Mayoritas Warganya Pernah Kerja di Malaysia

Mayoritas Warganya Pernah Kerja di Malaysia

  Selasa, 26 April 2016 09:10
LENGANG : Desa Serumpun Buluh Kecamatan Tebas yang terlihat lengang. Kebanyakan penghuninya pernah bekerja di Malaysia.OZY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Kalau mau tau kisah bekerja di Malaysia, datang ke Desa Serumpun Buluh, Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Bagaimana tidak, sebelum tahun 2010. Hampir setiap rumah di desa tersebut, ada anggota keluarga bekerja di Malaysia. Bahkan perangkat desa setempat pun mengaku pernah menjadi TKI di negeri Jiran. FAHROZI- Sambas

TAK susah untuk sampai di Desa Serumpun Buluh. Termasuk akses jalan yang cukup baik ke salah satu desa di Kecamatan Tebas ini. Masuk dari Desa Sei Kelambu, kemudian melewati jalan batu yang di kanan kirinya merupakan sawah. Desa tersebut bisa ditemukan.

Meski demikian, desa yang yang memiliki jumlah penduduk, laki-laki sebanyak 1.151 jiwa dan perempuan 1.093 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 623. Mayoritas warganya pernah bekerja di Malaysia.

Diceritakan mantan TKI yang bekerja di Malaysia, yang saat ini menjadi Sekretaris Desa Serumpun Buluh, Nurasikin. Di 2010 ke bawah, hamper setiap rumah ada anggota keluarganya yang bekerja di Malaysia. Mereka bekerja di perusahaan sawit, pabrik, pabrik kayu atau tempat kerja lainnya yang memang saat itu (dibawah 2010), perusahaan perusahaan di Malaysia banyak memerlukan tenaga kerja.

“Hampir setiap rumah, ada yang bekerja di Malaysia. Bahkan ada yang dua atau tiga orang di dalam satu rumah,” kata Nurasikin.

Termasuk dirinya, dan perangkat desa Serumpun Buluh. Hampir semuanya pernah bekerja di Malaysia.

“Kita yang di Kantor Desa ini hamper semuanya mantan TKI di Malaysia. Kecuali Kepala Desa lah, yang tak

pernah kerja di Malaysia. Tapi untuk yang lain, rata-rata pernah bekerja di Malaysia,” katanya.

Hal ini dilakukan, termasuk dirinya. Untuk memperbaiki tingkat perekonomian rumah. Dan kebanyakan tujuan itu pun tercapai, jika sudah bekerja di Malaysia. “Kalau untuk keberhasilan secara ekonomi, rata-rata warga desa ini berhasil. Ini bisa dilihat dari bangunan rumah yang semakin bagus setelah ada anaknya atau anggota keluarga

bekerja di Malaysia,” katanya.

Namun lambat laun, atau sekitar 2010 ke atas. Kondisi tersebut berubah. Banyak warga, khususnya anak-anak karena kesadaran orang tua. Setelah lulus sekolah tingkat SMP atau SMA. Melanjutkan pendidikan kembali.

Kemudian banyak juga lulusan sekolah, menjadi tenaga honorer, atau bekerja di perusahaan sawit di daerah Sambas. “Banyak juga yang sudah menjadi pegawai, jadi tenaga honor atau warga sudah memilih lebih baik kerja di daerah sendiri ketimbang di Malaysia,” katanya.

Meski demikian, dirinya tak menampik. Kalau sampai sekarang masih ada warga desanya yang bekerja di Malaysia.

“Kalau sekarang, masih ada. Tapi jumlahnya sedikit. Jika dibandingkan sebelum tahun 2010,” katanya. (*)

Berita Terkait