Maksimalkan Negative Space

Maksimalkan Negative Space

  Kamis, 5 January 2017 09:30
Muhammad Taqi

Berita Terkait

BANYAKNYA ruang kosong (negative space), membuatmu lebih mudah dalam mengembangkan kreativitas. Jangan heran jika ungkapan ‘sedikit itu lebih banyak’. Sangat tepat dalam menggambarkan konsep fotografi minimalis. Cukup menentukan komposisi, farming dan subjek yang tepat. Bisa menghasilkan karya yang biasa, menjadi lebih berkesan dan menarik.

Terjun di bidang fotografi, khususnya konsep minimalis menjadi pilihan terbaik yang diambil oleh Muhammad Taqi. Cukup menggambungkan antara objek, warna dan memadukannya dengan imajinasi. Terciptalah karya fotografi minimalis yang berbeda dengan konsep folk maupun street. “Sangat sulit menerapkan konsep folk dan street di Pontianak. Kalo folk rada bingung dalam menentukan lokasi. Sedangkan street sulit untuk mendapatkan izin, karena setiap orang punya hak untuk menolak lokasinya di foto,” curhatnya.

Dalam menentukan konsep dan teknik fotografi minimalis, Taqi selalu memaksimalkan apa yang dibutuhkan. Seperti dinding, properti dan objek. Baru setelah itu, ia akan melanjutkan ke teknik foto. Proses pengambilan gambar pun disesuaikan dengan keinginan. Bisa dengan cara low angle, high angle maupun bermain perspective. Yang pasti, semua kembali pada imajinasi sang fotografer.

Sebagai seorang fotografer, Taqi nggak pernah lupa untuk memperbanyak referensi agar hasil foto sesuai dengan yang diinginkan. Beruntung, banyak spot di Pontianak yang bisa diexplore. Serunya, terkadang saat mencari spot, Taqi harus berurusan dengan satpam, terutama untuk urusan izin tempat pemotretan. But, demi suatu karya, cowok kelahiran Pontianak, 18 April 1995 ini tetap semangat. Dalam seminggu, Taqi bisa menemukan dua spot untuk diexplore.

Namanya juga minimalis, sudah pasti akan terlihat sederhana. Mengatasi hal itu, alumnus Politenik Negeri Pontianak ini kerap menambahkan objek menggunakan aplikasi picsart. Tentunya agar hasil foto lebih menarik dan indah. “Seperti salah satu fotoku yang memberi tambahan objek donat di atas kepalanya. Menggambarkan ketiganya sedang memikirkan hal yang sama, yaitu donat. Karena kebetulan juga sama-sama sedang lapar,” cuapnya. 

Kerennya lagi, hampir seluruh karyanya ini diambil dengan menggunakan kamera handphone. Jadi sobat Z jangan takut atau nggak pede. Toh, nggak selamanya berkarya harus menggunakan alat super canggih dan bagus. Karena yang dinilai dari suatu karya adalah kreativitas, ketelitian, kerapian dan kelucuannya. “Usahakan memaksimalkan apa yang kamu punya, terutama jika kamu termasuk orang yang suka berimajinasi. Nggak ada salahnya mencoba konsep forografi minimalis. Asal jangan menekuni hanya karena ingin ikut-ikutan,” tutup cowok yang juga suka olahraga ini. (ghe)

 

Berita Terkait