Makam Fiktif

Makam Fiktif

  Jumat, 12 Agustus 2016 09:52   446

Oleh: Ferry Yasin

DALAM sejarah pemakaman di Indonesia, mungkin, ini baru pertama kali terjadi. Ya, makam fiktif alias tidak benar-benar sebuah makam. Mirip dengam makam asli, ada gundukan tanahnya, plus rerumputan yang dipelihara dengan baik. Ada nama dari ‘orang yang meninggal’ serta tanggal lahir dan  kematian di batu nisannya. Tetapi, siapa sangka makam itu bila dicucukkan sebuah besi panjang ke dalamnya, ternyata mentok karena tanahnya keras. Beda dengan makam asli yang bisa menembus hingga satu meter kedalamannya, karena memang tanahnya pasti berongga atau gembur.

Fenomena ini cukup menggelikan, tetapi benar-benar serius. Ternyata, di ibukota negeri kita, hampir semua tempat telah menjadi ladang korupsi, baik yang kaliber kakap maupun tingkat teri. Makam fiktif ini adalah salah satu contohnya. Berangkat dari kekhawatiran masyarakat takut tidak mendapat tempat kelak pada hari matinya, ia sudah memesan tempat terlebih dahulu kepada para petugas makam dengan sejumlah uang tertentu. Untuk mengelabui pihak lain  seolah-olah pemakaman sudah penuh maka dibuatlah makam fiktif.

Ketakutan masyarakat tidak mendapat tempat pemakaman sebenarnya kurang beralasan. Dengan luas tanah di Jakarta yang 661.5 km persegi, luas pemakaman seluruhnya 589.65 ha yang terdapat di 96 tempat pemakaman umum (TPU). Yang terpakai sudah 355 ha dan sisanya masih 234 ha. Dengan jumlah penduduk Jakarta sekita 10 juta jiwa dan rata-rata tingkat kematian 0.64% per tahun, sebenarnya tidak ada alasan masyarakat untuk takut terhadap ‘rumah masa depannya’. Tetapi karena ketiadaan informasi dan pembohongan publik demikian menyebabkan mereka merasa was-was tidak mendapatkan tempat.

Bagi yang bisa menyediakan uang  untuk hari H tersebut tidak masalah, bagaimana dengan mereka yang hidup pas-pasan. Jargon masyarakat Jakarta hidup susah mati pun susah adalah suatu realita yang niscaya. Perda DKI Jakarta No.1 Tahun 2015 tetang retribusi daerah, sewa tanah paling tinggi sebesar seratus ribu rupiah per bulan selama tiga tahun, dan setelahnya harus diperpanjang. Memang, tidak sedikit biaya mati di ibukota, sehingga banyak mereka yang menguburkan sanak saudaranya di kampung halamannya. Banyak yang pulang kampung karena faktor biaya, tetapi ada juga yang lebih nyaman dikuburkan di kampung halamannya lebih kepada ikatan batin dengan tanah leluhurnya.

Mahalnya biaya mati menyebabkan, kini orang di kota besar tidak hanya merencanakan hidup agar hidup lebih layak, merencanakan  pensiun agar ketika sudah tidak bekerja bisa menikmati hidup dengan semestinya, tetapi juga merencanakan hari matinya agar tidak menjadi beban bagi yang ditinggalkan. Merencanakan pernikahan dengan segala biaya dan pernak-perniknya ada wedding consultant. Merencanakan hidup dan hari tua ada asuransi dan financial consultant. Merencanakan mati pun kini ada konsultannya, bahkan ada marketingnya dan disediakan pula pemakaman eksklusif di wilayah Kerawang Jawa Barat buat warga ibukota yang ingin mati secara bergengsi.

Ketika sebuah kota semakin padat, dan dunia bisnis semakin menggeliat, maka tak bisa ditampik harga tanah makin membumbung tinggi. Di Singapura,  setiap jengkal tanahnya memiliki harga yang sangat berarti. Pemakaman Bidadari yang ada di negeri Singa itu dibersihkan dan kini menjadi kota kecil dengan fasilitas super mewah. Beberapa pemakanan sudah dibongkar dan digantikan dengan bangunan gedung, perkantoran, hotel dan apartemen.

Sama halnya dengan yang terjadi di Jakarta. Ketika harga tanah melambung tinggi, dan tak sejengkal pun tanah tersedia bagi manusia untuk eksis, hidup dan bekerja, maka pilihannya adalah pemakaman. Kacamata  pengusaha dan pebisnis, melihat pemakaman bukanlah sebagai pemakaman, tetapi aset tanah yang memiliki nilai strategis dan produktif untuk bisnis. Tidak heran, tidak sedikit TPU semenjak tahun 1970an yang telah berfungis menjadi gedung perkantoran dan daerah perdagangan. Pemakaman yang ada direlokasi ke pinggiran atau luar kota. Tidak ada bagi mereka kata angker atau pamali, karena business must go on.

Di negara Barat salah satu solusi ketiadaan tempat pemakaman adalah kremasi. Pemerintah menyediakan krematorium untuk memfasilitasi proses itu. Tetapi di negara dengan budaya menguburkan orang mati dengan cara yang khas, apalagi didasari pada agama-agama samawi yang tidak memperkenankan dengan keras kremasi, kebutuhan tanah akan terus ada dan meningkat. Hal ini tidak menjadi masalah di daerah-daerah, bahkan keluarga yang memiliki cukup lahan bisa mengadakan pemakaman keluarganya sendiri, tetapi bagaimana dengan di kota besar.

Paradigma kita belum menempatkan pemakaman sebagai sebuah etalase atau tampak depan pembangunan. Pemakaman dianggap sebagai masalah urusan akhirat belaka, jadi jarang ditangani dan dimanajemeni dengan baik. Selalu masalah kunci kota besar adalah jumlah penduduk yang terus meningkat dan ketersediaan lahan yang terbatas. Dan lahan banyak dialokasikan untuk proyek-proyek mercusuar sebuah kota, dan bukannya pemakaman.

Tidak heran kalau kita pergi ke sebuah pemakaman yang ada hanyalah tempat yang tidak nyaman, tidak teratur, terbengkelai dan tidak terawat. Diketemukannya makam fiktif adalah bukti carut marutnya birokrasi kecil tingkat manajemen pemakaman yang harus segera dibenahi. Pemerintah telah dengan kerja keras mengatur segala aspek kehidupan berkenaan dengan kesejahteraan agar hidup menjadi nyaman, tetapi jangan lupakan juga mereka yang telah mendahului kita. Supaya makam fiktif tidak terus menjadi misteri.

*) SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab. Kubu Raya