Malam Datang, Ibu Kota seperti Kota Mati

Malam Datang, Ibu Kota seperti Kota Mati

  Minggu, 17 April 2016 09:45
BERDAMPINGAN: Di Stasiun Metro, Pyongyang ini, kereta buatan Korut (kanan) berdampingan dengan kereta buatan Tiongkok (kiri). JAWAPOS

Ibu kota negara biasanya the city that never sleep, kota yang hidup 24 jam. Namun, hal tersebut tak berlaku di Pyongyang. Kota terbesar, pusat bisnis dan pemerintahan, itu hanya hidup saat siang. 

----

SELAMA di Pyongyang, saya menginap di Hotel Yanggakdo. Sebuah hotel megah dengan 47 lantai dan 1.001 kamar. Lebih tepatnya 46 lantai. Sebab, di Korea Utara ada kepercayaan bahwa 5 adalah angka sial. 

Itu sama halnya etnis Tionghoa yang menganggap angka 4 adalah angka sial. Di lift hotel yang sering macet tersebut, tidak ada angka 5 di tombol pilihan lantai.

Begitu masuk ke hotel itu, saya sulit untuk keluar sekadar jalan-jalan. Sebab, hotel tersebut terletak di sebuah pulau di tengah Sungai Taedong yang dihubungkan dengan jembatan Yanggak. Tidak ada taksi yang ngetem di hotel tersebut.

Namun, di hotel bintang lima itu, semuanya lengkap. Kasino, berbagai restoran, boling, biliar, karaoke, toko suvenir, toko buku, dan spa tersedia. 

Di lantai paling atas hotel, yakni lantai 47, ada restoran memutar. Di dalam restoran itu, saya serasa berada di menara air traffic control (ATC) bandara. Dari restoran tersebut, saya bisa melihat wajah Pyongyang dari berbagai sisi.

Transaksi di hotel tersebut menggunakan mata uang asing RMB (Tiongkok), dolar AS, dan euro. ’’Warga asing tidak diperkenankan memiliki won,’’ kata  Choe Yon-ok, salah seorang guide. 

Tidak hanya di hotel, untuk berbelanja, juga digunakan RMB, USD, atau EUR. Sayang, nilai tukarnya tidak standar. Bergantung toko masing-masing. Lebih enak membawa RMB atau EUR. Kalau USD rasanya kebanting banget kursnya.  

Harga air mineral, misalnya, adalah RMB 2 (Rp 4 ribu). Kalau bayar pakai USD bisa kena USD 0,5 (Rp 6.500). Kalau kurs resmi dari pemerintah, USD 1 adalah 108 won. 

Komunikasi juga menjadi kendala bagi turis. Nomor  ponsel yang saya bawa dari Indonesia sudah pasti tidak bisa digunakan. Turis bisa membeli nomor perdana lokal dengan harga USD 80. Atau menyewa kartu SIM USD 60 untuk tiga hari. Itu pun hanya untuk berkomunikasi dengan nomor lokal. 

Tidak banyak warga asing di Pyongyang. Kantor kedutaan besar juga tidak banyak. Indonesia salah satu negara yang memiliki kedutaan besar. Di Pyongyang ada 31 warga Indonesia. Sebanyak 30 di antaranya adalah keluarga besar KBRI. ’’Satu lagi adalah babysitter-nya anak Dubes Sudan,’’ kata Bambang Purwanto, first secretary KBRI di Pyongyang. 

Katini, nama babysitter itu, berasal dari Indramayu. Dia ikut sejak Dubes itu masih tinggal di negaranya. ’’Saking baiknya, ulang tahun babysitter anaknya dirayakan mengundang diplomat-diplomat asing di Pyongyang,’’ kata Bambang.

Untuk beribadah, hanya ada satu masjid di Pyongyang. Itu pun milik kedutaan besar Iran. Warga Indonesia yang muslim salat Jumat di masjid tersebut. ’’Kami juga sering merayakan hari raya Islam bersama-sama,’’ katanya.

Pyongyang hanya hidup saat siang. Ketika malam, kota tersebut seperti kota mati. Memang trem bus masih jalan. Isinya adalah pekerja yang pulang ke rumah. Namun, tidak banyak. Taksi juga sudah jarang. Tidak ada hiburan malam di sini. 

Sebenarnya pemerintah Korut membangun banyak taman bermain di tengah kota. Juga, ada Kaeson Youth Park, semacam Surabaya Carnival. Namun, sarana itu hanya buka saat musim panas. 

Transportasi publik di Pyongyang bisa dibilang cukup bagus. Ada lima pilihan transportasi dalam kota. Yakni, taksi, bus, metro (subway), bus trem (listrik), dan trem. Kecuali taksi, harga tiketnya sangat murah, yakni 5 won jauh-dekat. Mungkin tidak sampai Rp 3 ribu. 

Saya sempat merasakan naik metro dari Stasiun Ponghwa ke Kaeson. Korut telah memiliki industri kereta api sendiri. Kereta bawah tanah itu awalnya didatangkan dari Tiongkok dan Jerman. Kemudian, mereka mempelajari dan akhirnya bisa membuat sendiri. 

Yang menarik adalah arsitektur stasiunnya. Untuk menuju tempat kereta, saya akan menuruni eskalator sepanjang 100 meter dan sangat curam. Barangkali kemiringannya 45 derajat. Panjang sekali. Dan konon, eskalator itu sering macet. Terbayang kalau saat naik dan eskalator macet, saya harus mendaki cukup terjal. Dengan posisi stasiun yang sangat dalam, mirip bungker, rasanya akan aman bila kota itu dibom. 

Di semua stasiun juga terdapat foto Kim Il-sung dan Kim Jong-il. Di tembok stasiun ada gambar-gambar yang membangkitkan patriotisme. Di bagian tengah stasiun ada Koran umum yang ditempel di kaca. Warga Pyongyang menunggu datangnya kereta sambil membaca koran. Koran di Korut terikat aturan harus memasang foto Presiden Kim Jong-un sebagai foto utama halaman 1. 

Baru ada dua jalur subway. Yakni, dari Puhung ke Pulgunbyol dan dari Kwanbok ke Rakwon. Masing-masing melewati tujuh stasiun. Interchange berada di stasiun Jonsung.

Masih banyak cerita tentang Korea Utara. Pada rubrik yang lain di edisi mendatang, saya ulas tempat-tempat wisata, perbatasan Korut-Tiongkok, anak-anak TK di Korut, bintang film Korut, hingga perhelatan Pyongyang Marathon 2016. (*/c10/kim)