Marta "Melahirkan" Dalam Keadaan Meninggal

Marta "Melahirkan" Dalam Keadaan Meninggal

  Kamis, 22 September 2016 20:41

Berita Terkait

PONTIANAK- Marta Priviyana diduga kuat akan melahirkan sebelum akhirnya dibunuh oleh kekasihnya Aloysius Fernando alias Ando di rumah kontrakan Jalan Parit Haji Muksin II Komplek Mega Mas Blok D 31, Kabupaten Kubu Raya.

Sebelum dibunuh, korban sempat mengalami rasa nyeri yang hebat pada perutnya tengah hamil sekitar delapan bulan.

Jenazah Marta ditemukan oleh warga di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.

Kepala Puskesmas Kampung Kawat yang menangani visum jenazah korban, Dokter Sangap Ginting mengungkapkan, usai melakukan identifikasi terkait penyebab dan perkiraan waktu kematian korban, ia melihat perut korban yang besar membuncit seperti hamil. Ia kemudian meraba bagian perut, dan merasakan ada sesuatu yang keras di dalam perut korban.

"Saya curiga dia hamil, kemudian saya coba periksa dalam dari bagian kemaluan korban dan meraba bagian dalam ternyata menyentuh bagian kepala dari bayi itu," ujar Ginting, Kamis (22/9).

Terkait dengan bayi yang "dilahirkan" jenazah tersebut, secara logika menurut Ginting mungkin tidak bisa dipercaya karena ibu dari bayi itu sudah meninggal yang secara otomatis juga bayi itu tidak mungkin bisa hidup lagi.

Ia pun mengaku sempat kehilangan logika berfikir medis dan beberapa menit kemudian melakukan amniotomi untuk membuka selaput amnion (selaput ketuban) dengan jalan membuat robekan kecil untuk mengeluarkan cairan ketuban.

"Sekilas saya berfikir mana tahu (bayi) masih hidup. Ketubannya sudah menonjol, bukaannya sudah lengkap, kalau dia (korban) hidup itu, itu seperti kita membimbing dia untuk mengejan. Yang menghalangi kepala bayi itu sudah terbuka, saya pecahkan air ketuban dan keluar lah airnya," jelasnya.

Biasanya, jika dalam persalinan normal, apabila ketuban sudah pecah dan bukaan sudah lengkap, imbuh Ginting, tidak lama pasti bayi akan lahir.

"Nah ini kan tidak mungkin kita bimbing karena korban sudah meninggal, jadi ya kita biarkan," katanya.

Beberapa jam kemudian, tim dari kepolisian Polres Sanggau datang dan melakukan serangkaian identifikasi, mengambil dokumentasi foto korban di setiap bagian dengan membolak-balik kan tubuh korban.

"Saat proses identifikasi dari kepolisian, tahu-tahunya nongol kepala bayi itu sampai sebatas leher, seperti bayi lahir pada umumnya. Kemudian kita keluarkan bayi itu," jelasnya.

Tak lama setelah lahir, satu jam kemudian bagian plasenta pun keluar dengan sendirinya, disusul dengan mengeluarkan rahim korban.

"Jika dia masih hidup, bayi itu sudah cukup bulan, organnya juga sudah lengkap," katanya.

Proses keluarnya bayi itu, menurut Ginting, dipicu karena adanya tekanan gas akibat proses pembusukan bakteri didalam perut. Gas tersebut, secara otomatis mencari celah jalan keluar, dan memberikan tekanan kepada jasad bayi itu, sehingga bayi itu keluar dengan sendirinya.

"Proses pembusukan di dalam itu menghasilkan gas, yang mencari ruang melalui jalan lahir, sehingga mendorong bayinya keluar disusul keluarnya rahim dari dalam," jelasnya.(arf)

 

Berita Terkait