Meluapkan Emosi dengan Membanting Barang

Meluapkan Emosi dengan Membanting Barang

  Sabtu, 6 Agustus 2016 09:35

Berita Terkait

Berbagai cara dilakukan seseorang dalam meluapkan emosinya. Satu diantaranya dengan membanting atau melemparkan barang ketika marah. Kendati dapat memuaskan secara emosional, tetap saja perilaku ini bukan cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Apalagi jika tindakan itu sampai melukai pasangan Anda.

Oleh : Marsita Riandini

Hubungan dalam rumah tangga tak selalu berjalan mulus. Adanya perbedaan pendapat dan ketidakcocokan dalam hal tertentu sering kali memicu pertengkaran. Anda mungkin pernah menemukan pasangan yang ketika bertengkar, tak hanya perang dingin, adu mulut, tetapi juga melempar-lempar barang, bahkan sampai pada tindakan kekerasan.

Seperti yang dilakukan wanita yang meminta dipanggil Ifa. Ifa yang kini berusia 33 tahun ini mengaku kerap membanting barang ketika marah. Biasanya dia akan mencari barang-barang terdekat lalu melemparkannya. Bahkan, tak jarang melemparkan ke suaminya. Ini terjadi berulang kali.

Ifa merasa mendapat kepuasan tersendiri ketika melempar barang. Sering pula ia menyesal. Selain barang  yang dilempar menjadi rusak, sang suami pun kerap terluka karenanya.

Kondisi seperti rumah tangga Ifa ini biasa terjadi pada sebagian kecil suami istri. Beragam faktor yang melatarbelakanginya sehingga sulit bagi mereka untuk mengendalikan emosi. Dr. Fitri Sukmawati, M. Psi, Psikolog mengatakan melempar barang, entah itu barang pecah belah, barang elektronik, ataupun barang lainnya amat sangat tidak dianjurkan. Tindakan ini akan membawa pengaruh buruk dalam rumah tangga.

“Membanting atau melempar barang itu bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan dalam rumah tangga. Apalagi jika ini dilihat oleh anak, selain mereka bisa mencontohnya, juga bisa membuat anak menjadi trauma,” jelas Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalbar ini.

Fitri menuturkan membanting barang merupakan cara seseorang untuk meluapkan emosinya saat marah. Ada perasaan puas secara emosional yang mereka rasakan. “Ketika orang bertengkar, orang dalam kondisi yang meledak-ledak. Emosi ini kan bentuknya beragam, ada yang bisa terkontrol, ada yang tidak,” terangnya.

Jika tidak mampu mengontrol amarah dengan baik, itulah yang kemudian memunculkan emosi destruktif atau merusak. Tak hanya membanting barang saja, ada yang sampai melukai diri sendiri ataupun pasangannya.

Meskipun membutuhkan waktu yang lama, kebiasaan membanting barang ini sebenarnya bisa diubah. Sebab sudah semestinya ketika dewasa bahkan sudah menikah, seseorang bisa mengendalikan emosinya.

“Mengubah memang butuh proses. Artinya bukan berarti kita tidak boleh marah. Hanya saja bagaimana meluapkan amarah tersebut dengan bijak, tanpa merugikan diri sendiri, ataupun orang lain,” tutur dosen IAIN Pontianak ini.

Sikap pasangan pun harus bisa menahan diri saat suami atau istrinya marah dengan membanting-banting barang. Lihat pula kemana arah barang dilemparnya. Hati-hati jangan sampai dia melukai Anda.

“Ujung-ujungnya nanti kekerasan dalam rumah tangga. Tentu ini yang tidak diinginkan. Mungkin kalau sekadar barang yang dibanting bisa di beli lagi,” kata Ifa sembari menambahkan bahwa ketika orang dalam emosi yang meledak-ledak, tidak akan mendengar ketika dinasehati.

Kebiasaan membanting barang saat bertengkar ini juga dipengaruhi oleh kecerdasan emosi seseorang. Hal ini terkait pula dengan pola asuh semasa kecil. Dalam psikologi dikenal ada masa perkembangan. Pada masa anak-anak, dikenal istilah  tantrum. “Nah, pada kondisi ini reaksi anak pun beragam. Mereka bisa meluapkan emosinya dengan nangis berkepanjangan, mengguling-gulingkan badan. Ini membutuhkan peran orang tua dalam memberikan pola asuh yang tepat agar anak bisa mengendalikan emosinya,” paparnya.

Meskipun sepele, perilaku seperti kemauan untuk mengantri, mau meminta maaf ketika berbuat salah, mau mendengarkan ketika orang lain berbicara dapat melatih seseorang dalam mengendalikan emosinya. “Kalau orang tidak mau antri, ini biasanya saat marah pun tidak mampu mengendalikan emosinya dengan baik,” pungkasnya. **

-----------------------------------

Cara Menyelesaikan Masalah

Psikolog Fitri Sukmawati mengatakan ada berbagai cara bagi pasangan suami istri untuk menyelesaikan persoalan tanpa harus melakukan pertengkaran hebat, sampai yang bersifat merusak. Berikut yang bisa Anda lakukan :

*Memahami karakter pasangan

Setiap pasangan harus saling memahami. Dengan begitu, mereka bisa tahu apa yang tidak disenangi pasangannya, sebaliknya apa yang disukainya. Termasuk pula dalam menyelesaikan permasalahan. Tentunya harus saling memahami sifat satu sama lain. Sebab ada yang meluapkannya dengan amarah, ada pula yang memilih diam.

*Mencari waktu yang tepat

Carilah waktu yang tepat dalam menyelesaikan masalah, terutama ketika pasangan siap mendengarkan. Jangan memilih saat suami pulang kerja sebab kondisinya saat itu tentu melelahkan. Akan lebih baik tidak dilakukan di depan anak-anak.

*Toleransi dengan pasangan

Meskipun Anda dan pasangan sudah saling mengenal, saling memahami sifat satu sama lain, tetap harus saling toleransi. Walau bagaimana pun pasangan punya pandangan yang mungkin dianggap baik untuk rumah tangga.

*Lakukan evaluasi

Siapa bilang evaluasi hanya dilakukan di tempat kerja saja. Evaluasi juga penting dilakukan dalam rumah tangga, termasuk setelah bertengkar. Tak ada salahnya mengingatkan pasangan, terlebih jika saat marah meluapkan emosi yang bersifat merusak. Tentu saja evaluasi dilakukan saat kondisi tenang, tidak saling marah, dan pasangan pun siap mendengarkan. (mrd)

Berita Terkait