Mapan Sebelum Menikah

Mapan Sebelum Menikah

  Sabtu, 15 Oktober 2016 09:21

Berita Terkait

Mengapa belum menikah? Pertanyaan ini kerap dijawab dengan beberapa jawaban, seperti “belum siap nikah, sebab belum mapan”, “ingin punya rumah dulu”, ataupun “ingin mencari calon yang mapan biar hidup terjamin”.

Banyak orang menunda menikah lantaran merasa belum cukup mapan untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Mereka merasa belum mencapai konsep mapan yang diinginkan. Lantas seperti apakah konsep mapan sebenarnya?

DR. Fitri Sukmawati, M. Psi, Psikolog mengatakan bahwa konsep mapan masing-masing orang berbeda. Tetapi umumnya konsep mapan ini mempengaruhi kesiapan mereka untuk menikah. Mereka, terutama pria khawatir jika belum mapan maka tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Secara umum ada tiga konsep mapan, yakni mapan secara ekonomi, mapan secara fisik, dan mapan secara psikologis. Ketiga konsep ini pun diterjemahkan beragam oleh setiap orang. 

“Setiap orang punya konsep mapan yang berbeda. Bagi orang lain  dia sudah mapan, tapi bagi dirinya belum mencapai ke tahap mapan. Bagi orang lain sudah bekerja dan tidak lagi bergantung dengan orang tua bisa dikatakan mapan,  tetapi bagi dia tunggu sudah punya rumah dulu baru dikatakan mapan dan siap berumah tangga,”  jelas Ketua Himpunan Psikologi Indonesia  (HIMPSI) Kalbar ini.

Tidak ada salahnya menerapkan konsep mapan dalam diri. Tetapi, Fitri menyarankan hendaknya mempertimbangkan beragam hal yang semestinya tak menjadi penghambat untuk menikah.

“Ada orang yang sudah pada tahap wajib menikah. Artinya sudah punya calon pasangan, sudah punya penghasilan, tetapi dia urungkan karena merasa belum mapan. Sementara dari segi usia dia sudah boleh menikah,” terangnya.

Konsep mapan pun berbeda bagi seseorang wanita dalam mencari pasangan. Ada yang memilih mencari seorang PNS, pegawai BUMN, pegawai swasta, ataupun pengusaha. Lantas apakah diluar profesi tersebut mereka tidak mapan dan tidak bisa membahagiakan? Jawabanya, belum tentu. Sebab pernikahan itu tidak hanya soal kekayaan, tetapi juga tanggung jawab. Ada mimpi yang ingin diwujudkan bersama pasangan. Bahkan, ada yang berjuang bersama untuk mencapai tahap kemapanan yang diinginkan.

Jika belum punya rumah, tetapi sudah punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, sebaiknya tak khawatir untuk menikah. Sering kali ketakutan-ketakutan seseorang membuatnya urung untuk melangkah ke pelaminan.

“Secara hirarki manusia itu butuh perlindungan, kasih sayang, dan tempat berbagi. Tidak harus menunggu mapan untuk menikah, asalkan bertanggung jawab satu sama lain. Ketika ada masalah bisa diselesaikan bersama,” ungkapnya.

Orang menunggu mapan dulu baru menikah biasanya ingin melepaskan diri dari permasalahan-permasalahan dalam rumah tangga, terutama persoalan ekonomi. Tetapi tanpa ia sadari, ia mengalami masalah dalam hidup. Setelah mapan pun masalah tetap akan muncul.

Ada kematangan-kematangan psikologi yang biasanya mempengaruhi seseorang yang menunggu mapan untuk menikah. Dia kehilangan usia produktif dalam membangun rumah tangga.

“Di usianya 35 tahun atau 40 tahun seseorang biasanya mencapai puncak karirnya. Jika di usia tersebut dia masih sendiri, maka dia akan mengalami masa yang berbeda dengan ketika menjalaninya dengan pasangannya. Ada tempatnya berbagi di setiap masalah yang dihadapi,” terangnya.

Menikah sebelum mapan atau sesudah mapan adalah pilihan. Semua tergantung individu masing-masing. Namun, Fitri mengingatkan bahwa dalam hidup itu berproses. Untuk mencapai tahapan-tahapan kemapanan yang diinginkan pastinya memerlukan usaha dan pengalaman.

“Jangan menunggu kesempurnaan pada diri sendiri. Tidak pula mengharapkan kesempurnaan orang lain. Sebab setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Persiapkan diri menuju bahtera rumah tangga. Bisa dengan belajar dari orang lain maupun belajar dari buku-buku yang berkenaan dengan rumah tangga,” pungkasnya. **

Berita Terkait