Madain Saleh, Peninggalan Bangsa Tsamud yang Masih Terjaga di Arab Saudi

Madain Saleh, Peninggalan Bangsa Tsamud yang Masih Terjaga di Arab Saudi

  Selasa, 11 Oktober 2016 09:30
GUNUNG JADI RUMAH: Qasr Al Bint, gunung berbatu yang dipahat menjadi tempat tinggal kaum Tsamud.

Berita Terkait

Megah dan Artistik dari Luar, Dalamnya Kamar Sempit

Mengunjungi Madain Saleh bisa mengingatkan dua hal. Satu sisi adalah kehebatan kaum Tsamud dalam mengukir gunung batu. Sisi lainnya, kehancuran mereka karena menjadi umat yang ingkar. Berikut laporan wartawan Fathoni P Nanda saat mengunjungi salah satu warisan dunia yang ditetapkan UNESCO itu.

------------

BAGI jamaah haji dan wisatawan yang datang ke Arab Saudi, mengunjungi Madain Saleh jelas membutuhkan stamina. Dari Madinah, perjalanan darat menuju kawasan yang juga disebut Al Hijr (Batu) tersebut bisa ditempuh sekitar empat jam. Itu pun harus dengan kecepatan rata-rata di atas 100 km per jam. Jaraknya sekitar 440 km arah utara Madinah.

Berkeliling di dalam kawasan Madain Saleh juga membutuhkan waktu lebih dari tiga jam. Itu pun terkadang belum menjangkau semua sudut meski sudah menggunakan kendaraan. Sebab, pengunjung juga harus berjalan kaki menyusuri hamparan pasir. Termasuk mendaki bukit batu jika ingin menyaksikan dari dekat peninggalan kaum yang diyakini pernah menempati kawasan itu 800 tahun sebelum Masehi (SM) itu. Air minum dalam jumlah banyak wajib dibawa bila ingin menjelajah hingga tuntas.

Sabtu lalu (8/10) saya bersama tim Media Center Haji (MCH) berkesempatan mengunjungi situs arkeologi yang pada 2008 ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan dunia itu. Berangkat dari Madinah sekitar pukul 08.00, masuk di kawasan Madain Saleh pada 12.00. Kecepatan mobil yang membawa rombongan selalu di atas 120 km per jam. Bahkan pernah menyentuh 180 km per jam.

”Ini sudah 140 km per jam, tapi kok rasanya masih pelan ya,” canda Ahmad Yani M. Tawil, satu di antara dua driver yang mengantar rombongan MCH. Jalanan dari Madinah menuju Madain Saleh memang sangat mulus. Setiap hari tak banyak kendaraan yang melintas. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi seperti menjadi hal wajib. Justru aneh kalau ada kendaraan yang berjalan pelan karena bisa menghalangi pengemudi lain.

Sekitar 200 km sebelum Madain Saleh, mata serasa mulai dimanjakan alam. Di kanan kiri jalan terpampang tanah gersang dan padang pasir yang diapit gunung-gunung batu. Tangan serasa tak ingin berhenti memencet shutter kamera meski mobil melaju dengan kecepatan tinggi.

Memasuki Kota Ula, 22 km sebelum Madain Saleh, penampakan gunung-gunung batu yang mengapit jalan makin mengagumkan. Tidak sekadar berbentuk kerucut, tapi seperti perbukitan yang dipahat alam sejak zaman prasejarah. Pegunungan sandstone yang sama dengan bukit-bukit batu di kawasan Madain Saleh, tapi ukurannya sangat besar.

Tak ada kesulitan untuk memasuki kawasan yang sempat dikenal dengan nama Hegra itu. Pengunjung tinggal menunjukkan kartu identitas atau paspor, kemudian dipersilakan masuk oleh petugas penjaga gerbang. Kadang penjaga hanya menanyakan dokumen identitas driver, kemudian menghitung jumlah penumpang di dalam mobil.

”Mereka sering hanya menghitung jumlah pengunjung. Tapi, kadang juga diperiksa satu per satu,” terang Hasim Hilaby, WNI yang bekerja di Arab Saudi dan menjadi pemandu rombongan MCH.

Gerbang kawasan Madain Saleh tak langsung bersentuhan dengan situs kota kuno dari pahatan batu itu. Masih dibutuhkan waktu berkendara sekitar 15 menit untuk sampai pada pahatan-pahatan batu yang disebut dengan istilah qasr (istana atau kastil). Berkendara juga harus pelan lantaran jalanan tidak rata dan sedikit berpasir.

Untuk memudahkan pengunjung, pengelola memberikan papan petunjuk arah untuk empat qasr. Yakni, Qasr Al San’e, Al Bint, Al Farid, dan Al Diwan.  

Al San’e disebut-sebut sebagai pintu gerbang karena paling dekat dengan persimpangan yang membagi kawasan-kawasan di dalam Madain Saleh. Bentuknya berupa dua bukit batu yang beberapa sisi permukaannya dipahat menjadi semacam bagian depan istana. Qasr Al Bint juga agak dekat dengan persimpangan masuk kawasan heritage Madain Saleh dan disebut-sebut sebagai kawasan residensial. Bentuknya berupa gunung batu besar yang dipahat menjadi rumah-rumah, melingkar di tiap sisinya.

Ada empat pahatan menyerupai istana yang ukurannya paling besar. Dari luar, pahatan-pahatan itu tampak sangat presisi. Kontur kasar gunung batu seperti diiris lurus menjadi tampilan depan istana yang rata dan halus. Ornamen-ornamen seperti dua pilar yang menyangga kuncup segi tiga, mirip arsitektur mediterania, tampak menempel di dinding batu. Ada pula pahatan berupa burung besar di atas pintu, tapi bagian kepalanya seperti sudah hilang.

Pahatan-pahatan istana itu selalu memiliki satu lubang atau pintu di bagian tengah. Masuk melalui pintu tersebut, yang ditemukan adalah pemandangan jauh berbeda. Dari luar sangat artistik dan megah, bagian dalamnya hanya berupa ruangan kecil seperti gua. Rata-rata ukurannya tidak lebih dari 3 x 3 meter. ”Aneh juga, jauh lebih kecil daripada tampilan luar,” papar Hasim.

Di beberapa pahatan qasr yang lebih kecil dan sederhana juga ditemukan ruangan dua lantai. Namun, ukurannya tetap kecil. Bahkan, ada makam di dalamnya.

Qasr atau istana terbesar adalah Al Farid. Bentuknya juga paling unik. Sebuah batu besar yang salah satu sisinya diiris rata dari atas ke bawah, kemudian dipahat menyerupai ornamen istana. Papan informasi di depan qasr menjelaskan, situs tersebut sebenarnya belum selesai dipahat. Itu terbukti dari permukaan istana yang kasar di bagian bawah, menyambung dengan pahatan halus di bagian atas. Pahatan ornamen pilar juga tidak sampai menyentuh dasar.

”Ada kesamaan di hampir semua qasr. Ornamen burung besar di atas pintu selalu hilang di bagian kepalanya. Seperti sengaja disingkirkan,” papar Hasim yang juga lulusan Al Azhar, Mesir, itu.

Sama dengan pahatan-pahatan qasr di Al Bint, bagian dalam Al Farid hanya berupa ruangan kecil. Di bagian depan juga tampak tertata batu-batu yang mirip makam. Sedikit bercanda, beberapa anggota MCH menyebut situs itu dengan istilah batu jomblo karena sendirian. ”Memang Al Farid bisa diartikan sendirian,” imbuh lulusan pascasarjana Ushuluddin Universitas Islam Jakarta itu.  

Pahatan agak berbeda ditemukan di Qasr Al Diwan. Kompleks tersebut berada di dalam beberapa kumpulan gunung batu. Al Diwan menjadi tempat bangsa Tsamud menyelenggarakan acara-acara ritual keagamaan. Di bagian depan terdapat gunung batu yang dipahat menjadi ruangan berukuran 12,8 x 9,8 meter. ”Dulu dikisahkan bahwa bangsa Tsamud adalah penyembah berhala. Tapi, sekarang berhalanya sudah tidak ada,” papar Hasim.

Masuk ke lorong di antara dua batu yang seperti dibelah secara presisi, ada ruangan terbuka yang sangat besar. Bentuknya seperti tempat berkumpul orang untuk melakukan pemujaan. Tempat itu dikelilingi gunung-gunung batu yang melingkar dan seperti terpahat oleh alam. Seperti di bagian depan, tidak ada lagi sisa berhala di bagian tersebut.

Bagi umat Islam, Madain Saleh adalah sebuah pelajaran. Kaum Tsamud diberi keistimewaan memahat gunung menjadi istana. Mereka tinggal di lahan yang kering dan berpasir, tapi bisa membuka kawasan pertanian lantaran tidak pernah kekurangan air. Bangsa Tsamud juga dikenal jago dalam berdagang dan disebut-sebut sebagai bangsa entrepreneur.

Namun, anugerah itu malah menjadikan mereka sombong, curang dalam berdagang, dan menyembah berhala. Nabi Saleh yang diturunkan untuk menyebarkan agama tauhid pun ditolak. Tanda kisah mukjizat unta Nabi Saleh yang keluar dari batu dan akhirnya dibunuh kaum Tsamud juga terukir di salah satu dinding Qasr Al Diwan.

Kaum Tsamud akhirnya dimusnahkan dengan petir pada 800 SM, setelah Nabi Saleh dan beberapa pengikutnya hijrah ke Ramallah di Palestina. Karena itu, umat Islam yang berkunjung disarankan tidak mengagumi peninggalan itu, tapi mengingat sejarah azab bagi umat yang ingkar. Bila perlu sampai menangis.

Dalam catatan sejarah, Madain Saleh juga sempat ditempati kaum Nabatean sekitar 300 SM. Nabatean dikenal sebagai kaum yang membangun Kota Petra di Jordania. Karena itu pula, di papan-papan informasi kawasan heritage Madain Saleh juga menyebut peninggalan kaum Tsamud dan Nabatean.

Madain Saleh sudah tidak menjadi tempat tinggal. Namun, sisa-sisa kesuburan tanah berpasir masih tampak. Di luar kompleks tersebut, banyak penduduk Arab yang membuat perkebunan kurma dan produk pertanian lain. Misalnya, delima, jeruk, daun mint, bahkan jagung.

Salah seorang pemilik kebun, Khuroin Abdul Karim, yang bertemu secara tidak sengaja dengan MCH di sebuah SPBU tiba-tiba mengajak para jurnalis mampir ke kebunnya. Sebenarnya dia akan menuju Jeddah. Namun, mengajak kembali rombongan MCH agar bisa menikmati kurma dan buah-buahan lainnya. Gratis.

Di kebun milik penduduk asal Taif, Makkah, itu, air sangat melimpah. Abu Ahmad, pegawai kebun, menjelaskan bahwa air bisa dipompa tanpa henti 24 jam dari sumur sedalam 50 meter. Air itu selanjutnya ditampung di sebuah tandon besar, kemudian dialirkan ke kebun. (*/c10/oki)

Berita Terkait