Main Gadget, Risiko Mata Lelah hingga Degenerasi Makula

Main Gadget, Risiko Mata Lelah hingga Degenerasi Makula

  Sabtu, 25 June 2016 11:21

Berita Terkait

SAAT bangun tidur, yang dilihat pertama pasti gadget. Demikian pula saat mau tidur. Entah jomblo ataupun tidak, gadget nomor satu.

Pemakaian gadget sering tidak memedulikan situasi. Misalnya, soal pencahayaan. Asalkan tulisan di handphone, tab, atau laptop bisa terbaca, tidak masalah membuka ini-itu di tempat gelap.

”Pada gadget, yang berbahaya itu terekspos blue violet light,” kata spesialis mata RSUD dr Soetomo dr Randi Montana SpM.

Blue violet light tersebut timbul dari cahaya yang dipancarkan gadget. Dampaknya bisa mempercepat age-related macular degeneration (AMD) atau degenerasi makula.

Mekanismenya, blue violet light pada gadget akan masuk dan merusak retina. Dampaknya, AMD dan risiko katarak (kekeruhan lensa). Menurut Randi, sebenarnya katarak merupakan penyakit degeneratif.

Artinya, penyakit tersebut timbul lantaran pertambahan usia. Mereka yang berusia lanjut akan berisiko katarak.

Nah, pada mereka yang rutin menggunakan gadget, terutama di tempat gelap, risiko terkena katarak maju lebih cepat.

”Namun, ini berlangsung bertahun-tahun, tidak cukup satu dua tahun saja,” tutur dokter yang juga praktik di RS Mata Undaan itu.

Dampak yang bisa cepat dirasakan adalah mata kering dan mata lelah. Tanda mereka yang mengalami mata lelah adalah tidak nyaman saat melihat. Terasa perih.

Selain itu, bisa berdampak pusing. ”Kalau yang parah, pusingnya bisa lama,” jelas Randi.

Mata lelah muncul ketika pemakaian gadget berlangsung lebih dari dua jam tanpa henti dengan cahaya monitor yang kuat.

Pemakaian gadget di tempat gelap rupanya memperparah kondisi tersebut. Kelelahan mata saat melihat gadget di tempat gelap timbul karena fokus mata.

Pada handphone, misalnya, tulisan kecil-kecil. Selain itu, penggunanya membaca dengan jarak kurang dari 30 cm. Nah, pada saat gelap, pupil membesar.

Pada saat yang sama, cahaya dari handphone masuk ke mata. Memang, huruf pada gadget terbentuk dari titik-titik kecil. Sementara pada buku, hurufnya rata.

”Beda dengan buku atau tulisan yang dicetak, tidak mengakibatkan mata lelah,” jelasnya.

Penggunaan gadget di tempat gelap juga memengaruhi pemakaian kacamata. Apalagi, mereka yang mempunyai riwayat keturunan memakai kacamata.

Bahkan, mereka yang orang tuanya tidak memakai kacamata pun berisiko berkacamata jika terlalu lama menggunakan gadget.

Berdasar pengalaman Randi, sepuluh tahun lalu pasien dengan masalah mata minus berasal dari kalangan orang tua. Namun, lima tahun terakhir, justru banyak pasien anak-anak dan remaja.

Lagi-lagi, Randi menjelaskan, hal tersebut bisa dikaitkan dengan dampak penggunaan gadget.

”Per hari 10 persen pasien di klinik dipastikan bermasalah dengan penglihatan. Kalau dulu, kebanyakan yang datang ke dokter mata karena mata merah,” cerita Randi.

Dia menambahkan, penggunaan gadget memang tidak bisa dihindari. Meski demikian, sudah selayaknya pemakainya mampu membatasi.

”Khawatirnya 20 tahun lagi, lebih banyak remaja Indonesia yang menggunakan kacamata,” tuturnya. (lyn/c7/nda/sep/JPG)

Berita Terkait