Mahasiswa Belajar Menjadi Guru

Mahasiswa Belajar Menjadi Guru

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:28   578

Oleh: Y Priyono Pasti

KETIKA “matahari” dalam diri guru meredup, maka sekolah bukan lagi tempat subur penyemaian nilai-nilai kehidupan, melainkan tempat yang akan membawa manusia muda terjebak ke jurang gelap tak bertepi (Herman J.P. Maryanto, 2011). Berprofesi sebagai guru merupakan pekerjaan mulia. Tidak semua orang bisa menjadi guru. Hanya orang-orang terpilih dan mendapat panggilan khusus saja yang bisa menjadi guru. Karena itu, menjadi tuntutan bagi mahasiswa calon guru untuk belajar menjadi guru yang profesional. 

Dalam kerangka belajar menjadi guru yang profesional itulah, pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 ini, puluhan bahkan ratusan mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura Pontianak mulai melakukan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sejumlah sekolah yang ditunjuk. 

Di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, sebagai salah satu sekolah tujuan PPL, pada Sabtu (30/7) ada 29 mahasiswa FKIP Untan dari berbagai jurusan yang diantar dan ‘diserahkan’ oleh perwakilan dosen pembimbingnya, Dr. Laurensius Salim kepada pihak sekolah untuk memasuki kesejatian panggillan mereka sebagai guru. Mengapa mahasiswa calon guru perlu belajar intens menjadi guru? Tulisan ini mensharingkannya.

Mesti disadari, menjadi guru bukanlah pekerjaan gampang. Menjadi guru tidak hanya sekadar menjadi pengajar dan pelatih. Lebih dari itu, guru mesti menjadi pendidik yang hebat, yang mampu mempengaruhi dan menginspirasi para siswanya (inspiring teacher). 

Guru mesti menyadari perannya sebagai agen pembebasan dengan cara memasok kesadaran (consciousness), pengetahuan (knowledge), menciptakan keberdayaan (empowerment), dan pencerahan (enlightment) bagi para siswanya. Lebih jauh lagi, guru mesti memiliki kesadaran ideologis, yaitu mencita-citakan tatanan kemanusiaan yang dipahami dan dianggap mungkin untuk diciptakan. Ini berarti guru bersifat optimis (lih. F. Mu’in, 2011).

Jagat pendidikan kita dengan rupa-rupa dinamikanya saat ini sungguh membutuhkan guru-guru yang progresif. Alasannya, dalam benak dan batin seorang guru progresif hanya ada cara bagaimana mengubah kondisi sosial melalui perubahan kesadaran murid dan menyadari bahwa proses pendidikan adalah upaya untuk mengkritisi realitas yang terbentuk dan kesadaran siswa yang terbentuk pula oleh realitas itu.

Penulis berpendapat, calon-calon guru yang mulai memasuki kesejatian panggilannya sebagai guru mesti menjadi guru-guru yang progresif. Guru progresif menganggap bahwa pengetahuan itu penting, tetapi yang lebih penting adalah menggunakan pengetahuan untuk perubahan. Guru progresif percaya pada potensi pendidikan untuk perubahan dan menjadikannya untuk pengetahuan-bukan untuk sekadar menjalankan pekerjaan yang menghasilkan uang.

Guru progresif berusaha membuat siswa berpikir dan bertindak kritis. Ia ‘menantang’ siswanya untuk memahami bahwa dunia yang dihadirkan sebagaimana adanya adalah dunia yang diciptakan sehingga ia dapat diubah, ditransformasikan, dan direka ulang (lih. Paulo Freire).

Karena mencita-citakan perubahan, guru progresif mesti memiliki kemampuan untuk mendorong, menggerakkan, dan memberi keyakinan. Guru progresif adalah guru yang fungsinya sebagai motivator, yaitu membuat para siswa yakin bahwa mereka bisa berubah, tergerak dan termotivasi bahwa proses belajar memberi mereka pemahaman dan ketrampilan yang bisa membuatnya menghadapi dunia.

Terkait profesi sebagai guru ini, dalam bukunya Pembelajar di Era Serba Otonomi (2002, hlm. 72), Andrias Harefa, penulis buku best seller yang menyebut dirinya sebagai ‘Manusia Pembelajar’, menegaskan ada sejumlah hal penting yang mesti disadari dan diperhatikan oleh seorang (calon) guru. Sejumlah hal tersebut yakni (a) guru merupakan panggian jiwa yang tak mungkin “hilang”, (b) menjadi guru merupakan pilihan moral-spiritual, (c) guru tidak mengejar penghasilan melainkan mengejar kepuasan hatinya, (d) guru memiliki peran mengajar-belajar, bukan belajar-mengajar, (e) guru mensosialisasikan nilai-nilai luhur untuk hidup dan kehidupan, (f) guru berfokus pada minat, bakat, dan talenta siswa, (g) guru menempatkan siswanya sebagai mitra belajar yang potensial, (h) guru memiliki kemampuan mengajar di atas rata-rata sampai luar biasa, (i) guru adalah seorang pembelajar seumur hidup, dan (j) guru sejati tidak memandang gelar akademis sebagai hal terpenting.

Guru adalah nafas pendidikan. Menjadi guru adalah panggilan mulia. Mengajar dan mendidik pada hakikatnya adalah proses pemanusiaan manusia muda (para siswa) menuju kepenuhan kemanusiaannya. Para praktikan (mahasiswa PPL calon guru) mesti menyadari sepenuhnya bahwa proses itu akan berjalan efektif bila ditangani oleh tenaga guru yang ahli di bidangnya. Pada titik ini, keberadaan guru-guru yang hebat: cerdas-tangguh-profesional adalah kuncinya. 

Hal penting lainnya yang mesti diperhatikan dan disadari oleh mahasiswa calon guru, keberhasilan seorang guru adalah ketika wajah para siswanya berbinar-binar, terpancar kegembiraan dan kegairahan yang meluap-luap karena mendapatkan pemaknaan dari penyingkapan pengetahuan melalui proses pembelajaran yang difasilitasi gurunya.  Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan konstribusi bagi para praktikan (mahasiswa PPL calon guru) yang sedang menjalani kesejatian panggilannya sebagai guru. Marilah menjadi sosok guru bak “matahari” yang senantiasa memberi dan tak pernah berharap kembali. Mari kita memberikan cahaya, kehangatan, dan cinta yang tulus kepada setiap siswa kita. Mari kita menempatkan sekolah sebagai lahan subur penyemaian nilai-nilai kehidupan yang akan membawa para siswa ke taman harapan yang membahagiakan. Semoga!

 

*Penulis Seorang Pendidik 

Alumnus USD Yogyakarta

Humas SMP Sto. F. Asisi

Tinggal di Kota Pontianak