Manfaatkan Lumpur Sisa Tambang, Belajar Sampai ke Ambon

Manfaatkan Lumpur Sisa Tambang, Belajar Sampai ke Ambon

  Minggu, 13 December 2015 06:48
NGE-TONG : Seorang laki-laki sedang mengolah lumpur sisa galian tambang emas rakyat, dengan teknik nge-tong untuk menghasilkan butiran-butiran emas. IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Banyak teknik bisa digunakan dalam pengolahan emas rakyat baik skala kecil maupun besar. Salah satunya menggunakan tong atau dikenal dengan sistem nge-tong. Yaitu memanfaatkan lumpur sisa tambang yang dianggap masih mengandung logam mulia.

IDIL AQSA AKBARY, Singkawang

 

 
TENGAH hari di pinggiran Kota Singkawang. Kala itu, matahari sedang terik-teriknya menyengat. Hanya beratapkan terpal, di sebuah pekarangan belakang rumah, seorang lelaki paruh baya tanpa baju terlihat sibuk menggemburkan lumpur.Lumpur dari dalam karung dipindahkannya ke dalam sebuah tong plastik. Itu bukan lumpur biasa, melainkan tanah sisa tambang yang diduga masih mengandung logam mulia atau yang biasa disebut puya, oleh masyarakat setempat.
Apa yang sedang dikerjakan Ali, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu bagian dalam proses pengolahan emas dengan cara nge-tong. Nge-tong adalah sebutan masyarakat di sana. Meski di daerah lain sudah cukup dikenal, teknik ini terbilang baru dilakukan di Singkawang. Baru sekitar tiga bulan Ali menjalanakan usaha ini. 

Untuk bisa mempelajari cara dan proses pengolahannya, Ali harus merantau hingga ke luar daerah. Tepatnya di Ambon, Maluku. “Saya memang dari bujangan sudah bekerja di pertambangan emas. Sudah kerja ke mana-mana. Untuk belajar ini enam bulan saya tinggal di Ambon,” ungkap ayah dua anak itu, beberapa waktu lalu.

Dia menceritakan, dalam pengolahannya tidak perlu dekat atau berada di daerah pertambangan. Cukup membeli puya saja sebagai bahan baku. Limbah yang dianggap masih mengandung emas dari pertambangan atau gelondongan itu dibeli dengan harga Rp10 ribu hingga Rp30 ribu per karungnya. “Harga tergantung penjual. Sebab setiap tempat harganya beda-beda,” ucapnya.

Menurut Ali, membeli bahan baku harus hati-hati. Pengolah dituntut betul-betul teliti, apakah tanah atau lumpur yang akan digarap dengan sistem nge-tong ini mengandung emas yang cukup atau tidak. Biasanya, beda tempat pembelian puya, beda pula emas yang dihasilkan. Karena itu, pria 37 tahun ini sudah memiliki langganan sendiri. Pengalaman juga dikatakan penting dalam memilih puya.

Setelah bahan bakunya tersedia dan cukup, selanjutnya harus ada alat pengolahannya. Banyak yang harus disiapkan untuk itu. Pertama membuat menara dari tong besi. Di tempatnya ada tujuh buah tong yang disambung sedemikian rupa hingga menyerupai roket.  Dalam tong besi yang disambung-sambung itulah proses pengadonan yang sebenarnya. Ditambah alat lainnya berupa mesin kompresor, genset serta pompa air. Modal awal yang dikeluarkan mencapai puluhan juta.

Untuk menghasilkan butiran emas melalui cara ini, proses yang dilewati memakan waktu per tiga hari. Secara singkat Ali menjelaskan, pertama-tama lumpur atau tanah puya digemburkan dengan air. Hasilnya kemudian dialirkan ke tong roket tempat mengadon. Di dalam tong, adonan dicampur dengan berbagai zat kimia seperti karbon, kapur dan soda api. Biaya untuk karbon mencapai Rp1,5 juta per karung seberat 25 kilogram. Sedangkan kapur Rp100 ribu per lima kilogram. “Komposisinya, biasa untuk 20 karung puya dicampur dengan tujuh kilogram kapur dan karbon,” jelasnya.

Setelah itu, adonan diendapkan selama kurang lebih 36 jam dengan mesin air yang terus menyala untuk mengaduknya. Sampai diperkirakan pH adonan sudah sesuai standar dan warnanya juga siap untuk tahap selanjutnya.Lalu setelah itu barulah hasil endapan dialirkan ke wadah pendulangan. Air lumpur yang sudah diolah kemudian didulang untuk mendapatakan butiran-butiran emas. “Seandainya puya-nya bagus, sekali proses saya bisa dapat sekitar 16 gram. Jika jelek paling rendah empat gram saja,” akunya. Hasilnya lalu dijual ke penampung emas, dengan harga per gramnya sekitar Rp500 ribu.*

 

Berita Terkait