Mekar Laba dari Bunga Mei Hwa

Mekar Laba dari Bunga Mei Hwa

  Sabtu, 30 January 2016 08:27
KEUNTUNGAN LEBIH : Menjelang perayaan Imlek, sejumlah toko yang menjual pernak-pernik Imlek bisa mendapatkan keuntungan berlimpah. Seperti halnya di Toko Doraemon yang di depan tokonya terpampang bunga meihwa dan aksesoris lainnya. FOTO: MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Jelang perayaan Imlek, suasana toko-toko aksesoris berubah menjadi lebih cerah dengan warna merah yang mendominasi. Bisnis pernak-pernik Imlek ini memang menguntungkan, sebab permintaannya yang tinggi. Oleh : Marsita Riandini

Perayaan Imlek tak lama lagi. Masyarakat Tionghoa yang menjalankannya mulai mempersiapkan segala keperluan menyambut hari spesial tersebut. Tak terkecuali ragam aksesoris menarik untuk menambah kemeriahan. Salah satunya ada replika bunga mei hwa.

Replika pohon berbunga merah muda ini sekilas mirip dengan bunga Sakura yang ada di Jepang. Bunga-bunga ini terpajang indah di toko-toko yang menjualnya. Seperti yang terpajang di Toko Doraemon. Setiap tahunnya, menjelang Imlek toko ini selalu dipenuhi dengan pernak-pernik Imlek. Dengan seketika toko tersebut berubah suasana menjadi warna merah. Mulai dari gantungan kecil, tempat angpau, hingga lampion pun tersedia. Namun yang lebih mendominasi penjualan adalah bunga mei hwa. Bunga ini dipesan dari Jakarta. Kisaran harga yang ditawarkan cukup bervariatif.

Setiap tahunnya permintaan kian menjanjikan. Tak heran bila toko ini tetap setiap berjualan sejak pernak-pernik Imlek sejak tahun 1994. Jika ingin membuat pohon mei hwa sendiri, maka bisa membeli bunga mei hwa-nya saja. Satu kantong plastik dihargai 20 ribu rupiah.

Tapi bila tak ingin repot, di toko ini juga menyediakan pohon mei hwa. Berbisnis pohon mei hwa dilakukannya sejak tahun 1997. “Saya melihat permintaan begitu banyak. Makanya tertarik pula membuat dan menjualnya,” jelas  Triyono, pemilik Toko Doraemon jalan Gusti Sulung Lelanang ini.

Dia mengaku untuk membuat pohon ini sebenarnya tidak begitu sulit. Bahkan dia pun awalnya melihat-lihat cara orang membuatnya. “Awalnya itu jalan, lihat orang membuatnya. Coba bikin, ternyata bisa dan laku,” papar dia. Setiap tahunnya, kata dia pohon yang terjual bisa mencapai lima puluh hingga seratus pohon. Tetapi banyak tidaknya permintaan juga menyesuaikan ekonomi masyarakat. “Ekonomi masyarakat khan tidak menentu. Makanya penjualan juga menyesuaikan. Semakin bagus ekonomi masyarakat, semakin banyak permintaan,” tutur dia.

Pohon mei hwa bisa dijual dengan beragam ukuran. Untuk ukuran dua meter, harga jual bisa mencapai dua juta rupiah. “Kadang ada yang pesan ukuran 2 meter. Harganya itu dari satu juta setengah sampai dua jutaan. Sementara untuk ukuran yang kecil dimulai dari harga 200 ribu rupiah,” ucapnya.

Bahan baku pembuatan tidaklah sulit. Selain kuntum bunga yang memang sudah tersedia, dia hanya membuat ranting pohonnya saja. “Kami menggunakan pohon jambu. Tinggal dirakit saja menjadi pohonnya, lalu kasih bunga,” jelasnya.  Penjualan semakin banyak pada 10 hari mendekati perayaan Imlek. Tetapi untuk penjualan, dia menyarankan menyesuaikan toko. “Kalau stoknya terlalu banyak, susah simpannya, sebab dia makan tempat. Jadi buatnya pun menyesuaikan kondisi di toko juga,” ucapnya.Jika tidak laku, lanjut Triyono, bisa disimpan dengan rapi, untuk di jual tahun depan. “Simpan dengan rapi. Makanya tidak stok banyak-banyak di toko,” pungkasnya. **