Melihat Sekda Memanen Madu Alam Tikung Buatan

Melihat Sekda Memanen Madu Alam Tikung Buatan

  Sabtu, 23 January 2016 11:10
PENEN MADU : Kegiatan panen madu tikung di kecamatan Bunut Hilir.FOTO MUSTA’AN

Berita Terkait

Mendapatkan manisnya madu lebah, bisa dari mana saja. Yang terbaik, tentu saja dari alam. Demikian yang dilakukan oleh masyarakat Kapuas Hulu. Petani madu ini membuat tikung. Dari budidaya semacam ini ternyata hasilnya sangat luar biasa. Laporan Mustaan, Kapuas Hulu

YA, sebagian besar madu hutan yang dipanen masyarakat Kapuas Hulu berasal dari tikung. Tikung adalah dahan buatan (rafter) yang dipasang pada pohon-pohon rendah sebagai tempat lebah hutan (apis dorsata) membuat sarang.Kini budi daya madu hutan melalui tikung merupakan cara yang paling efektif untuk menarik minat lebah bersarang dan hasil madu bisa ratusan ton pertahun.

Tikung tersebut dipasang para petani madu di daerah danau yang tersebar disejumlah kecamatan di Kapuas Hulu seperti Embaloh Hilir, Bunut Hilir, Jongkong, Selimbau dan Suhaid.Kamis (21/1) Sekda Kapuas Hulu Ir. Muhammad Sukri bersama Direktur Pengembangan Usaha Kemitraan Lingkungan pada Kementrian LHK Ir. Masyhud MM berkesempatan untuk mengikuti panen madu alam tikung di kecamatan Bunut Hilir.

Tikung-tikung itu miliki petani madu yang tergabung dalam Asosiasi Petikung Bunut Singkar (APBS) di desa Bunut Hulu, kecamatan Bunut Hilir. Selain dihari oleh seluruh petani madu alam di kecamatan Bunut Hilir. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kadis Perkebunan dan Kehutanan Kapuas Hulu Drs. Abdurrasyid, M.M dan robongan Dirjend Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan serta swasta.

Panen madu milik APBS ini adalah rangkaian kegiatan Ekspo Madu Hutan Kapuas Hulu tahun 2016. Dalam kegiatan ini, Sekda berserta rombongan memantau langsung seluruh tahapan panen madu, pengolahan madu, mulai dari pengambilan tikung hingga pada proses pengemasan. “Pemda Kapuas Hulu terus mendorong agar produksi madu alam di daerah ini terus meningkat,” ungkap Sekda Sukri.

Dikatakan Sukri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah merubah mainset masyarakat. Dulunya program lebih pada pengolahan kayu, sekarang menjadi pengolahan hasil hutan bukan kayu (HHBK). “Dulunya kegiatan kayu banyak ilegal, kini berganti jadi legal dengan bertani lebah alam. Masyarakat melestarikan alam dan masyarakat sejahtera. Salah satu melalui madu tikung ,” katanya.

Menurutnya, potensi madu pada tikung-tikung sangat besar. Jika ada 1000 tikung yang dikelola, maka bisa menghasilan sektar 5 ton madu hutan. “Saya berharap kedepan masyarkat Kapuas Hulu terus memperluas areal pembudidayaan  madu hutannya,” pinta Sukri. Terkait pengembangan komoditi madu Pemda akan selalu mensuportnya agar masyarakat petani madu, maju dan sejahtera.

Sukri juga meminta Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kapuas Hulu mengupayakan pembangunan rumah produksi madu. Dari rumah produksi itu, madu asal Kapuas Hulu dipasarkan dalam satu lebel, tidak dari masing-masing asosiasi. “Kegiatan panen madu perlu disisipi kegiatan lain seperti wisata ekstream. Wisatawan yang datang, tidak minum madu dari botol, tapi langsung ke sarang,” ucapnya.

Kerena kesannya sangat ekstrem, wisatawan langsung bersentuhan dengan lebah dan merasakan keaslian madu dari pohon tentu akan sangat diminati. “Yang sifatnya ekstream lumayan diminati oleh para wisatawan,” jelasnya. Apalagi mungkin ini pertama kali didunia dimana wisatawan diberi kesempatan menum madu hutan di dalam hutan dan langsung mengisap madu disarang lebah. (*)

Berita Terkait