Manis Laba dari Penjualan Madu

Manis Laba dari Penjualan Madu

  Kamis, 23 June 2016 09:59
MADU HUTAN: Syarif Muhammad Syaifuddin menunjukan madu yang baru saja diambil dari hutan. Untuk memperkenalkan produknya tak jarang ia terjun langsung ke konsumen. SYARIF MUHAMMAD SYAIFUDDIN FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sudah dari dulu madu dikenal sebagai suplemen yang memiliki banyak khasiat bagi kesehatan manusia. Karena manfaatnya ini pula, madu pun mampu menjadi lahan bisnis bagi mereka yang mau berusaha mengelola madu tersebut. Dan bisa menjadi lahan untuk menghasilkan uang jika bisa dikelola dengan baik.

Ramses L Tobing

PERMINTAAN madu terus meningkat seiring dengan perkembangan gaya hidup sehat di tengah masyarakat. Kondisi ini berdampak ke produsen dan penjual produk madu. Tiap bulan pundi-pundi rupiah mampu mereka rengkuh.

Melihat peluang itu tidak sedikit orang yang terjun di bisnis ini. Salah satunya Syarif Muhammad Syaifuddin. Dia memulai bisnis ini sejak 2013. Berawal dari dua botol madu yang diberikan ibunya, Syaiful serius menekuni bisnis ini.  

“Dua botol itu memotivasi saya untuk terjun di bisnis ini. Dan saya tawarkan ke konsumen ketika masih bekerja sebagai pegawai honorer di Kubu Raya. Awalnya iseng dan semakin ke sini timbul niat untuk menjualnya lebih banyak,” ungkap pria yang disapa Syaiful ini saat diwawancarai wartawan koran ini.

Keinginan itupun seiring dengan hobi Syaiful yakni liburan ke hutan. Dari sini dia belajar tentang ilmu perlebahan. Sudah menjadi rahasia umum, jika lebah ada hewan yang dikenal sebagai penghasil madu.

Melihat peluang itu, keinginan Syaiful untuk berjualan kopi lokal kalah saing dengan manisnya laba dari bisnis madu.  Kendati demikian, dia tak menampik penuh perjuangan berat untuk memulai manisnya rupiah dari madu.

Di mulai dari mengenalkan madu ke publik. Ini cukup rumit, sebab stigma negatif madu palsu sangat marak di masyarakat. Alhasilnya konsumen berhati-hati dalam membeli madu.

“Stigma itu masih terus melekat, apalagi saya sebagai penjual. Makanya produk yang saya jual, tidak lepas dari kemurnian dan keaslian,” ujar Owner Madu Hutan Syaiful ini.

Syaiful menganggap ini tantangan. Karena itu, dia harus bisa membuktikan madu yang dijual adalah madu murni dan berkualitas. Caranya, dia berkomunikasi langsung dengan konsumen.

Perlahan tapi pasti, dua tahun perjalanan stigma negatif itu menurun. Seiring dengan itu jumlah konsumen terus bertambah. Lalu, tantangan lain yang dihadapi yakni analisis musim panen. Dimana madu adalah produk musiman yang bisa mempengaruhi ketersediaan stok. Kapasitas produksinya yang berkurang diakibatkan musim panen yang kurang baik. Jika seperti itu, stok tidak mencukupi untuk kebutuhan konsumen.

Untuk mengatasinya dia harus bekerjasama dan membina kelompok tani madu hutan 12 kabupaten di Kalimantan Barat. Cara ini dilakukan agar bisa menjaga ketersedian stok yang dibutuhkan konsumen.

Lantas bagaimana dengan persaingan bisnis? Dia merasa tidak terpengaruh, meskipun pelaku usaha lain mulai tumbuh. Baginya, kata kunci dari bisnis ini adalah kepercayaan.

Semakin banyak masyarakat yang mempercayai produk madu hutan yang dikelolanya sendiri maka bisa berdampak nilai pasar madu yang Semakin baik. “Bukan harga saja yang mempengaruhi nilai pasar. Kualitas dan kapasitas produksi madu hutan yang tersedia juga ikut berpengaruh,” imbuhnya.

Dari sisi produk pun Syaiful menjadi memiliki banyak perbedaan dibandingkan yang lainnya. Di antaranya keamanan dalam pengiriman dan ada jaminan kualitas madu hutan.

Sebagai penjual pun, dirinya siap memberikan informasi ke konsumen mengenai spesifikasi madu hutan yang dipasarkan. Beberapa produk yang dijualnya, seperti madu hutan rimba (Apis Dorsata), madu kelulut (Trogona), madu mangrove dan madu hitam (Apis Dorsata).  “Yang jelas produk kami dapat dipertanggungjawabkan kemurniannya. Seperti garansi uang kembali,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait