Luruskan Anggapan Bakar Hutan hingga Minta Stop Penangkapan

Luruskan Anggapan Bakar Hutan hingga Minta Stop Penangkapan

  Sabtu, 8 Oktober 2016 09:53

Berita Terkait

LANGKAH kaki Bandi dan belasan masyarakat adat yang tinggal di Rumah Betang Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kapuas Hulu berjalan beriringan menyusuri hutan. Tanpa mengenakan alas kaki, Bandi mendahului langkah kami. Dia berhenti sejenak lalu mengucap mantra berbahasa iban.

Tak lama, kicau burung murai batu bersahutan di antara rerimbunan ranting pepohonan. Suara burung ini, menjadi bagian penting sebelum proses membuka ladang dimulai. Jika suara burung ini tak kunjung datang, bisa diartikan tanah yang akan dijadikan ladang, tidak mendapatkan restu.

Petanda utama sudah didapatkan. Apay Janggut, begitu Bandi akrab dikenal lalu menuangkan ke tanah. Cara ini, untuk menghormati tanah yang akan dijadikan ladang. Dengan harapan, tanah memberikan kesuburan pada tanaman. Sebagai simbol dan tolak balak, segumpal tanah juga dibawa ke sungai kemudian dihanyutkan. Ritual ini bertujuan membuang kesialan saat tanah sudah mulai ditanami.

Masyarakat adat, sangat menghormati alam. Untuk membuka lahan saja, mereka harus meminta izin kepada roh leluhur yang menjaga hutan. Analoginya: hutan bersedia dicangkul, ditanam sehingga tanah memberikan kehidupan bagi ekosistem tanaman yang bisa dimanfaatkan manusia. Ini diterjemahkan dengan, sebelum bakal ladang dibersihkan, masyarakat adat meminta petunjuk melalui suara burung.

Ada 26 tahapan masa berladang masyarakat adat hingga masa puncaknya di Gawai Dayak (pesta panen, wujud syukur atas limpahan hasil padi). Semua tahapan ritual ini, tidak bisa dilewati begitu saja. Ada ritual adat yang harus dijalani.

Untuk memulai membuka ladang hingga kemudian membakarnya saja, ada sembilan ritual. Dimulai dari Baburung (mendengarkan suara burung) sampai proses Nunu (Membakar). Seluruh ritual ini, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hanya orang yang dianggap mampu yang didaulat sebagai Imam atau Tuai yang mempunyai kemampuan khusus.

Lahan ladang yang masyarakat adat bakar, bukan hutan seperti anggapan yang berkembang. Mereka menyebutnya Damon (Tanah bekas ladang yang pernah dibakar sebelumnya); pola berladang masyarakat adat berpindah. Sekali membuka ladang, diperuntukan sekali tanam. Tahun berikutnya, mereka mencari wilayah lain (Damon) ini sesuai alokasi dengan masyarakat adat. Siklusnya, mereka akan kembali ke bekas ladang setelah 10 hingga belasan tahun.

“Persepsi pemerintah bahwa kami membakar hutan itu salah. Ini ladang, bukan hutan atau lahan. Jangan sampai salah persepsi,” kata Florensius Rengga, Kepala Desa Batu Lintang menegaskan. Dia juga memastikan, Damon yang sudah ditinggal selama puluhan tahun, tidak dijadikan ladang kembali. Sebab, tanah itu kembali menjadi hutan.

Setelah fase perizinan terhadap leluhur usai, tahap selanjutnya membuka ladang dengan cara menebas semak belukar. Area yang dibersihkan mengitari luas ladang yang akan dibakar. Difase ini, mereka juga membuat sekat api agar tidak merembet.

Semak belukar dan pohon yang ditebang, ditumpuk ditengah. Dahan ranting dan kayu tidak akan dibakar sebelum kering. Sekat basah juga dibuat mengitari area luas ladang yang akan dibakar. Sekat bakar jaraknya tiga meter. Ini dibuat agar api tidak ,merembet ke ladang orang dan ke hutan. Apabila ini terjadi, hukum adat sanksinya.

“Mereka membakar, harus bertanggungjawab. Mereka tidak akan pulang sebelum memastikan api padam. Kami sangat sayang hutan dan sudah kami anggap sebagai ibu. Ndak mungkin sembarangan membakar hutan,” sebut Rengga.

Saat mulai membakar, masyarakat adat sangat memperhatikan arah angin. Jangan sampai, tiupan angin membawa kobaran api semakin meluas. Pola membakarnya, dengan melawan arah angin.

Masyarakat adat berladang dengan cara komunal. Dalam satu ladang, bisa dimiliki tiga kepala keluarga atau lebih. Semakin banyak orang, bantuan menjaga api agar tidak merembet semakin baik. Saat musim berladang tiba, membuka ladang tidak dilakukan serempak dalam satu hari.

Ketika api sudah mulai membakar, puluhan masyarakat berjaga di sekeliling lahan. Masing-masing dari mereka membawa bekal alat pemadam api tradisional terbuat dari bambu; batang bambu seukuran lengan tangan orang dewasa ruasnya dibuat sebuah lobang. Tuas pendorongnya dibalut kain. Tujuannya agar bisa mengisap air masuk ke dalam bambu. Cara kerjanya: ketika api mendekati sekat, tuas ditarik hingga air masuk ke rongga bambu. Cadangan air dalam bambu ini lalu disemprotkan ke area api.

“Pemerintah menuding cara berladang kami sebagai penyumbang asap. Ayo kita buktikan. Seharusnya pemerintah harus jeli dan turun langsung ke lapangan,” ujar Verdianus Muling kesal.

Deputi Satu Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Mina Susanna Setra, menegaskan pembakaran ladang oleh masyarakat adat tidak sembarangan. Dia menilai, semua tahap dilakukan berdasarkan kearifan lokal dan diawasi ketat oleh ketua adat.

“Lahan yang dibakar di atas tanah mineral, bukan tanah gambut. Apabila terjadi pelanggaran terhadap praktek pembakaran ini sangat berat sanksinya dari pemuka adat,” sebut Mina.

Mina juga meluruskan, bahwasanya ladang yang masyarakat adat bakar bukan hutan, akan tetapi ladang yang wilayahnya sudah dialokasikan atas dasar musyawarah adat. Berladang juga kata dia, benteng terakhir pertahanan budaya yang erat kaitannya dengan sistem pertanian. “Pemerintah punya kewajiban untuk melindungi mereka dan segala tradisi yang telah dijaga masyarakat adat,” pintanya.

Tommi Indriadi, anggota Perhimpunan Pembela Masyarakat Adat Nasional (PPMAN) berpendapat sama. Menurutnya, akibat ancaman kriminalisasi, membuat masyarakat takut berladang. Apabila ini terus dibiarkan, dikhawatirkan terjadi ancaman kelaparan. Padahal, apa yang sudah menjadi tradisi masyarakat adat dilindungi secara undang-undang.

“Penangkapan aparat terhadap masyarakat adat yang membuka lahan dengan cara membakar, harus dihentikan. Apa yang mereka lakukan dilindungi undang-undang. Apabila penangkapan terus dilakukan, aparat telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang,” pinta Tommy mendesak.(bersambung)

 

Berita Terkait