Melukis Pakai Masker, Kuas dan Kanvas Disterilkan

Melukis Pakai Masker, Kuas dan Kanvas Disterilkan

  Jumat, 5 February 2016 08:12
Ita Latiana Arianto Berkarya di Masa Isolasi Pasca-Cangkok Ginjal

Ita Latiana merasa talenta melukis kaligrafinya tiba-tiba muncul selama dirinya diisolasi. Turut membantu proses pemulihan. Nora Sampurna-JakartaDI ruang pameran malam itu, Ita Latiana Arianto tak henti-hentinya bersyukur. Apa yang tak terbayangkan sebelumnya akhirnya terwujud: memamerkan puluhan karya lukisan kaligrafinya.’’Allah sangat sayang kepada saya,’’ katanya kepada Jawa Pos di sela pameran di D’Gallerie, Barito, Jakarta, Minggu dua pekan lalu (24/1), itu.

Pameran tersebut tak terbayangkan sebelumnya karena pada Juni tahun lalu Ita harus menjalani transplantasi ginjal. Pada bulan pertama sesudahnya, istri Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto itu harus bed rest total.Tidak boleh dikunjungi siapa pun, bahkan tidak boleh disentuh. Sebab, tubuhnya masih mengalami penyesuaian setelah adanya ginjal baru yang masuk. Di rumah, suster pun stand by 24 jam.

Anggota keluarga berkomunikasi dengan Ita via intercom. Mereka harus puas hanya bisa melihat dari balik kaca. ’’Ketika sudah boleh masuk ke dalam kamar pun, mesti mengenakan pakaian steril,’’ kenang Ita.

Dikenal aktif di bidang pendidikan dan sosial, Ita jelas jenuh berada dalam isolasi. Karena itu, memasuki bulan kedua, dia bertanya kepada dokter yang merawat soal aktivitas apa yang diperbolehkan selama masa pemulihan.

Yoga ternyata belum boleh. Kemudian, tiba-tiba Ita teringat sepuluh tahun lalu pernah mencoba melukis. ’’Dokter bilang boleh melukis, asal pakai masker dan peralatannya disterilkan,’’ tutur ibu tiga anak itu.

Artinya, sebelum dimasukkan ke dalam kamar Ita, kanvas dan kuas harus disemprot cairan khusus. Itu agar kanvas dan kuas tersebut bebas dari bakteri maupun kuman. Cat minyak dipastikan baru dibuka ketika berada di dalam kamar Ita.

Kemerosotan kondisi kesehatan Ita berawal dari diabetes. Pada Desember 2014, vonis gagal ginjal pun ’’diketok’’ dokter. Keluarga mengupayakan berbagai cara hingga diputuskan untuk operasi cangkok ginjal.

’’Saya maunya operasi setelah Rilla menikah. Jadi, April Rilla nikah, Juni saya baru operasi,’’ tutur Ita.

Rilla yang dimaksud adalah Rilla Lusiana, putri sulungnya. Rilla pula yang menggagas pameran karya sang ibu. Rilla bersama dua adiknya meyakinkan bahwa lukisan kaligrafi Ita yang ketika itu baru berjumlah 10 sangat indah.

’’Tapi, mama bikin lebih banyak lagi ya,’’ kata Ita menirukan ucapan Rilla ketika itu.

Ita pun makin bersemangat dan produktif melukis. Dalam waktu dua bulan, terkumpul 35 lukisan. Pagi atau siang, di luar waktunya untuk membaca Alquran, Ita melukis. Akhirnya, dia berhasil menyelesaikan 54 karya.

Proses kelahiran tiap lukisan dimulai dengan membuat warna dasar lebih dulu hingga lima lukisan sambil melukis ayat yang dijadikan kaligrafi. ’’Nunggu keringnya sekitar 3 hari,’’ kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta tersebut.

Pemilihan ayat yang dituangkan ke dalam kaligrafi kerap dikonsultasikan kepada guru mengaji. Itu pun komunikasi dilakukan via WhatsApp. ’’Saya juga bertanya apakah boleh saya gambar begini hurufnya, katanya boleh. Itu termasuk gaya kaligrafi kontemporer,’’ beber Ita menirukan sang guru ngaji.

Pilihan pada kaligrafi merupakan hasil interaksi yang intens dengan Alquran. Tak sekadar membaca, Ita juga meresapi makna yang terkandung dalam tiap ayat. Dari sanalah lantas lahir, antara lain, lukisan kaligrafi surah Al Fatihah, Al Kautsar, Al Insyirah, dan Al Kahfi. Semua turut dipamerkan.

Ita merasa, talenta melukis kaligrafi itu seakan tiba-tiba muncul dalam masa isolasi tersebut. ’’Sebelumnya saya nggak terbiasa menulis huruf hijaiyah dan nggak pernah sekolah seni secara formal. Tapi, ketika hati ingin mencoba, ternyata bisa,’’ ungkap perempuan 51 tahun kelahiran Magelang itu.

Setelah masa isolasi di dalam kamar selama tiga bulan, berangsur-angsur Ita boleh keluar kamar, tetapi masih di dalam area rumah. Dipantau dokter, hasilnya bagus. Mulai boleh keluar rumah, tetapi tidak dalam waktu lama.

Ketika jumlah lukisan sang ibu dirasa cukup, Rilla pun langsung merealisasikan gagasannya tadi. Kebetulan, dia tergabung dalam Quran Indonesia Project. Itu adalah project rekaman audio bacaan Alquran dalam tiga bahasa, Arab, Indonesia, serta Inggris, dan dapat didengar melalui gadget. Ita pun diajak Rilla dan teman-temannya berkolaborasi menggelar pameran lukisan.

Hasilnya pun mengagumkan. Banyak pengunjung yang menyampaikan kepada Ita atau melalui Rilla kekaguman mereka. Mereka mengaku terinspirasi semangat Ita yang tetap berkarya dalam masa recovery-nya.

’’Ada orang yang habis cangkok ginjal lalu diisolasi malah menurun kondisinya karena depresi. Mama dengan melukis jadi enjoy sehingga ginjal baru bisa diterima dengan baik oleh tubuh,’’ papar Rilla.

Ita memang merasa melukis kaligrafi menjadi semacam terapi yang mempercepat pemulihannya. Rilla tentu saja juga begitu mengagumi kegigihan sang mama. Dia mengenang, ada begitu banyak momen haru yang dirasakan dirinya dan keluarga selama masa penyembuhan.

Salah satunya ketika Lebaran tahun lalu. ’’Sekeluarga pakai baju Lebaran seragam, tapi dipisahkan kaca. Nggak bisa peluk mama, minta maafnya lewat intercom,’’ kenang dia.

Sang suami tentu juga tak kalah bersyukurnya. ’’Alhamdulillah, banyak hikmah yang kami dapat. Tentang melukis, yang saya tahu, itu membuat istri saya lebih semangat dan happy selama pemulihan,’’ papar Sulaiman.

Keluarga juga baru tahu Ita punya talenta melukis ketika dalam masa isolasi tersebut. Yang pasti, sebagian lukisan kaligrafi itu akan dipajang di sekolah yang dikelola Ita, SD dan SMP Al A’raf yang terletak di Bedahan, Sawangan, Depok. Ita menjadi ketua yayasan di sana.

Kini setelah melalui enam bulan recovery (terhitung sampai akhir Januari, Red) pascatransplantasi ginjal, kondisi kesehatan Ita memang masih harus terus dipantau. Tapi, dia mengaku sudah sehat seperti sediakala. Bahkan makin bersemangat untuk berkegiatan. ’’Saya sudah tidak sabar ingin menengok sekolah,’’ tegasnya.

Sebagai rasa syukur, Ita dan keluarga berangkat umrah mulai 30 Januari. Sepulangnya nanti, dia menyatakan ingin terus melukis kaligrafi. ’’Bedanya, setelah ini nggak ngebut. Kalau kemarin kan untuk pameran,’’ ucapnya, lantas tertawa. (*/c5/ttg)