Marquez “Dewasa” Di Atas Angin

Marquez “Dewasa” Di Atas Angin

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30
PIMPIN: Marc Marquez saat memimpin balapan di sirkuit Sachsenring, Jerman (17/7). Mirco Lazzari gp/Getty Images Europe

Berita Terkait

Rossi Berbahaya Karena Nothing To Lose

Dalam 10 hari ke depan, separuh kedua balapan MotoGP 2016 bakal kembali digelar. Pemimpin klasemen pembalap Marc Marquez (Repsol Honda) sukses mengatasi buruknya performa motornya di awal musim dan kini mengungguli dua rivalnya di Yamaha dengan kondisi cukup aman. Namun melihat situasi yang hampir sama di Formula 1, apapun masih bisa terjadi di sisa sembilan seri terakhir.

Di ajang F1 pembalap Mercesdes Nico Rosberg juga pernah berada di posisi sama seperti Marquez saat ini. Pembalap Jerman itu unggul 42 poin dari rekan setimnya sekaligus rivalnya sendiri Lewis Hamilton. Kini situasinya bisa berbalik 180 derajat. Dari tujuh balapan terakhir, enam di antaranya dimenangi Hamilton. Sekarang pembalap Inggris tersebut berbalik unggul 19 poin. 

Nah. Semua kalangan di MotoGP tanpa ragu memuji kematangan Marquez dalam membalap musim ini. Dia tak lagi ingin memenangi semuanya. Pun tak rakus ingin bertarung dengan siapapun dan meraup poin sebanyak-banyaknya. Cukup dengan poin yang paling mungkin didapatnya dalam balapan. Tetap hobi berduel meski lebih memilih mengamankan balapannya.

''Dia bertambah dewasa jauh melebihi musim sebelumnya,'' puji mantan pembalap kelas 500 cc yang paham luar dalam tentang dunia MotoGP Alberto Puig. ''Jika dia membalap seperti tahun lalu kemungkinan besar dia sudah terjatuh 3-4 kali sejauh ini. Itu menunjukkan strateginya tepat,'' imbuhnya dilansir Motorsport.  

Namun Puig, yang kini bekerja untuk Honda dan menjaring talenta-talenta muda melewati ajang Asia Talent Cup itu tak mengesampingkan kemajuan yang dibuat Repsol Honda sepanjang separuh musim pertama. RC213 V kini sudah jauh membaik, khususnya dalam urusan stabilitas bagian belakangnya. ''Memang Honda memimpin klasemen saat ini bersama rider hebat sekelas Marc. Tapi jika motor mereka adalah “bencana” (tidak kompetitif) bahkan seorang Marquez pun tidak akan sanggup mengatasinya,'' paparnya merujuk awal musim dimana Marquez terjatuh dua kali.

Bos Repsol Honda Livio Suppo menyebut perubahan Marquez saat ini merupakan bagian belajar yang pernah dilewati banyak rider top. Menurutnya pada 2008 Casey Stoner juga terjatuh di Brno dan Misano kemudian bangkit dan mengakhiri musim di posisi runner up. ''Saat itu Mick Doohan (mantan juara dunia MotoGP) mengirimkan email kepadaku untuk Casey,'' paparnya dikutip Crash. 

Doohan juga mengalami musim yang buruk pada 1995 saat bertarung dengan Daryl Beattie (Suzuki). Sama dengan Stoner di 2008 karena setelah GP Laguna Seca dia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari Valentino Rossi. ''Intinya Mck (Dohan) mengatakan: kau tidak perlu menang balapan dengan keunggulan satu menit, tidak masalah jika kemenangan itu hanya berselisih sepersepuluh detik. Jadi mungkin setiap juara dunia akan melalui sebuah momen dimana mereka terlalu percaya diri dan itu manusiawi,'' jawab Suppo yang merujuk Marquez tahun lalu. 

Pujian yang tak kalah hebat ditujukan kepada Rossi musim ini. Puig sampai kehilangan kata sifat untuk menggambarkan capaian bintang Italia itu di usianya ke 37 tahun. ''Dia yang paling “lapar” dari rider manapun di grid,'' ucap Puig.

Di sisa musim ini, Puig yakin Rossi akan bertarung mati-matian untuk mengejar defisitnya dari Marquez dan rekan setimnya Jorge Lorenzo. Kini posisinya sudah nothing to lose. Berada di posisi ketiga klasemen dengan jarak 11 poin dari Lorenzo dan 59 dari Marquez.  Untuk mengejar Marquez memang mendekati mustahil namun memburu Lorenzo peluangnya sangat besar.

''Apa yang ingin dicapainya saat ini tak bisa aku gambarkan. Sudah berada di luar alasan-alasan logis. Namun itu semua dirauhnya berkat kerja kerasanya 24 jam penuh untuk berpikir bagaimana caranya menang,'' tandas Puig.  

Bagi Lorenzo, patah arang di tengah musim tidak ada dalam kamusnya. Dia percaya sebelum perhitungan matematika belum menutup peluangnya merebut gelar juara dunia musim ini, semuanya belum berakhir. Dia berjanji akan bekerja keras di sepanjang liburan musim panas untuk memperbaiki riding style-nya untuk menghadapi balapan basah. 

Di GP Jerman dia memulai balapan dari posisi 11 karena tak lolos ke sesi kualifikasi dua (Q2). Lalu finis ke-15 dengan satu poin di balapan basah-kering tersebut. Di Assen dia bahkan mangaku nyaris menyerah meninggalkan trek karena tak sanggup bertarung di sirkuit basah dengan ban Michelin.

Lorenzo harus mengejar 48 poin dari Marquez. Jarak yang sudah mendekati zona berbahaya 50 poin atau dua kemenangan seri. ''Dia punya masalah besar dengan ban depannya. Dia butuh banyak waktu untuk memahami tingkah motornya,'' papar Puig. Namun dengan pengalamannya, Lorenzo bakal mendapatkan solusinya untuk menghadapi balapan basah dan bisa sangat cepat. ''Sayang dia akan berganti motor ke Ducati musim depan. Di sana dia harus memahami banyak hal yang sama sekali tidak diketahuinya (tentang Desmosedici motor Ducati),'' terangnya.

Seri berikutnya akan berlangsung di Red Bull Ring, Austria 14 Agustus nanti. Ini adalah trek baru yang masuk kalender balap MotoGP tahun ini. Para rider, kecuali Honda sudah menjajal sirkuit ini bulan lalu. Namun duo rider Repsol Honda absen. Mereka sudah menjajalnya sebelumnya tapi menggunakan motor RC213 V spek jalanan untuk pembuatan iklan. (cak)

Berita Terkait