Melirik Bisnis Jamur yang Mulai Populer

Melirik Bisnis Jamur yang Mulai Populer

  Kamis, 18 February 2016 08:33

Berita Terkait

Pandai melirik sebuah peluang usaha setidaknya itu yang terlihat dari ketiga narasumber Pontianak Post kali ini. Meski latar belakang sekolah bukan dari pertanian, namun bidang tersebut justru mampu mengubah hidup mereka. Omzet belasan juta sebulan pun kini ada dalam genggaman. Apalagi ternyata, bisnis pertanian ini masih jarang dilakoni para wirausaha di Kalimantan Barat. Aristono, Pontianak

BISNIS jamur konsumsi sebenarnya cukup berkembang di sejumlah kota besar di Indonesia. Banyaknya permintaan menyebabkan jamur tiram menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Salah satu petani jamur tiram yang masuk dalam jamur untuk konsumsi adalah Purwanto. Pembudidaya di Mempawah ini menjelaskan bahwa pertama kali kita membuat kultur jaringan dengan mengambil daging jamur dengan cara dibelah.

Dari spora jamur yang diambil didapatkan bibit utama yang biasa dinamakan PDA. Satu botol PDA bisa menghasilkan 30 botol F1 yang menjadi pecahannya, kemudian satu botol F1 kembali menghasilkan 30 botol F2 dan satu botol F2 bisa digunakan untuk 30 baglog jamur tiram putih. “Sehari kita bisa produksi sekitar 500 baglog dengan berat 1,2 kilogram,” kata Purwanto.

Menurut dia, baglog akan tumbuh tunas pertama sekitar 45 hari dan bisa dipanen 3 hari berikutnya. Sedangkan 1 baglog bisa tumbuh jamur 8 sampai 9 kali untuk dipanen. Di rumah produksi jamurnya, Purwanto dibantu beberapa orang karyawan serta beberapa alat berupa mesin press baglog, steamer, dan ruang pembibitan yang tertutup rapat.

“Setelah kita sterilisasi maka baglog kita masukan ruang pembibitan, setelah dingin baru dimasukan bibit di ruang tertutup untuk meminimalisir bakteri atau spora jamur liar yang dibawa angin dan bisa mengkontaminasi jamur yang kita budidayakan,” jelas Purwanto.

Baglog yang diproduksi Purwanto kemudian disuplay ke Ardy, pengusaha muda jamur tiram di Pontianak. Dia membangun sebuah kumbung tempat berkembangnya jamur tiram putih yang siap disebar ke sejumlah konsumen. Dalam sehari, kumbung Ardy bisa menghasilkan jamur tiram putih minimal 10 kilogram. “Kita pasarkan ke supermarket, hotel, restoran dan pasar tradisional. Yah sehari omzet kita sekitar Rp 500 ribu,“ kata Ardy.

Menurutnya, kumbung yang digunakan merupakan bekas usaha ayam boiler yang pernah ditekuninya. Dikarenakan harga ayam yang tidak stabil, maka usahanya pun gulung tikar. Beruntung, ketika mulai beralih usaha, dia bertemu Mas Purwanto dan menjalin kerjasama bisnis jamur tiram. “Saya beli baglognya kembangkan di sini, jadi kita join-lah,” ungkapnya.

Beda halya dengan Sapta Taruna. Jika yang ain menjual jamur segar, dia lebih fokus pada pemasaran bibit jamur. “Jamur tiram memang masih besar peluang usahanya, kita tidak hanya bisa berbisnis di jamur segarnya saja, tapi bisa juga pada olahan jamur dan penjualan bibit,” kata pemerhati jamur yang menekuni usaha ini sejak 2008 lalu.

Sapta begitu memahami beragam jenis jamur yang ada di Indonesia. Layaknya seorang peneliti, dia memiliki laboratorium sendiri di kediamannya. Di sanalah, Sapta mempelajari cara mengatasi serangan bakteri atau spora jamur liar yang merusak tanaman jamur tiram usahanya. Namun ironisnya, Sapta ternyata bukanlah seorang sarjana pertanian sesuai bidang usaha yang digelutinya sekarang.

“Saya sebenarnya sarjana seni lukis. Waktu itu, saya kebetulan masih ngumpul sama seniman seni rupa di sana (Jawa,red) salah satu teman punya usaha sampingan, jadi selain galeri seni di samping rumahnya dia juga bikin rumah jamur,” ungkapnya.

Sayangnya, ketika itu Sapta sama sekali belum berminat untuk mengembangkan usaha tersebut. Namun dia tetap memperhatikan ketika diajari temannya membuat media tanam, dan cara membudidayakan tanaman ini.Hingga suatu waktu, ada yang mengundangnya mengikuti pelatihan budidaya jamur di Sulawesi. “Baru sadar begitu orangnya sudah meninggal baru kita terasa ilmunya itu ada gunanya,” kenang Sapta, mengingat teman semasa kuliahnya dulu yang kini telah tiada.

Setelah tertarik mendalami usaha jamur tiram, Sapta mulai mencari teman untuk menjalin kerjasama. Beruntung jejaring sosial mempertemukannya dengan orang-orang yang juga mulai merintis usaha jamur tiram, termasuk Purwanto. Karena sama-sama masih baru dalam bisnis pertanian ini, mereka pun kerap saling bertukar pikiran dan akhirnya memutuskan membuka usaha budidaya jamur tiram bersama di Kalbar.

“Waktu itu saya masih di Jawa, dari facebook lah kita kenalan dan ternyata Mas Purwanto ini tinggalnya dekat rumah juga di Pontianak. Yah saya ajak saja, yok kita buat rame orang Pontianak makan jamur biar sehat,” candanya sembil tertawa.Bak mata uang yang menyatu dan saling mengisi satu sama lainnya, pertemuan Sapta dan Purwanto mengubah hidup keduanya menuju kesuksesan. Mereka memadukan pengetahuan yang dimiliki dan bekerjasama membangun rumah produksi jamur tiram. (**)

Berita Terkait