Macam-macam Sleep Disorder

Macam-macam Sleep Disorder

  Minggu, 13 March 2016 08:25

Berita Terkait

GANGGUAN tidur atau sleep disorder terbagi menjadi tiga. Yakni insomnia, hipersomnia, dan parasomnia (mengingau atau sleepwalking). Yang paling sering dialami adalah insomnia. Tetapi, jangan remehkan dua gangguan tidur lain, terlebih hipersomnia.

Berkebalikan dengan insomnia, penderita hipersomnia sangat mudah tertidur. Hipersomnia dibagi menjadi dua, yaitu idiopatik dan narkolepsi. Idiopatik terjadi saat seseorang membutuhkan durasi tidur malam lebih lama daripada orang normal yang 8 jam. ’’Meski begitu, siangnya dia masih mengantuk,’’ ujar dr Wardah

Rahmatul Islamiyah SpS, spesialis saraf RSUD dr Soetomo Surabaya seperti dilansir dari Jawa Pos, belum lama ini.

Gangguan itu tidak terlalu berbahaya. Sebab, penderita berkuasa mengontrolnya. Hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang mengidap hipersomnia narkolepsi. ’’Rasa kantuk sama sekali tidak bisa dikontrol. Penderita akan tertidur secara tiba-tiba layaknya orang pingsan,’’ ungkap dr Yanna Saelan SpS, spesialis saraf dari Siloam Hospitals Surabaya. Narkolepsi bisa membahayakan jiwa penderita. ’’Kalau misalnya sedang berkendara atau menyeberang jalan dia tertidur tiba-tiba, kan bahaya sekali,’’ kata Wardah.

Penyebab tidur tidak terkontrol itu bersifat genetis. Pada penderita narkolepsi, kelainan kromosom mengakibatkan otak tidak optimal memproduksi protein bernama orexin. Protein itulah yang mengatur pola tidur dan nafsu makan. ’’Karena orexin tidak terproduksi dengan baik, siklus atau pola tidur pun terganggu,’’ jelas Yanna.

Bagi penderita narkolepsi, tidur malam bisa dibilang kurang berkualitas. Idealnya, seseorang harus mencapai fase deep sleep alias tidur lelap tanpa mimpi atau terjaga. Nah, penderita narkolepsi hanya mencapai tahap REM (rapid eye movement), tahap terjadinya mimpi. ’’Mereka sering bermimpi dan terjaga. Siangnya

rasa kantuk hebat melanda dan fase REM pun datang,’’ papar Yanna. Umumnya, narkolepsi ditandai empat

gejala. Pertama, rasa kantuk berlebih pada siang hari (excessive daytime sleepiness). Penderita sama sekali tidak bisa menahan rasa kantuk. Bahkan, saat sedang berbicara atau beraktivitas, tiba-tiba penderita tertidur

pulas. ’’Gejala ini disebut sleep attack alias serangan tidur,’’ tutur Wardah.

Gejala kedua adalah cataplexy, yaitu melemasnya otot sehingga penderita tidak mampu berdiri. Gejala

itu juga disertai bicara yang melambat dan pandangan mengabur. ’’Biasanya, cataplexy dipicu ledakan emosi berlebih seperti marah, tertawa, atau emosi lain yang kuat,’’ terang Yanna. Melemasnya otot itulah yang membuat penderita akan jatuh seperti orang pingsan. Berikutnya, sebelum jatuh tidur, penderita mengalami

tindihan. ’’Itu namanya sleep paralysis. Tidak hanya terjadi saat penderita berbaring di tempat tidur, tapi juga terjadi saat dia sedang beraktivitas,’’ jelas Wardah.

Gejala terakhir yang sering menyertai narkolepsi adalah hypnagogic hallucinations alias halusinasi yang terasa nyata. Sebab, penderita narkolepsi sering mengalami fase REM, bahkan saat siang. ’’Mimpi atau halusinasi terjadi sebelum mereka jatuh tertidur lelap dan terasa sangat jelas. Bentuknya bisa berupa suara atau penglihatan,’’ tandas Yanna. (len/c14/ayi)

Berita Terkait