Melihat Gudang Penyimpanan Gula di Rupbasan Sanggau, Semut pun Tak Mau Mendekat

Melihat Gudang Penyimpanan Gula di Rupbasan Sanggau, Semut pun Tak Mau Mendekat

  Sabtu, 20 February 2016 12:04
GUDANG: Beginilah kondisi gudang penyimpanan gula rafinasi di Rupbasan Sanggau. Diruangan ini sama sekali tak terlihat semut berkeliaran. Jika pun ada, semut-semut ini mati akibat cairan gula itu. SUGENG/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Bau menyengat itu berasal dari tumpukan-tumpukan gula rafinasi yang ada digudang penyimpanan barang titipan. Aneh, tidak ada semut disana. Padahal semestinya gula dan semut merupakan bagian tak terpisahkan. Untuk mencari tahu, saya coba menemui Kepala Kantor Rumah Penitipan Barang Sitaan Negara (Rupbasan) Sanggau, Sugiharto. Lalu, seperti apa penjelasannya. SUGENG GONDRONG, Sanggau

SAAT saya tiba, pria yang biasa disapa Giarto ini sedang duduk di kursi ruang tunggu tamu. Gadget yang ada ditangannya, sibuk diotak-atik. “Sore pak,” tegur saya. “Ya, silahkan.” Saya kemudian masuk, mendekati beliau dan tak lupa berjabat tangan. Saya lantas mengambil posisi duduk tidak jauh dari pria berdarah jawa ini. Lama tak berjumpa, cara ngobrolnya yang blak-blakan masih tetap sama. Membuat suasana sore itu mengalir apa adanya.

Sambil santai, sesekali pembicaraan kami sedikit serius. Dengan gaya bicara blak-blakan dan humor, pembicaraan kami menjadi tak membosankan. Dengan begitu saya pun bisa sedikit demi sedikit bicara soal keingintahuan mengenai gudang penyimpanan gula rafinasi yang kabarnya tidak pernah ada semutnya.Tak berselang lama, Pak Giarto kemudian mengajak saya menuju ke bagian belakang bangunan Kantor Rupbasan melalui pintu samping. Saat itu kami berempat, selain saya dan Pak Giarto, kami juga ditemani salah satu pegawainya, Syarifudin dan satu orang lagi rekan saya. Ternyata, jarak gudang-gudang ini dengan bangunan kantor tidak jauh. Hanya beberapa meter saja.

Dilokasi itu, saya melihat ada dua bangunan gudang tertutup dan satu bangunan lagi terbuka. Untuk gudang tertutup, satu merupakan bangunan satu lantai. Sementara satu bangunan lagi berdiri dua lantai. Sedangkan yang dikatakan ‘gudang’ terbuka memang tidak dikelilingi dinding, tetapi ada atap untuk menghindari panas matahari dan juga hujan.Kami langsung menuju bangunan dua lantai itu. Disamping bangunan itu terlihat sisa-sisa karung dari gula rafinasi yang dimusnahkan beberapa waktu lalu. Pak Giarto kemudian menyuruh Syarifudin membuka kunci pintu gudang tersebut. Setelah dibuka, aroma tak sedap sudah mulai tercium. Aroma gula, itulah pastinya. Tetapi saya tidak tahu harus menyebutkan aroma itu dengan sebutan apa.

Didalam ruangan itu rata-rata tumpukan gula. Itulah dia gula-gula rafinasi yang banyak ditangkap aparat karena peredarannya dilakukan secara ilegal. Tanpa ada dokumen-dokumen resmi yang menyertai pengangkutannya. Gula-gula ini dititipkan ke Rupbasan Sanggau sampai dengan ada putusan pengadilan mengenai perkaranya. “Kalau kasusnya lama, ya lama disini,” ujarnya Kamis (18/2).

Selain tumpukan gula, dibeberapa sudut ruangan gudang dua lantai yang dibangun tahun 2006 ini juga tersimpan minyak goreng. Ada juga beberapa karung beras. Tetapi jumlahnya sedikit sekali. “Yang disini kebanyakan gula. Sama kayak digudang satu lagi yang disana, itu gula juga,” katanya. Dulu, tambah dia, diruangan itu penuh tumpukan gula. Saat ini sudah mulai berkurang karena sudah banyak juga yang dimusnahkan.

Sambil memanggil saya, Giarto menunjukkan bagian lantai yang rusak. “Tu loh liat lantainya udah rusak-usak. Retak dimana-mana.” Salah satu sebabnya ternyata cairan dari tumpukan gula-gula tersebut. Ruang tertutup dan suhu udara yang panas lama kelamaan membuat gula-gula ini mencair dan jatuh ke lantai. Dia memastikan tidak ada semut disini. “Justru disini nda ada semut. Coba jak cari kalau nda percaya.”

Dia awalnya juga heran, mengapa bisa demikian. Kemungkinannya, kandungan gula-gula rafinasi ini memang tidak sebaik gula lokal di Indonesia. Dia berpikir, mungkin hal ini juga yang menyebabkan gula rafinasi ini dilarang untuk dikonsumsi masyarakat. Karena memiliki efek yang berbahaya bagi manusia. “Mungkin begitu. Jadi semut pun nda mau dekat.”

Beberapa tahun lalu, kata dia, jumlah tumpukan gula cukup banyak. Dilantai banyak sekali cairan gulanya. Dia kemudian membuat lantai kayu untuk menghindari kerusakan lantai gudang tersebut. Memang sempat ada terlihat semut, tetapi jumlahnya tidak banyak. Dan semut-semut itu kemudian mati. “Dulu banyak sekali semut yang mati disini. Nah sekarang malah tidak ada,” ujarnya.

Kerusakan lantai digudang itu, selain karena gula yang mencair, juga disebabkan karena terjadinya banjir beberapa waktu lalu. Ditambah dengan struktur tanah yang labil. Tiga faktor ini saling menguatkan, sehingga jumlah retakan lantai semakin besar dan banyak.Saya pun tak sungkan menanyakan soal biaya perawatan untuk-gudang tersebut setiap tahunnya. Tanpa basa-basi, dia bilang kalau dana untuk perawatannya ada setiap tahun. Tetapi dia enggan menyebutkan nominalnya. Untuk anggaran perbaikan, dia mengakui bahwa sejauh ini memang belum ada.  “Perbaikan belum ada. Kalau rusak yang kecil-kecil kita benahi sesuai kemampuan,” katanya.

Terkait kendala yang masih dihadapi, Giarto bilang secara umum cukup. Hanya saja, dia masih memikirkan perluasan tempat penyimpanan barang titipan ini. Karena seperti yang terlihat kemarin, lokasinya sudah sangat sempit. Satu lagi, ujar dia, belum ada tempat untuk menyimpan barang titipan seperti bahan bakar. Saat ini, bahan bakar yang dititipkan terpaksa disimpan diluar ruangan. “Yang diperlukan memang untuk bahan bakar minyak. Jadi sementara disimpan di tempat terbuka. Perawatan barang titipan ini paling tidak dilakukan dua minggu sekali. Biaya perawatannya setiap tahun hanya sebesar Rp12 juta dengan kondisi barang titipan yang semakin tahun semakin banyak,” ungkapnya seraya mengatakan untuk gula saja ada sekira 1500an karung.

Sambil berjalan menuju kembali ke ruangan depan, kami masih saling berbincang mengenai sejumlah hal. Sampai diruangan depan, jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Saya kemudian mohon diri kepada Pak Giarto.Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya tanyakan kepadanya. Namun, keterbatasan waktu membuat saya harus segera beranjak dari hadapannya. Saya kemudian berpamitan dan menyalaminya untuk kemudian meninggalkan Pak Giarto dan Pak Syarifudin yang mengantarkan saya sampai pintu depan kantornya. (*)

Berita Terkait