MEA DAN TANTANGAN DUNIA KERJA

MEA DAN TANTANGAN DUNIA KERJA

  Rabu, 22 June 2016 08:57   1

Oleh: Tan Hardimansyah 

MEA singkatan dari Masyarakat Ekonomi Asean, atau bahasa inggrisnya AEC (Asean Economic Community) adalah sebuah agenda integrasi ekonomi negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk menghilangkan, jika tidak, meminimalisasi hambatan-hambatan di dalam melakukan kegiatan ekonomi lintas kawasan, misalnya dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi. Konsekuensinya, sebagai sebuah negara dengan jumlah penduduk / konsumen terbesar yaitu 260an juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar yang sangat menjanjikan bagi pengusaha – pengusaha maupun pekerja – pekerja dari negara  ASEAN untuk mengeruk keuntungan jika kita tidak mampu bersaing dengan mereka. 

Pembahasan mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), makin hari makin hangat dibicarakan oleh berbagai kalangan masyarakat, baik itu media, pengusaha maupun pemerintah. Tidak sedikit di antara mereka mempertanyakan apa yang perlu disiapkan untuk menghadapi tantangan MEA ini, salah satu hal yang mesti dikuasai oleh individu paling tidak adalah penguasaan bahasa Inggris. Tapi sayangnya kesadaran dan kesiapan di kalangan masyarakat tentang MEA ini sepertinya masih cukup mengkhawatirkan.

Beberapa waktu yang lalu penulis mengikuti sebuah seminar pendidikan internasional dengan tema “Kesempatan Dan Tantangan Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kab. Sambas, seminar ini menghadir kan 2 pembicara / narasumber yaitu seorang Profesor dan guru besar dari FKIP UNTAN Pontianak, dan satu orangnya lagi adalah seorang Dosen S3 dari perguruan tinggi Negara tetangga Malaysia. Dalam pemaparannya kedua nara sumber tersebut sepakat mengatakan bahwa masyarakat Indonesia secara umum masih memiliki kompetensi dan kemampuan yang rendah untuk bersaing dengan negara – negara tetangga ASEAN lainnya, salah satu penyebabnya adalah hambatan dalam berkomunikasi yaitu penggunaan bahasa inggris. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri, Salman Al-Farisi, di Hotel De Margo, Depok, Senin malam, 2 Mei 2016 "Penggunaan bahasa Inggris masih minim," demikian ujarnya. 

Perlu diketahui bahwa Bahasa Inggris masih menjadi suatu tantangan terbesar bagi siapapun yang ingin migrasi atau mobilisasi antar negara baik itu dalam rangka mengenyam pendidikan tinggi, perjalanan bisnis, memperoleh pekerjaan bahkan sekedar untuk jalan – jalan ke luar negeri. Kenyataannya banyak sekali masyarakat Indonesia yang belum bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kita juga sebagai warga Negara Indonesia harus mulai meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris agar tidak ketinggalan dengan negara lain seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan Filipina yang telah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dalam  keseharian mereka. 

Ada tiga alasan besar kenapa bahasa Inggris penting dikuasai oleh masyarakat dalam persaingan MEA ini. Pertama, bahasa Inggris ini dipakai sebagai media untuk mencari ilmu. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik dan benar, maka dengan mudah seseorang dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan baru di bidang tertentu. Kedua, bahasa Inggris membantu mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak perusahaan nasional dan internasional mensyaratkan kepada peserta untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara lancar dan memiliki nilai TOEFL minimal 550. Ketiga, bahasa Inggris membantu seseorang mempromosikan produk lokal di kancah internasional. Sebagai contoh, petani yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris berkesempatan mempromosikan hasil pertaniannya ke masyarakat internasional, baik lewat kegiatan formal seperti konferensi dan seminar, maupun lewat kegiatan informal semisal promosi lewat sosial media.

Belajar bahasa inggris sudah saatnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi keberadaan bahasa daerah dan nasional kita. Tentunya kita bisa menempatkan kapan menggunakan bahasa daerah, kapan kita berbahasa Indonesia dan kapan kita berbahasa Inggris. Bahasa Inggris yang sudah menjadi lingua franca globalisasi bukanlah kita pelajari sebagai bahasa pengganti bahasa nasional, namun posisinya adalah sebagai alat yang penting dalam ekonomi, pendidikan dan bisnis. Dengan kata lain, secara umum , kita berbahasa Inggris karena alasan ekonomi. Masyarakat Indonesia mestilah bekerja keras dan berkemauan tinggi untuk mempelajari Bahasa Inggris sebagai bekal dalam menghadapi masa depan yang menyuguhkan persaingan antar bangsa, tidak lagi hanya sekedar sesama anak negeri. Mari kita lihat Tiongkok, Russia dan Brazil yang bukan negara berbahasa Inggris, masyarakatnya percaya kemampuan berbahasa Inggris membawa mereka pada kesempatan baru di dalam negri dan bahkan luar negri. Dalam sebuah penelitiannya Christopher McCormick, seorang peneliti dari EF research ,menjelaskan bahwa negara-negara dengan bahasa Inggris yang lebih baik berakibat pada ekonomi yang lebih baik. Christopher menepatkan posisi Singapore sebagai contoh negara dengan English Proficiency Index tinggi dengan Gross National Income Per Capita yang tinggi juga. Posisi ini berada jauh diatas Brazil dan India. 

Pertimbangan lainnya juga adalah, saat ini pemimpin bisnis memilih negara mana yang masyarakatnya berusaha memperbaiki kemampuan bahasa Inggris untuk menarik investasi global sesuai dengan bisnis yang akan mereka lakukan. Negara mana yang dapat merekrut orang-orang yang bisa bekerja untuk sebuah lingkungan internasional, dan dinegara mana mereka bisa merelokasi karyawan mereka yang merupakan penutur bahasa Inggris. Pertanyaan pertanyaan tersebutlah yang harus dijawab dan direbut sebagai kesempatan oleh Indonesia dengan segera. Karena tentunya diantara negara ASEAN Indonesia harus bersaing dengan negara – negara seperti Singapore, Malaysia, Phillipines dan Brunei dimana masyarakat mereka telah terbiasa dalam berbahasa inggris.

Sudah selayaknya kita membangun kesadaran dalam diri kita, anak – anak kita dan siswa - siswi kita, untuk dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam menghadapi persaingan di masa yang akan datang, jangan biarkan mereka menghabiskan waktu mereka dengan berlena lena karena menganggap kondisi saat ini yang kelihatannya masih “adem – adem” saja. Kebutuhan akan keterampilan kerja yang sesuai dengan tuntutan jaman, sebagaimana dipaparkan di atas, akan langsung terasa ketika mereka telah terjun dalam dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan mereka. Jangan sampai kelak ketika mereka hendak melamar pekerjaan, ketika hampir semua persyaratan telah terpenuhi, mereka terkendala dengan satu persyaratan berikutnya, yaitu harus mampu berbahasa Inggris. ** 

Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Tebas