Masyarakat Serahkan Senjata Api Bekas Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Masyarakat Serahkan Senjata Api Bekas Konfrontasi Indonesia-Malaysia

  Minggu, 16 Oktober 2016 20:28

Berita Terkait

PONTIANAK- Kalimantan Barat memiliki sejarah panjang. Salah satunya konfrontasi antara Indonesia-Malaysia pada tahun 1965, dimana pada masa itu, masyarakat Kalimantan Barat dipersenjatai untuk melakukan perlawan terhadap musuh dari luar.

Namun, sayangnya senjata-senjata tersebut baru diserahkan setelah adanya upaya pendekatan kepada masyarakat.

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Drs. Suhadi menjelaskan, kepemilikan senjata api rakitan oleh masyarakat di Kalimantan Barat, memiliki latar belakang sejarah perjuangan, dimana pada tahun 1965 ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia, Pasukan Gerakan Rakyat Sarawak (PGRS) Paraku, masyarakat dipersenjatai untuk melawan musuh dari luar. 

"Setelah konfrontasi selesai ternyata senjata tersebut masih disimpan oleh warga masyarakat," kata Suhadi.

Upaya dari Pemerintah sudah dilakukan melalui operasi sapu jagat, namun hasilnya tidak maksimal.

Melalui operasi Kamtibmas dengan himbauan-himbaun yang dilakukan oleh para Bhabinkamtibmas melalui kegiatan door to door system (DDS) atau kunjungan dari rumah kerumah, dan dibantu oleh para tokoh masyarakat adat, senjata telah diserahkan ke jajaran Kepolisian.

"Sudah ada ribuan pucuk senjata api yang diserahkan oleh amasyarakat maupun melalui  para tokoh yang ada di desa-desa," katanya.

Penyerahan senjata api penting dilakukan oleh masyarakat, karena tidak sedikit warga masyarakat yang menjadi korban salah tembak atau kecelakaan senjata api meledak sendiri sehingga menimbulkan korban jiwa. 

Sementara itu, dalam rangka menciptakan kondisi Kamtibmas yang kondusif menjelang Pemilu Kada Bupati Dan Wakil Bupati Landak, jajaran Polres Landak telah melakukan kegiatan pre emtive atau pencegahan dini, yang dilakukan oleh para Bhayangkara Pembina Kamtibmas (Bhabin Kamtibmas), yang ada di desa desa.

Hasilnya, sebanyak 40 pucuk senjata api rakitan diserahkan ke pihak kepolisian, antara lain, Polsek Mandor  sebanyak 15 pucuk, Polsek Ngabang ada 6 pucuk, Polsek Sebangki ada 5 pucuk, Polsek Sengah Temila 4 pucuk, Polsek Air Besar, Polsek Menjalin, Polsek Kuala Behe dan Polsek Mempawah Hulu masing masing 2 pucuk serta Polsek Menyuke dam Polsek Meranti masing masing satu Pucuk.

Kapolres Landak AKBP Wawan S.Ik  pihaknya secara terus menerus menghimbau kepada warga masyarakat yang masih menyimpan senjata api untuk menyerahkan kepada Pihak Kepolisian terdekat, karena jika warga masyarakat masih menyimpan senjata api, dan tertangkap oleh aparat Kepolisian, bisa dikenakan Undang Undang darurat nomor 12 tahun 1951.

"Barang siapa tanpa hak, menyimpan, menyembunyikan, memiliki, memasukkan senjata api atau bahan peledak, ke wilayah Indonesia, bisa diancam dengan hukuman penjara sementara selama 20 tahun," katanya.

Himbauan ini ternyata mendapat respon positif dari Masyarkat, dimana saat ini telah teekumpul senjata api rakitan sebanyak 40 pucuk senjata api rakitan.  (arf)

 

Berita Terkait