Masalah Pelik Sampah Elektronik

Masalah Pelik Sampah Elektronik

  Rabu, 10 January 2018 10:00

Berita Terkait

SADAR nggak sih kalo hidup kita saat ini nggak bisa lepas dari barang elektronik? Nah, barang elektronik yang kita gunakan suatu saat pasti rusak. Pernah nggak kamu memikirkan gimana dampak dari sampah elektronik? Well, masalah ini nggak boleh disepelekan. Meski nggak berbau, tapi sampah elektronik memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan sampah basah. Makanya generasi Z perlu tahu gimana kondisi, dampak dan cara mengatasinya. Simak penjelasan langsung dari Kiki Prio Utomo, ST., M.Sc. selaku Dosen Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura Pontianak.

By: Indry Agnesty

Apa sih sampah elektronik itu?

Sampah elektronik atau e-waste merupakan sampah yang berasal dari alat elektronik yang nggak kita gunakan lagi. Barang yang dimaksud ini dalam pemakaiannya pasti berhubungan dengan arus listrik.

Jenis-jenisnya apa saja?

Umumnya sampah elektronik dikelompokkan dari elektronik rumah tangga, komunikasi/gadget dan instrumentasi industri serta sejenisnya. Untuk elektronik rumah tangga contohnya lampu, mesin cuci, kulkas, AC, televisi dan lain-lain. Kalo komunikasi/gadget seperti handphone, laptop, kamera. Sedangkan instrumentasi industri itu mesin-mesin pabrik yang pengelolaannya dilakukan oleh industri itu sendiri.

Separah apa kondisinya di Pontianak?

Dilihat dari jumlahnya belum banyak di Pontianak, namun sampah elektronik pasti ada di semua kota hingga desa. Yang lebih menjadi keprihatinan yakni belum adanya pengelolaan sampah elektronik.

Meski jumlahnya nggak banyak tapi punya resiko yang besar karena di dalam setiap komponen elektronik ada banyak zat yang dikategorikan limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Ada logam berat seperti timbal yang kalo tidak dikelola lama-kelamaan bakal menumpuk dan menimbulkan masalah.

Sebagai masyarakat Pontianak kita patut berhati-hati karena belum punya rencana pengelolaan sampah elektronik. Butuh izin khusus dengan tenaga terampil dan tempat khusus. Sisi positifnya, siklus hidup barang elektronik dapat dihitung. Kita bisa memanfaatkan komponen barang elektronik yang masih bisa digunakan untuk produk lain. Kalo masyarakat dan pemerintah sadar, ini bisa jadi sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali. 

Dampak yang mengintai dari sisi lingkungan dan kesehatan?

Sebagian besar masalah dari sampah elektronik berasal dari logam yang terkandung di dalamnya karena sulit terdegradasi dan bersifat persisten. Zat logam tersebut nggak akan hilang tapi bisa berpindah melalui siklus alam dan rantai makanan. Yang dikhawatirkan yakni posisi manusia yang berada di puncak rantai makanan.

Misalnya aja pcb (printed circuit board) biasanya jarang didaur ulang karena terbuat dari plastik. Itu bakal hancur menjadi plastik mikro atau nano yang bisa masuk ke dalam rantai makanan. Apabila berakhir di perairan dapat menganggu ekosistem makhluk hidup lain khususnya ikan. Plastik mikro dan nano jika masuk ke dalam tubuh nggak bisa dicerna sehingga bakal berakhir di ginjal. Tentunya itu sangat fatal.

Bagaimana perhatian atas masalah sampah elektronik di Indonesia?

Perhatian pemerintah cukup besar khususnya pemerintah pusat. Sudah ada undang-undang yang mengatur pengelolaan limbah B3 yakni Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan ini mengatur izin dan standar yang implementasinya memerlukan kerjasama dengan pemerintah daerah. Perhatian pusat ini besar tapi kadang pemerintah daerah lebih memprioritaskan sampah plastik dan sampah basah yang dilihat sehari-hari. 

Untuk masyarakat bisa dimulai dengan edukasi yang membuat mereka sadar kalo cepat atau lambat siklus hidup (life cycle) barang elektronik bakal habis yang akhirnya jadi sampah berbahaya. Dengan edukasi akan mendorong masyarakat berpikir untuk nggak sembarangan membuang barang elektronik dan memperpanjang usia life cycle. Masyarakat nggak bisa menangani sampah elektronik sendiri sehingga Pemerintah perlu berperan aktif. Edukasi juga membuka peluang baru terhadap sumber daya yang masih bisa dimanfaatkan dari sampah elektronik. 

Berita Terkait