Massa Blokade Bantuan untuk Rohingya

Massa Blokade Bantuan untuk Rohingya

  Jumat, 22 September 2017 13:17
REBUTAN: Karena jumlah pengungsi melonjak tajam dalam sepekan terakhir, warga Rohingya yang mencari selamat di Bangladesh harus berebut bantuan. (Dar Yasin/AP PHOTO)

Berita Terkait

PENGIRIMAN bantuan ke pengungsi Rohingya baik di Bandladesh maupun di Myanmar tersendat. Di Myanmar bantuan dari dunia internasional dihalangi sekelompak ummat mayoritas di sana.

Selanjutnya, di Bangladesh, truk yang mengirimkan bantuan kemanusiaan terguling ke sawah dan menewaskan sembilan orang serta melukai sepuluh orang lainnya.

Blokade bantuan di Sittwe, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, itu terjadi Rabu malam (20/9). Saat itu relawan mengisi kapal dengan berbagai sumbangan kemanusiaan untuk dikirimkan kepada penduduk Rohingya yang memilih tetap tinggal di Maungdaw, Rakhine.

Meski tak lari, kondisi mereka sama mengenaskannya. Sebab, mayoritas rumah-rumah penduduk Rohingya dibakar dan rata dengan tanah.

Sebagian desa bahkan dikepung penduduk Buddha hingga hampir kehabisan bahan makanan. Sebanyak 40 persen wilayah Rakhine yang dulu ditinggali penduduk Rohingya kini kosong. Rencananya, pengiriman dilakukan lewat jalur sungai.

Tapi, tiba-tiba saja sekitar 300 orang datang. Massa memaksa agar barang-barang yang dimasukkan ke kapal diturunkan kembali. Mereka juga melarang kapal tersebut pergi.

Sekitar 200 polisi dan para biksu Buddha datang dan menenangkan mereka. Namun, massa malah beringas dan melempari polisi serta kapal itu dengan batu serta bom molotov. Delapan orang diamankan.

’’Mereka mengira bahwa bantuan tersebut hanya untuk orang Bengali,’’ ujar Kepala Pemerintahan Rakhine Tin Maung Swe kemarin (21/9). Warga Myanmar menyebut warga Rohingnya sebagai Bengali, salah satu etnis dari Bangladesh.

Juru bicara ICRC Graziella Leite Piccoli mengungkapkan, relawan akhirnya berdialog dengan massa. Mereka menegaskan, bantuan itu bukan hanya untuk warga Rohingya, tapi untuk siapa saja yang membutuhkan.

Massa akhirnya mau pergi dan meninggalkan kapal serta isinya. Tapi, hingga kemarin (21/9), kapal tersebut berada di Sittwe. ’’Pengiriman akan dilanjutkan,’’ terang Piccoli.

Di Bangladesh, truk yang disewa Palang Merah Bangladesh dan ICRC terguling ke sawah kemarin. Truk itu membawa bantuan untuk para pengungsi Rohingya yang baru datang. Sembilan pekerja yang mendistribusikan bantuan tewas dan sepuluh orang lainnya mengalami luka-luka. Enam korban meninggal di lokasi, sedangkan tiga orang lainnya saat perjalanan ke rumah sakit. Korban luka juga dalam kondisi kritis.

Sementara itu, Wakil Presiden Myanmar Henry Van Thio mengungkapkan, pemerintah tengah menyelidiki kasus yang terjadi di Rakhine saat ini. ’’Bantuan kemanusiaan adalah prioritas utama kami. Kami berkomitmen memastikan bahwa sumbangan diterima semua yang membutuhkan tanpa diskriminasi,’’ terangnya saat berbicara dalam forum Rapat Umum PBB di New York Rabu lalu.

Di forum yang sama, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa mereka akan mengucurkan bantuan tambahan untuk penduduk Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine. Besarnya mencapai USD 32 juta atau setara dengan Rp 426,1 miliar.

Total bantuan AS untuk Rohingya mencapai USD 95 juta (Rp 1,3 triliun). Uang tersebut disalurkan lewat lembaga kemanusiaan internasional seperti International Organization for Migration, UNICEF, dan UNHCR. (*)

(Reuters/BBC/CNN/AlJazeera/sha/c22/any)

Berita Terkait