Masuki Sidang Keterangan Saksi

Masuki Sidang Keterangan Saksi

  Kamis, 30 June 2016 09:43
Ilustrasi

Berita Terkait

KETAPANG – Pengadilan Negeri (PN) Ketapang kembali menggelar sidang kasus pencurian buah sawit milik PT HHK Timur pada, Selasa (28/6) kemarin. Sidang dengan terdakwa Marasyah ini, merupakan sidang yang kesekian kalinya. Sidang kali ini mengagendakan untuk mendengarkan keterangan saksi.

Pada persidangan sebelumnya, terdakwa membantah mencuri. Namun dari keterangan saksi Ghufron Mansyur, yang merupakan Senior Legal PT USTP, (holding dari PT HHK Timur), mengatakan, empat hari setelah kejadian pencurian, pihaknya mendapatkan surat dari LSM PADMA yang diberikan kuasa oleh terdakwa Marasyah.

Di dalam surat tertanggal 24 Januari 2015 tersebut berisi tentang pengakuan terdakwa. Terdakwa mengakui jika Tandan Buah Segar (TBS) sawit adalah miliknya yang dirampas oleh PT HHK. Gufron membantah pangakuan Marasyah, yang mengaku tidak mengetahui pencurian tanggal 20 Januari 2015.

Ghufron juga menjelaskan, usai memberikan kuasa pada LSM PADMA, pihak perusahaan sempat mendapat dua kali kiriman surat LSM PADMA. Di antaranya pada Oktober 2014 yang berisi pengakuan jika lahan tersebut merupakan milik Marasyah.

"Surat kedua pada November 2014. Inti isi surat tersebut mengucapkan terimakasih karena surat pertama yang tidak direspon, yang berarti bahwa lahan sudah diserahkan kepada Marasyah," kata Ghufron saat memberikan kesaksian, Selasa (28/6).

Ghufron mengungkapkan, kalau Ketua LSM PADMA, Gabriel Goa, meminta dilakukan pertemuan yang akhirnya dilakukan di Jakarta yang dihadiri Marasyah dan Gabriel Goa. Lahan yang diklaim milik Marasyah merupakan lahan milik perusahaan yang berada di area 5 dan 6 yang telah di take over dari perusahaan Malaysia pada tahun 2007 silam. "Lahan tersebut dinyatakan tidak dalam sengketa lahan ketika dilakukan take over," katanya.

Ghufron menambahkan, Marasyah menyuruh beberapa orang warga untuk memanen buah sawit milik PT HHK Timur yang akhirnya para warga  ditangkap dan juga telah divonis PN Ketapang. Dari hasil catatannya telah terjadi pencurian pada 22 November 2014 yang menurutnya dipimpin langsung oleh Marasyah di lahan seluas 800 – 1.000 hektare. Terdakwa melakukan pengambilan buah sawit di lahan perusahaan sejak November 2014 hingga Januari 2015.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Ketapang, Samsul Bahri Siregar, menjelaskan, pihaknya mendakwa dan menjerat terdakwa dengan pasal berlapis yakni Pasal 363 dan 406 KUHP dan UU No. 39 tahun 2014 tentang Perkebunan jo Pasal 64 ayat (1) dan 55 ayat (2) KUHP dengan jumlah kerugian sekitar Rp240 juta dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.

Menurutnya, sejak proses penyidikan hingga persidangan terdakwa tidak bersikap kooperatif sehingga terdakwa sempat ditetapkan sebagai DPO oleh Polres Ketapang sejak 25 Mei 2015. Ia pun ditangkap di kawasan Asem Baris, Tebet, Jakarta Selatan, 23 Maret 2016. "Sidang lanjutan terdakwa kita tunda dan akan dilanjutkan pada 14 Juli mendatang dengan agenda lanjutan mendengarkan keterangan saksi lainnya," ujarnya. (afi)

Berita Terkait