hanya membawa misi untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa bangsa Indonesia

dapat membuktikan sanggup mengadakan acara olah raga dengan skala nasional. Ini bukan ajang melawan Perjanjian Renville. Tetapi, PON sekarang juga sosial. Kederasan informasi, yang jika tidak disikapi dengan cepat dan tepat, akan tumbuh menjadi

pengingkaran fakta. Fakta menunjukkan bahwa Jabar telah berhasil menyatukan komitmen warganya dalam mengukir prestasi olahraga dan menjadi tuan rumah yang baik. Persiapan dengan dana awal Rp 277 miliar dari APBD provinsi adalah yang tidak bisa dimungkiri.

Provinsi ini serius memperhatikan olahraga. Alokasi Rp140 miliar untuk pembangunan fasilitas baru dan Rp137 miliar untuk perbaikan fasilitas adalah bukti, ada perencanaan finansial yang tidak dimiliki semua provinsi di republik ini. Menggelar pertandingan di lebih dari 60 venue, dengan melibatkan 16 kabupaten/kota di Jabar, bukan pekerjaan

mudah. Dulu kita mengenal Jabar hanya memiliki GOR Siliwangi, tetapi kini sudah memiliki kompleks olahraga Si Jalak Harupat. Belum lagi Telkom Convention Hall,

Jatinangor, dan lain-lain. Jabar sudah menyusul Sumsel dalam pemikiran pengembangan

olahraga. Pengembangan menyehatkan masyarakatnya melalui penyediaan fasilitas olahraga yang memadai.

Dua provinsi itu lebih maju selangkah dalam mewujudkan pembangunan fasilitas

olahraga. Sumsel memindahkan pusat olahraganya ke kompleks olahraga Jakabaring.

Provinsi lainnya belum. Jakarta yang megah masih bertumpu pada fasilitas lama, kompleks Gelora Bung Karno (GBK), selama bertahun-tahun. Itu pun masih di

bawah pengelolaan Sekretariat Negara. Aset daerah seperti Stadion Menteng, kemudian GOR-GOR kecil seperti Planet Senen, Jakarta Utara, dan Bulungan tergerus dengan

fungsi lain. Bahwa pemerintah daerah sadar perlunya menyediakan arena terbuka

bagi masyarakat untuk berolahraga adalah penting. Basis pembinaan olahraga dari akar rumput adalah ketersediaan sarana dan prasarana olahraga.

Menyadarkan bahwa olahraga adalah penting dalam membangun bangsa inilah yang sulit sekali. Kompleks Senayan terus-menerus berkurang, menjadi mal dan hotel. Di Jakarta sudah sedikit kita temui sekolah yang lengkap dengan fasilitas olahraganya. Padahal,

sekolah adalah basis pembinaan akar rumput. Jabar sudah menggeliat. Apa pun tuduhan miring pada penyelenggaraan PON XIX ini, provinsi tersebut sudah melangkah mengedepankan olahraga. Provinsi lain, kecuali Sumsel, termasuk Jawa Timur, belum tampak. Semangat Jabar itulah yang harus ditonjolkan dan seharusnya menjadi viral. Bukan sekadar perburuan medali atau peristiwa di gelanggang polo air. (*)

 

*) Pemerhati olahraga, mantan wartawan