Malu pada Semut

Malu pada Semut

Selasa, 25 Agustus 2015 02:08   3,321

Rasanya malu pada cacing. Makhluk menjijikkan yang hidup di tempat-tempat kotor ini ternyata memberi manfaat yang sangat besar bagi kehidupan makhluk-makhluk lain di muka bumi ini.Terutama bagi kehidupan umat manusia. Sepanjang hidupnya, cacing hanya berpikir dan berbuat menyuburkan tanah tempat tinggalnya agar tanah tersebut subur bagi tanaman yang tumbuhnya di atasnya, dan tanaman yang subur sangat bermanfaat bagi kehidupan. Baginya, sekalipun terhina, namun memberi manfaat, sementara banyak mahkluk yang dipuja, disanjung dan dibayar mahal, tidak memberi manfaat, bahkan tidak jarang membawa sengsara atau petaka. Orang bijak berkata, “cara terbaik merusak bangsa adalah membayar mahal mereka yang tidak bekerja dan/atau bekerja tidak professional. Fenomena ketidakadilan tersebut terjadi di negeri ini, dan semoga pembaca tidak menjadi bagian (pesusak-perusak bangsa) di dalamnya.  

Selaku manusia atau khalifah yang diberi banyak kelebihan oleh Allah Swt, melebihi dari apa yang diberikanNya kepada malaikat semestinya manusia memberi manfaat lebih banyak dari makhluk lain di muka bumi ini.  

Semut adalah makhluk hidup dengan populasi terpadat dan spesies terbanyak, yakni 8.800 spesies di muka bumi ini.

Jenis serangga yang sudah lama kita kenal dan kita temui di mana-mana, namun tidak pernah benar-benar kita perhatikan dan pahami, apabila mau belajar dari kehidupannya. Bukankah Allah Swt berfirman, “Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tananan yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali” (Surat Qaf:7-8)

Harun Yahya (2002) dalam bukunya “The Miracle in The Ant” mengatakan bahwa dari semut yang sangat trampil, sangat sosial  dan sangat cerdas ini, manusia dapat belajar tentang membangun karakter, teknologi, kerja gotong royong, strategi militer, jaringan komunikasi, hierarki rasional dan cerdik, disiplin, perencanaan kota yang sempurna, dan seterusnya.

Dalam bidang-bidang tersebut, manusia mungkin jarang cukup berhasil, sementara semut sudah sejak lama atau mendahului zamannya selalu sukses. Karakteristik ketrampilan, sosial, dan cerdas inilah yang membuat penulis malu pada semut.

Beberapa diantara sikap dan perilaku semut yang sangat diperlukan pada saat ini antara lain; integritas, kerja keras pantang menyerah dengan menggunakan potensi yang dimiliki penuh kesungguhan, organisasi sosial, dan komunikasi efektif.

Yang tercecer dari kisah membela dan mempertahankan keyakinan mengesakan Allah Swt, nabi Ibrahim ra dibakar hidup-hidup oleh raja Namruj. Tetapi Allah Swt berkehendak lain, justru yang terjadi nabi Ibrahim ra merasa kedinginan atas pembakaran dirinya itu adalah kehadiran semut yang berusaha memadamkan api.  

Singkat cerita, di saat api mulai berkobar, datanglah seekor semut membawa setetes air di ujung mulutnya. Perilaku semut tersebut dilihat oleh seekor burung elang seraya bertanya, “Hai semut, kamu mau apa ada di situ?”.

Semut menjawab, “Aku mau memadamkan api agar nabi Ibrahim ra tidak terbakar!”. Tidak mungkin semut, setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu”, kata elang. Berulang-ulang kali burung elang mengingatkan, akhirnya semut berkata, ini kulakukan; “Setidaknya Kau Tahu Dimana Posisiku”.    

Sekalipun hanya memiliki setetes air di mulutnya, seekor semut berupaya menyelamatkan nabi Ibirahin ra atau nabi yang diyakini oleh semua agama samawi (Islam memanggilnya Ibrahim ra dan Nasrani memanggilnya Abraham) sebagai nabi yang membawa risalah keimanan. Dari peristiwa ini, sang semut mengajarkan kepada manusia setidaknya tiga hal; (1) menunjukkan identitas diri dalam sebuah perjuangan tidak ada salahnya, justru yang salah menurut penulis adalah bersikap “abu-abu”, hipokrit atau munafik dimana perkataannya tidak sesuai perbuatannya.

Sayangnya banyak orang menyakini bahwa kebohongan itu adalah sebuah strategi dalam mencapai kemenangan. Meminjam istilah Amien Rais, kelompok manusia seperti itu ibarat “Kancil Pilek”, yakni hidup yang tidak memiliki integritas dan istiqomah, melainkan hanya cari selamat; (2) komitmen pada kebenaran atau membela yang benar, bukan membela yang bayar sebagaimana banyak terjadi akhir-akhir ini dimana kebenaran disembunyikan dan kejujuran tak dihargai; (3) demi tegaknya kebenaran di muka bumi ini diperlukan pengorbanan, sekecil apapun yang dimiliki harus siap dikorbankan. Demikian sebaliknya, ketidakbenaran yang terjadi harus segera dikritik, karena pembiaran terhadap ketidakbenaran atau kesalahan itu, mengakibatkan ketidakbenaran atau kesalahan itu menjadi kebenaran.

Dan kita yang selama ini membiarkan atau tidak mengkritisasi ketidakbenaran itu tanpa disadari telah menjadi bagian yang merusak kehidupan ini. Mahatma Gandhi mengatakan, “Satu kesalahan ditoleransi, berarti pada waktu bersamaan seribu kesalahan diundang”. Jika dikaitkan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) nanti, suara pembaca miliki lebih bermakna dari setetes air di mulut semut itu.

Oleh karena itu malulah pada semut, maka gunakan suara pembaca sesuai hati nurani masing-masing, jangan menjual suara dengan harga yang sangat murah hanya untuk kesenangan sesaat.         

Kehidupan sosial koloni semut sebagaimana dikatakan Caryle Haskin selaku Kepala Institut Carnegie di Washington bahwa, “setelah 60 tahun mengamati dan mengkaji secara tekun kehidupan semut, saya menaruh takjub melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut. Semut adalah makhluk yang dapat hidup dalam sistem sosial dan berkelompok sejak mereka hari pertama diciptakan, mereka tidak dapat bertahan hidup sendirian.

Pengorbanan semut terhadap sesama juga sangat tinggi dan telah menemukan penyelesaian praktis dalam menghadapi kelaparan warga semut, sementara manusia masih mencari model terbaik bagi pelayanan sosial masyarakat ini.

Pengorbanan terbesar yang dilakukan semut demi koloninya adalah menghancurkan koloni musuh dengan cara bunuh diri. Mereka rela mati demi kelangsungan hidup komunitasnya, khusus bagi semut jantan (laki-laki) dimana mereka rela mengikuti upacara perkawinannya yang dalam hitungan jam dan hari berakhir dengan kematiannya”, dikutip dari Harun Yahya (2002).   

Manusia dapat belajar komunikasi efektif kepada semut, coba perhatikan ketika dua ekor semut bertemu, ia melakukan gerakan tertentu, yakni menyentuh kawan atau temannya dengan antena serta mencium feromonnya. Kemudian kedua semut tersebut melanjutkan perjalanannya.

Mereka melakukan gerakan ini untuk saling mengenal dan untuk melindungi diri dari makhluk asing. Dan melalui silaturahmi atau bersalam-salaman ini mereka saling berbagi informasi. Janji Allah Swt dimana ajaran silaturrahmi ini menyebabkan panjang umur dan murah rezeki.

Godwell penulis buku laris internasional dalam salah satu bukunya menceritakan rahasia panjang umur (rata-rata lebih dari 100 tahun) suku Roseta di Italia yang dikenal pemakan daging dan gula dalam jumlah besar yang menurut ilmu kesehatan harus dikurangi karena dapat menimbulkan penyakit, terbukti tesis tersebut tidak berlaku bagi suku Roseta. Setelah dilakukan riset ulang oleh ahlinya, disimpulkan panjang umur suku Roseta karena masyarakatnya berkepribadian senang melakukan silaturrahmi dan hormat kepada orang yang lebih tuanya (Penulis, Dosen FKIP Untan)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019