Makan Ikan Busuk & Harta Dijarah

Makan Ikan Busuk & Harta Dijarah

  Selasa, 26 April 2016 09:09

Berita Terkait

Sebanyak 112 pekerja migran asal Indonesia dipulangkan oleh Pemerintah Malaysia. Sebelum dideportasi, pekerja migran itu melewati masa-masa sulit: makan ikan busuk hingga merelakan harta jerih payah kerja kerasnya dijarah oleh petugas di Malaysia. Tak ada lagi sisa untuk keluarga, hanya pakaian yang melekat di badannya. 

“DI Imigresen Malaysia, kami makan ikan busuk. Sayur kangkung ada rumput dan kayu,” kata Geweng (22), seorang pekerja migran yang dideportasi dari Malaysia.

Geweng, nama yang dipilihnya. Ia memilih geleng kepala ditanya nama asli pekerja migran asal Bima, Nusa Tenggara Timur di pos penjagaan Dinas Sosial Kalbar. Alasan Geweng sederhana. Pulang dengan selamat dan tidak kembali tertangkap.

Pria berbadan kurus, berambut cepak itu bersedia membeberkan kisah sebelum akhirnya tiba di Selter Dinsos Kalbar. Perlu waktu berbulan-bulan, sebelum akhirnya bebas. 

Selama satu bulan mendekam di Imigreseen Malaysia, ada banyak hal yang Geweng lihat di luar nalar sehatnya. Mulai perampasan, pemukulan, hingga ancaman pulang tinggal nyawa, apabila berani melaporkan ke Konsulat Jenderal Indonesia di Sarawak.

“Tak ada yang berani melapor ke Konsulat, tentang perlakuan petugas Imigrasi. Ancaman nyawa, sampai disiksa,” kata Geweng.

Saat menjadi tahanan di Imigresen Malaysia, dilarang berbicara keras. Saat berbincang, diwajibkan berbisik. Apabila obrolannya terdegar di telinga petugas, bisa nahas: hukumannya mulai dijemur di semen hingga muntah. 

“Kalau ada yang melawan, dihantam, dengkulnya. Tak kenal tua muda. Ada juga yang sampai lumpuh,” ujar Geweng mengenang cerita pahit rekan pekerja migran yang hingga kini masih menjalani masa tahanan di Imigresen Malaysia.

Geweng mengaku menjadi pekerja migran di Malaysia melalui jalur resmi. Sudah tiga tahun dia menjalani hari menjadi buruh di perkebunan sawit. Menjadi pekerja kasar di negeri orang, bukan perkara mudah. Selain dihantui kecemasan, dia juga mengaku kerap tidak dibayar oleh majikan. 

Geweng mengaku tertangkap disebabkan oleh belum adanya cap di paspor miliknya. Saat ditangkap, dirinya dibawa ke Balai Police ditahan 15 hari hingga menunggu masa putusan hukuman dari Mahkamah. “Putusan Mahkamah beragam, tangkapan Imigran tiga bulan. Lepas masuk penjara enam hingga satu tahun, ada yang kena rotan enam kali,” kata Gewes. 

Petugas keamanan di Malaysia, kata Geweng, kerap mencari kesalahan warga Indonesia. Meski surat-surat lengkap, kadang ada saja kesalahannya. “Orang Indonesia paling unggul (banyak) di Imigrasi. Petugas tak kenal tempat kalau menangkap, lagi kerja di tempat tidur dikepung sama Imigrasi, mereka sengaja, cari uang,” ungkapnya.

Penghuni tahanan Imigressen Malaysia, paling banyak pekerja migran asal Indonesia. Dari 121 yang dipulangkan beberapa hari yang lalu, kata Geweng, Kalbar terbanyak. Setelah menjalani hukuman dan dipulangkan, maka Imigrasi akan mencari pengganti. “Sebanyak 13 orang bebas, 80 orang masuk. Sebelum saya bebas, 150 lebih orang masuk penjara di Puncak Borneo. Saya lihat langsung mereka. Bebas dua, tujuh masuk, cari gantinya,” ungkapnya.

Saat masuk menjadi tahanan Imigreesen Malaysia, semua harta benda milik pekerja migran dirampas. Bukanya hanya uang, dan perhiasan, tapi juga pakaian. Di Penjara Borneo, kata Geweng, keadaannya lebih tenang daripada di Imigresen. Tidak ada larangan dan kekerasan yang terlihat.

“Enak di penjara. Kalau di Imigreesen, tua muda diperlakukan sama, ada yang salah dipukul, sampai berdarah, hidung pecah, ada yang lumpuh. Makanan di Imigresen dengan ikan busuk, terpaksa kami makan demi menyambung napas dan bertahan hidup,” kata Geweng mengenang. 

Geweng termasuk beruntung meski enam juta rupiah uang miliknya dirampas oleh petugas akan tetapi hanphone jadulnya tidak ikut disita petugas saat dibebaskan. Dia masih bisa menghubungi keluarga di NTT, untuk memberitahukan kabar beritanya. Tapi tidak bagi bekas pekerja migran lainnya.

Sumaji, misalnya, lelaki paro baya ini sudah tiga hari tak mengantongi sepeser  rupiah dikantongnya. “Yang tersisa cuma baju di badan. Uang, HP dirampas,” kata  Sumaji (58), TKI yang dideportasi dari Malaysia. 

Begitu juga dengan Bima Nurdin dan Fahrul. Ketiga pekerja migran ini nyaris tak punya sepeserpun uang untuk kebutuhannya selama di Selter Dinsos Kalbar. Padahal, masing-masing dari mereka, ada membawa pakaian, perhiasan, juga uang. 

“Barang bawaan habis disita petugas. HP yang bagus harga tiga jutaan, juga disita,” kata Sumaji diamini ketiga rekannya. 

Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kalbar Yuline Marhaeni mengatakan, dari 112 pekerja migran yang dideportasi itu, semunya ilegal. Rencananya, Sabtu ini, pekerja migran asal Jawa akan dipulangkan.

“Kami sudah ada MoU dengan Pelni. Sabtu akan dipulangkan. Ilegal semua, kalau lengkap tak mungkin dipulangkan. TKI dari Kalbar, dipulangkan menggunakan bus,” kata Yuline di Kantornya, Senin (25/4). 

Pihaknya mengimbau, agar jangan kembali ke sana. Ditambahkan Yuline, dia bilang di daerah sendiri paling enak, bisa cari pekerjaan dengan mudah. 

Yuline mengaku prihatin melihat kondisi pekerja migran yang mengalami memar dibagian tubuh saat datang di Selter Dinsos Kalbar. Kondisi pekerja migran akan aman ketika sudah di Konsulat Jenderal RI di Malaysia, sebab di sana ada tempat yang nyaman, mendapatkan bimbingan dan siraman rohani. 

“Kami melihat di sini ada yang habis biru, kena siksa ditangkap polisi udah gitu mereka tidak lengkap dukomennya ada juga yang trauma,” katanya. (gus)

 

 

Berita Terkait