Melawan Dominasi Inggris

Melawan Dominasi Inggris

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30
Javier Tebas

Berita Terkait

MADRID-Presiden La Liga Javier Tebas tersenyum dengan puas akhir musim 2015-2016 lalu. Sebab 'dua raja' Eropa musim lalu adalah klub liga yang dikelolanya. Real Madrid kampiun di Liga Champion dan Sevilla juara Europa League. Selain Real dan Sevilla masih ada ikon-ikon La Liga lainnya yang cukup fenomenal seperti Barcelona. Lionel Messi dkk pastinya memiliki fans dari seluruh penjuru dunia. 

Makanya ketika bertemu chairman Nigeria's League Management Company Shehu Dikko akhir Juli lalu, Tebas sangat pede. Seperti diberitakan EFE, La Liga membuka kantor perwakilan keduanya di Afrika. Tepatnya di Abuja, Nigeria. Padahal November tahun lalu La Liga sudah memiliki kantor perwakilan di Johannesburg, Afrika Selatan. Dengan agresifnya La Liga dalam mengekspansi 'wilayah' tersebut bisa dibaca kalau pengelola liga Spanyol itu memang tak main-main mengembangkan brand miliknya. 

Tebas seperti diberitakan Marca mengatakan akan melakukan inagurasi pembukaan kantor La Liga di Abuja dengan laga persahabatan. Yakni menggelar laga Valencia versus Nigeria All-Star pada 10 Agutus mendatang. “Bahkan tim sekelas Barcelona pun suatu saat akan datang ke Nigeria. Dan itu akan menunjukkan betapa bergengsinya NPFL (Liga Nigeria, red.) disini,” kata Tebas. 

Kantor La Liga di Abuja ini menjadi kantor kelima La Liga di luar Spanyol. La Liga memiliki kantor representasi di New York (AS), Shanghai (Tiongkok), Dubai (UEA), dan Johannesburg (Afsel). Tebas kepada Variety pun mengatakan kalau La Liga memang sedang di posisi apik menuju pasar sepak bola global. Misalnya saja hak siar La Liga pada musim 2015-2016 terjual diangka EUR 615 juta (Rp 8,99 Triliun). 

Harga itu jauh lebih mahal ketimbang prediksi awal yang diperkirakan  mencapai angka EUR 600 juta (Rp 8,77 Triliun). Memang kalau dibanding Premier League di Inggris yang angka hak siarnya hingga 2019 mendatang ada di angka Rp 88,7 Triliun, hak siar La Liga rendah.“Menjadi bagian dari globalisasi adalah satu keharusan yang tak bisa disangkal lagi. Kami harus mengekspor brand dari La Liga itu sendiri,” tutur Tebas. 

Tebas pun mengakui misal adanya sentralisasi hak siar yang dipegang oleh La Liga membuatnya lebih  mudah menjual brand  La Liga. Karena kalah start inilah maka Premier League menurut Tebas lebih laku dijual ke seluruh penjuru dunia. Kalau boleh jujur, merangkaknya La Liga menjadi kompetisi yang serius menjadi penantang Premier League adalah berkat rivalitas dua raksasanya. Yakni Real Madrid dan Barcelona.

Variety menulis tiga kandidat peraih FIFA Ballon d'Or tahun ini, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Neymar, yang semuanya dari Spanyol cukup menunjukkan bagaimana La Liga memang dominan. Dalam situs resmi La Liga, Tebas pun mengatakan Johannesberg akan menjadi sentral dan percontohan bagi Abuja. Misalnya dalam hal program pengembangan pemain muda. 

Di program Future Champions yang sudah bergulir, sebanyak 10 ribu anak-anak di Johannesberg dan Afsel akan mendapat football clinic dari La Liga plus kesempatan bertanding. Dari seluruh peserta nanti akan dipilih tiga pesepak bola kecil di bawah usia 15 tahun yang mendapat pelatihan sepak bola di Spanyol. Manajer pemasaran La Liga Vicente Casado kepada Marca pun menggaris bawahi jika Nigeria ini adalah pasar yang potensial buat perkembanga La Liga. Dari total 182 juta penduduk Nigeria, 15 juta diantaranya menonton La Liga. 

“Bahkan karena kesulitan mendapatkan siaran televisi, maka penduduk Nigeria menyaksikan melalui tayangan streaming di handphone mereka,” terang Cadaso. Kemudian strategi lain yang dilakukan La Liga selain membangun kantor adalah memilih sosok yang kuat sebagai represntasi mereka di kantor tersebut. (dra)

Berita Terkait