Maut di Perlintasan Angke , 18 Orang Tewas, Enam Luka

Maut di Perlintasan Angke , 18 Orang Tewas, Enam Luka

  Senin, 7 December 2015 10:23
Hancur berkeping Metromini B80 jurusan Grogol-Kalideres usai terjadi tabrakan dengan kereta di perlintasan Angke, Tambora, Jakarta, Minggu (6/12/2015). Sebanyak 13 orang dilaporkan tewas. Foto Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Berita Terkait

JAKARTA- Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi. Kali ini tabrakan antara Kereta Api Commuter Line jurusan Jatinegara -Bogor dengan Metromini B 7760 FD jurusan Jembatan Lima -Kalideres di perlintasan Angke, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat Minggu pagi (6/12). Dalam insiden tersebut ada 18 orang meninggal dan 6 orang mengalami luka berat.

Menurut keterangan penjaga pintu perlintasan Endang Supriyadi yang memang sedang jaga saat kecelakaan maut itu mengaku kalau palang pintu sudah tertutup. Ia pun sempat teriak-teriak kepada sang sopir kalau KRL akan melintas di jalur 2, namun hal itu tak dihiraukan.

Metromini itu tetap memaksa masuk meski palang hanya menutup 3/4 jalan. Bus kota warna jingga itu lalu terperangkap di tengah-tengah perlintasan. Kondisi perlintasan saat itu ramai seperti biasa dengan motor dan mobil lain yang taat menunggu kereta. “Bukan saya aja yang teriak, tukang ojek dan warga pun teriak jangan melintas ada kereta, sopir tetap saja melaju,” kata Endang saat ditemui di lokasi.

Ia pun sempat mendengar jeritan para penumpang metromini yang meminta tolong dan mengucap takbir. “Saat ketabrak, saya hanya bisa mengucap Allahu Akbar,” ujarnya. Hal yang sama juga dikatakan Akhlani, 45. Lelaki yang setiap harinya berjualan gorengan yang tak jauh dari pos perlintasan melihat metromini tersebut memang menerobos meski perlintasan sudah tertutup.

Bahkan, kata dia, ia bersama warga pengendara lainnya juga sempat berteriak agar jangan menerobos karena ada kereta. “Yang kasihan itu yang lima penumpang terakhir, mereka sempat beli gorengan ke saya sebelum naik metromini,” jelasnya. Saat itu memang metromini berada di depan perlintasan, lantaran melihat ada celah yang bisa dilewati, sang sopir pun nekat menerobos.

Sementara itu Kapolsek Tambora Kompol Wirdhanto mengatakan, tabrakan maut itu akibat kecerobohan sopir metromini yang mencoba menerobos perlintasan. “Dari hasil evakuasi dan saksi mata, palang pintu sudah tertutup dan sirine sudah menyala, tapi Metromoni mencoba menorobas dari celah-celah yang ada,” jelasnya.

Kapolsek menambahkan, pihaknya masih mendalami kecelakaan maut ini.  Apakah ada kelalaian dari sopir metromini, masinis kereta atau kelalaian petugas palang pintu lintasan kereta api Angke. “Kesimpulan sementara salah si sopir. Tapi kami masih dalami kecelakaan ini,” ujarnya.

Kecelakaan itupun menjadi tontonan warga. Bahkan hingga Minggu sore (6/12) warga masih berkerumun di sekitar lokasi kejadian. Mereka tidak mengkhawatirkan kereta yang melintas. Meskipun sudah diperingati oleh anggota Polsek Tambora agar jangan menjadi tontonan, tetap saja warga kukuh ingin melihat bangkai metromini. Ada juga beberapa warga yang mengabadikan foto bangkai metromini dengan ponsel genggamnya.

Dalam kecelakaan itu ada beberapa barang milik korban yang sempat berserakan di pinggir rel dan di dalam rel. Seperti sobekan pakaian, perhiasan, handphone, hingga bra. Namun warga yang menemukan barang-barang tersebut diberikan kepada polisi.

Untuk mengetahui penyebab kecelakaan, dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi pun turun ke lapangan dan menyisir setiap jalur rel yang jadi lokasi kejadian. Tim yang berjumlah 7 orang dengan seragam baju putih dan biru inipun datang ke lokasi sekitar pukul 16.00.

Ketua Sub-Komite Kecelakaan Lalu Lintas Angkutan Jalan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Leksmono Suryo Putranto mengatakan pihaknya akan mengumpulkan fakta-fakta di lapangan. Sebab, sejauh ini informasi yang didapat masih sebatas asumsi dari petugas KRL ataupun saksi-saksi dan warga.

Suryo mengaku tidak menargetkan sampai kapan proses penyelidikan tersebut dilakukan, tapi penyelidikan diupayakan sedetail mungkin guna mengungkap penyebab kecelakaan maut itu. “Kami belum bisa memastikan penyebab kecelakaannya. Yang jelas, kami akan mengumpulkan fakta sebanyak dan sedetail mungkin,” ucap Suryo kepada awak media.

Tambahan Metromini Vs KRL

Musibah yang melibatkan metromomini sebetulnya bukan cerita baru. Begitu juga dengan kelakuan supir metromini yang ugal-ugalan hingga berujung maut.

Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan pun sudah dibuat geram dengan laporan-laporan yang masuk. Oleh sebab itu, dia meminta Gubernur DKI Jakarta untuk lebih tegas dalam penertiban angkutan di dalam kota. “Karena ijinnya (ijin trayek metromini, red) itu bukan di saya (Kemenhub). Ada di gubernur itu,” tuturnya di Jakarta, kemarin (6/12).

Menyoal tentang perlitasan sebidang pada kasus kecelakaan kemarin, Jonan mengaku, sebaiknya memang ditiadakan. Harus ada flyover atau underpass bila berhubungan dengan jalur kereta. Karena, traffic di sekitar lokasi pasti cukup banyak. Sebagai gambaran, perlintasan sebidang adalah perpotongan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan.

“Tapi itu tidak berarti melegitimasi orang itu melintas pintu perlintasan (saat pintu turun, tanda kereta melintas). Kalau menerabas ya itu pasti masalah,” tegas mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu.

Pihaknya sendiri sudah mewacankan penghapusan perlintasan sebidang ini. Pada jalur kereta yang akan dibagun di Bekasi, dia sudah merencanakan pembuatan flyover di jalur-jalur yang berhubungan jalan masyarakat sekitar.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Djoko Sasono yang langsung terjun ke lapangan membenarkan tindakan supir yang salahi aturan. Dia mengatakan, supir menerabas palang pintu perlintasan yang sudah dalam kondisi tertutup. “Memang tidak sepenuhnya tertutup. Tapi kalau sudah menutup dan alarm sudah berbunyi kan tandanya kereta mau melintas,” ungkapnya.

Djoko mendesak pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk gerak cepat menertibkan angkutan dalam kotanya sesuai undang-undang. Dia mendorong pemprov mewajibkan seluruh angkutan umum berbadan hukum. Agar, pengawasan dan pengecekan kelaikan terhadap angkutan umum lebih mudah dilakukan. “Hari ini juga ada kopaja terguling. Satu orang dilaporkan tewas. Pemprov harus segera bertindak. Organda (Organisasi Angkutan Darat, red) juga perlu evaluasi lagi,” tuturnya.

Dari laporan terakhir yang diterimanya, peristiwa naas ini telah merenggut nyawa 16 orang termasuk pengemudi. Tiga belas orang meninggal di tempat dan tiga lainnya saat berada di rumah sakit.

Sementara itu, kecelakaan maut juga kembali terjadi di dalam jalur tol Cikopo-Palimanan. Djoko mengabarkan, kecelakaan terjadi akibat sebuah minibus menabrak kendaraan di depannya. Enam orang tewas dan lima orang lainnya luka-luka akibat tabrakan. Diduga, kecelakaan terjadi karena pengemudi minibus mengantuk.

“Ini yang sering terjadi. Jalanan mulus, kesigapan pun turun. Kita himbau kembali agar pengguna jalan waspada. Kalau kelelahan, istirahat. Ada rest area yang disiapkan,” ujar Djoko.Kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tol Cipali ini memang selalu sama sebabnya. Pengemudi mengantuk dan kewaspadaan menurun. Hal ini diduga terjadi karena rasa nyaman yang diberikan oleh tol yang baru beroperasi jelang lebaran tahun ini. Tak ada hambatan sehingga seringkali kecepatan bisa dipacu lebih tinggi.Oleh karenanya, Kemenhub dan operator didesak untuk memberikan pita kejut atau pita penggaduh di dalam ruas tol Cipali. Terkait permintaan tersebut, Djoko mengaku sudah memasang pita kejut disejumlah ruas. Yakni disekitar rest area dan mendekati gerbang tol. (mia)

 

Berita Terkait