Melawan Derita Tujuh Tahun

Melawan Derita Tujuh Tahun

  Selasa, 29 March 2016 09:28

Berita Terkait

Paraguay vs Brasil

ASUNCION – Tidak perlu menunggu lawan Argentina dalam Superclasico de las Americas untuk melihat Brasil menderita. Cukup menyodorkan nama Paraguay saja sudah membuat Selecao – julukan timnas Brasil – kehilangan akal untuk berpesta. 

Karena, Paraguay terbukti selalu menjadi batu ganjalan bagi Brasil di beberapa tahun terakhir. Hampir tujuh tahun lamanya Brasil selalu kesulitan membekuk Los Guaranies – julukan timnas Paraguay. Rekornya, sekali hasil imbang dan dua kali kalah penalti. 

Penderitaan keempat diprediksi akan didapatkan Brasil ketika bertamu di Estadio Defensores del Chaco, Asuncion, besok pagi WIB. Ambisi Dunga mengamankan top three dalam kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Conmebol nanti. 

Hanya victory yang akan membantu upaya Joao Miranda dkk tersebut. ’’Dan itu tidak akan mudah. Kami harus bermain lebih bagus lagi ketimbang di laga lawan Uruguay lalu. Paraguay pasti akan menyiksa kami,’’ ujar Luiz Gustavo, gelandang Brasil, sebagaimana dikutip dari situs resmi CBF. 

Handicap Brasil bukan hanya kesulitan dalam memenangi laga away. Dari dua kali bertamu, sekali imbang dan sekali tumbang. Brasil pun mesti menghadapi kondisi déjà vu tanpa winger sekaligus kapten timnya Neymar da Silva Santos Jr.

Sebab, dua kali kekalahan Brasil atas negara tetangganya itu didapat pada saat tidak ada Neymar di dalamnya. Terakhir, di perempat final Copa America 2015 lalu Paraguay menyingkirkan juara lima kali Piala Dunia itu dengan skor 3-4 setelah berimbang 1-1 dalam waktu normal.

Neymar saat itu absen karena mendapatkan sanksi larangan bermain empat laga dari Conmebol. Sekarang, winger Barcelona tersebut mendapat larangan bermain satu laga karena akumulasi kartu kuning. Nah, Brasil pun harus menghadapi Neymar dependencia lagi. 

Berbekal pengalaman menghadapi Cile (9/10) dan Venezuela (14/10), Dunga berupaya mereduksi Neymar dependencia itu. Sebagaimana dilansir Fox Sports Brasil, Dunga pada sesi latihan di Granja Comary, Teresopolis, Rio de Janeiro, Minggu petang waktu setempat atau Senin dini hari kemarin WIB (28/3) sudah menjajal dua opsi formasi tanpa Neymar.

Pertama tetap memakai 4-1-4-1 dengan Ricardo Oliveira sebagai lone striker. Atau beralih menggunakan 4-3-3 dengan trio Willian, Oliveira dan Douglas Costa. ’’Yang paling penting, kami harus mewaspadai bola-bola panjang Paraguay,’’ ungkap pemain yang bermain di Wolfsburg itu.

Inilah tugas Miranda yang memang dikenal sebagai pemain dengan jago udara terbaik di klub dan timnas. Tapi, Miranda tidak ditemani David Luiz yang juga terkena akumulasi kartu. Dunga akan memainkan kolaborasi Miranda-Gil di sentral pertahanannya. 

Paulo da Silva dkk diprediksi tetap mengandalkan bola-bola atas jika ingin menjebol gawang lawan. Opsi itu sukses menahan Ekuador di Quito 2-2, 25 Maret lalu. ’’Kalau kesempatan itu ada, saya akan menjebol gawang Brasil lewat tendangan bebas,’’ koar striker Paraguay, Dario Lezcano dalam situs resmi Conmebol. 

Dalam laga melawan Ekuador, Lezcano memborong dua gol negara berperingkat 47 FIFA itu. Sebagai pemain yang sudah sering menghadapi Brasil dan Neymar-nya, Justo Villar tidak menganggap Neymar dependencia ini sebagai kans bagus bagi Paraguay. Justru bisa sebaliknya. 

Yang menjadi kekuatan Paraguay adalah kedalaman skuadnya. ’’Saya rasa Brasil tetaplah Brasil. Tidak ada yang berbeda dari tahun lalu. Dan kami punya skuad yang bisa mengalahkan Brasil,’’ koar penjaga gawang berusia 38 tahun itu. 

Dibandingkan dari skuad yang menyingkirkan Brasil tahun lalu, tidak banyak perubahan dalam skuad Paraguay. Tidak lebih 20 persen perubahan di dalam starternya. ’’Untuk kali ini, bukan imbang yang kami incar. Tetapi bermain lebih kuat di kandang, dan menang,’’ imbuhnya. (ren)

Berita Terkait