MEA dan Pendidikan Konstektual Antisipatif

MEA dan Pendidikan Konstektual Antisipatif

  Kamis, 28 January 2016 09:04   2,195

 Oleh: Y Priyono Pasti ERA Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)  yang merupakan bentuk realisasi integrasi ekonomi di kawasan Asean sudah kita masuki. Meskipun term utamanya adalah penyatuan pangsa pasar bersama di antara 7 negara anggota Asean dalam bidang ekonomi, tetapi mainstream penyatuan MEA tersebut akan berdampak luas pada seluruh dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di republik ini, tak terkecuali di bidang pendidikan. Bagaimana jagat pendidikan kita menyikapi MEA tersebut?

Menyikapi situasi yang demikian, hemat penulis, tidak ada pilihan lain kecuali menguatkan ketangguhan (karakter) dan mempersiapkan anak dengan berbagai persyaratan global agar mereka dapat dan tetap eksis. Di era MEA dengan segala dampaknya itu, anak (siswa) mesti memiliki ketangguhan yang kuat, berkarakter, punya integritas, beretos kerja tinggi, dewasa mandiri, beretika, bermoral, berperilaku santun, jujur, disiplin, bertanggung jawab, punya visi dan wawasan jauh ke depan.

Karakteristik dasar yang harus dimiliki anak dalam era global antara lain kemandirian, kepekaan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama secara profesional. Ini mengingat aspek informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi menjadi ciri (paradigma) belajar abad 21. Dengan demikian, anak akan mempunyai etos yang kuat untuk tetap bertahan, tidak hanyut terseret oleh gelombang perubahan dan kehilangan arah.

Pada titik inilah pentingnya pendidikan kontekstual antisipatif yang berwawasan makro. Agenda pendidikan kita yang sampai hari ini masih berkutat pada masalah-masalah teknis mikro: soal didaktik, metodik, silabus, AMP, SP, RP, dan beragam hal teknis administratif lainnya harus dieliminir dan diubah ke arah pendidikan yang berwawasan makro yang mengaitkan permasalahan pendidikan dengan persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, moralitas, persepsi publik, dan HAM. Dengan demikian pendidikan kita tidak menjadi objek permainan arus zaman tetapi menjadi subjek yang mampu mengantisipasi dan mengelola perubahan zaman.

Dalam konteks pendidikan, persoalan mendasar yang mesti dilakukan adalah mengubah cara berpikir (mindset-paradigma) kita. Cara berpikir lama harus diubah menjadi cara berpikir baru. Ini penting agar kita mampu mereformasi cara pembelajaran lama yang konvensional-tradisionalistik-statis menjadi pembelajaran yang kontekstual adaptif-antisipatif-dinamis.

Meminjam Paulo Freire, model pendidikan lama yang mengedepankan relasi monolog-otoriter diganti dengan model pembelajaran yang demokratis-dialogis. Proses pembelajaran harus diubah secara kolaboratif dan kooperatif antara siswa dan guru. Pembelajaran tidak lagi hanya verbalistik, demi UN, demi ijazah, dan intelektualistik oriented, tetapi pembelajaran yang utuh manusiawi yang memperhatikan perkembangan fisik-psikis-moral-iman peserta didik (bdg. A. Samana, 2000).

Perubahan paradigma ini menuntut penggunaan strategi pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Proses pembelajaran bukan hanya dalam bentuk pemrosesan informasi, akan tetapi harus dikembangkan sedemikian rupa agar mampu mengembangkan sumber daya manusia kreatif yang adaptif-antisipatif terhadap tuntutan yang berkembang.

Proses pembelajaran hendaknya memungkinkan siswa membangun pengetahuannya secara mandiri dan bertanggung jawab. Peserta didik didorong untuk berefleksi dan berafeksi, mengembangkan daya kreatifnya agar aktivitas hidupnya menjadi lebih positif, produktif, dan konstruktif. Pembelajaran mesti mengacu pada “act of cognition” dan “problem posing”, yang menjawab hakikat kesadaran, yaitu intensionalitas: sadar akan , terjadi kesadaran sebagai kesadaran atas kesadaran, bukan hanya pengalihan informasi apalagi penjejalan dan pemaksaan informasi.

Proses pembelajaran harus memungkinkan anak mandiri dalam kebersamaan dengan orang lain. Saling ketergantungan profesional yang merupakan ciri penting abad informasi dan globalisasi harus ditanamkan kepada anak sejak dini agar mereka terbiasa bekerja sama dan saling tergantung secara profesional dan mutualistik.

Di sinilah adanya pendidikan kontekstual antisipatif menjadi penting. Pergeseran paradigma belajar abad 21 yang mengedepankan aspek informasi (tersedia dimana saja, kapan saja), komputasi (lebih cepat memakai mesin), otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin), dan komunikasi (dari mana saja ke mana saja) menuntut perubahan model pembelajaran.

Pada aspek informasi, pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberitahu. Pada aspek komputasi, pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Aspek otomasi, pembelajaran diarahkan untuk melatih peserta didik berpikir analitis (pengambilan keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin). Dan pada aspek komunikasi, pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Di tengah tuntutan pentingnya pendidikan antisipatif tersebut, sikap, peran, dan fungsi kita sebagai guru juga mesti berubah. Kita sebagai guru mesti mereposisi peran dan fungsi kita sebagai guru. Jika selama ini para guru secara diam-diam terjebak ke dalam konservatisme dan antagonisme pendidikan –karena telah menjadi ‘pegawai pendidikan’ di sekolah- hendaknya menyadari bahwa mentalitas ‘pegawai pendidikan’ tersebut tak mungkin lagi dipertahankan saat ini.

Kini, guru harus mahfum bahwa ilmu berkembang dan berubah begitu cepat. Konsep klasik bahwa guru sebagai pengantara yang menyampaikan pengetahuan sudah tidak memadai lagi. Ilmu tak dapat lagi disampaikan hanya dengan ‘diajarkan’ atau’pengajaran’ tetapi juga ‘dialami’ atau ‘pengalaman’. Ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga ‘dilibati’. Itulah sebabnya guru penting untuk terus belajar dan menjadi pembelajar.

Menurut Sindhunata (2000), guru harus senantiasa belajar. Jika tidak, mereka akan kedodoran mengikuti kemajuan murid-muridnya. Guru harus terus-menerus belajar agar ia, tidak saja mampu mengantarkan pengetahuan kepada siswanya, tetapi juga mengembangkan bakat, membentuk kemampuannya untuk mengerti, menilai, dan menyimpulkan serta memberikan bahan pengajaran yang dapat membantu siswa untuk mengembangkan fantasinya, empatinya, dan hasrat-hasratnya.

Dalam tataran implementasi, agar pendidikan kontekstual antisipatif itu dapat berlangsung secara efektif, model pembelajaran yang harus dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama, model pembelajaran yang tekanannya pada isi dan kebenaran informasi diubah menjadi model pembelajaran yang lebih memberikan penekanan pada Bagaimana Belajar (learning how to learn).

Kedua, dari pembelajaran sebagai suatu hasil, batas, diubah menjadi pembelajaran yang menekankan pembelajaran sebagai proses, sebuah perjalanan panjang. Ketiga, dari struktur hierarkis dan kuasa diubah menjadi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dan guru saling melihat sebagai pribadi yang unik, utuh, dan potensial bukan peran.

Keempat, dari prioritas pada penampilan menjadi model pembelajaran yang memberikan prioritas pada pemahaman diri sebagai kunci untuk kesuksesan dalam pembelajaran. Kelima, dari mengecilkan pola pikir divergen dan prakiraan menjadi pembelajaran yang menghargai pola pikir prakiraan dan divergen sebagai bagian proses kreativitas, dan keenam, dari guru sebagai instruktur dan penyuntik ilmu pengetahuan menjadi model pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pendamping belajar peserta didik untuk optimalisasi kemanusiaan manusia peserta didik.

Hemat penulis, manakala unsur-unsur mendasar/penting tersebut (pendidikan kontekstual-antisipatif dan guru yang up to date profesional) dapat dipenuhi, peserta didik akan memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Peserta didik akan mampu lebih baik melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) apa yang diperoleh/diketahui setelah mereka menerima materi pembelajaran. Mereka pun akan lebih kreatif, inovatif, lebih produktif, serta mampu menghadapi rupa-rupa tantangan dan persoalan zaman. Semoga!

 

*Penulis Seorang Pendidik

Alumnus USD Yogyakarta

Humas SMP santo F. Asisi

Tinggal di Kota Pontianak