Lokasinya Hanya 15 Menit dari Pusat Kota

Lokasinya Hanya 15 Menit dari Pusat Kota

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30
SATU RUANGAN : Pelajar di SDN 15 Mupa belajar satu ruangan, tapi kelas berbeda. FOTO MUSTA’AN

Berita Terkait

 
Tak hanya masalah SDM guru. Sarana dan prasarana juga terbatas. Bukan di pedesaan, sekolah-sekolah negeri di sekitar Putussibau mengalami hal sama. SDN 15 Mupa misalnya. Gedungnya memprihatinkan. Padahal sekolah ini hanya 15 menit dari kota Putussibau.

Mustaan, KAPUAS HULU

Di SDN 15 Mupa dalam satu ruangan diisi oleh dua kelas yang berbeda. Hanya diberi pembatas dengan menggunakan tripleks. "Kondisi ini sudah bertahun-tahun dirasakan oleh siswa dan guru di Mupa ini," ungkap Dayang Nuraida Asma, Kepala Sekolah SDN 15 Dusun Mupa Desa Pala Pulau Kecamatan Putussibau Utara ditemu koran ini disela-sela kesibukannya mengajar, Kamis (4/8).

Nuraida mengatakan, pihaknya sulit mendapatkan bantuan fisik berupa bangunan ruang lokal sekolah dari Dinas Pendidikan Kapuas Hulu. Padahal, sekolah yang ia pimpin kekurangan dua lokal, sedangkan lahan untuk pembangunan lokal baru tersedia.

“WC sekolah ini dipakai bersama oleh semua murid dan guru. Seharusnya antara WC  guru dan WC murid seharusnya dipisahkan,”tutur dia.

"Saat ini jumlah murid kami 70 siswa, itu julmah siswa dari kelas 1 sampai kelas 6," terang Nuraida lagi.

Dijelaskannya, untuk kelas- kelas yang bergabung dalam satu ruangan seperti kelas 4 dengan kelas 5 dan kelas 3 dengan kelas 2. Kondisi ini jelas sangat menggaggu proses belajar dan mengajar di kelas itu, apalagi mata pelajaran dimasing-masing kelas berbeda dan kelasnya juga sudah berbeda.

Dia mengaku, kelas yang hanya dibatasi dengan dinding pembatas dari triplek, membuat para guru kesulitan menjelaskan mata pelajaran kepada siswa karena tidak fokus. Kondisi sekolah yang seperti itu mempengaruhi cara belajar dan prestasi siswa yang menuntut ilmu disekolah tersebut. Sehingga banyak orang tua disekitar sekolahnya (Mupa) memilih menyekolahkan anaknya di kota Putussibau.

"Dinas Pendidikan akan menambah lokal bila jumlah anak sekolah diatas 100 siswa, tentu ini tidak mudah tercapai pagi SDN 15 Mupa. Karena penduduk di dusun Mupa masih minim, "katanya.

Saat ini jumlah guru yang mengajar disekolah tersebut 10 orang termasuk tenaga honorer dan untuk jumlah lokal yang ada hanya 5 lokal saja termasuk ruangan guru dan kantor dengankondisi serba kekurangan. Pada kesempatan yang sama, Nur Jeah guru Agama SDN 15 Dusun Mupa mengeluhkan sulitnya memberikan pemahaman serta penjelasan tentang pelajaran kepada siswa dengan kondisi sekolah yang tidak memadai tersebut.

"Kami disebelah menjelaskan, guru disebelah menjelaskan juga, jadi siapa yang didengar, sementara jarak antar kelas sangat dekat hanya dibatasi skat dinding," katanya.

Dikatakannya lagi, biasanya saat guru menjelaskan, siswa mengintip siswa kelas lainnya dari dinding tersebut, selain itu kondisi proses belajar mengajar tidak optimal, mengingat siswa banyak yang ribut ketimbang mendengarkan penjelasan dari guru. "Biasanya kelas sebelah belajar, sementara kelas sebelahnya lagi ribut, kami kuwalahan  karena dalam satu kelas ada 15 siswa,” terang Nur Jeah.

Dengan demikian, sambung dia lagi, dalam satu ruangan ada dua kelas berarti jumlahnya menjadi 30 siswa. Untuk itu, dia berharap Pemda memperhatikan sekolah mereka, mengingat siswa yang ada merupakan aset bangsa yang harus diperhatikan pendidikannya. Agar kelak menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa. "Kami mohon bantuan pembangunan lokal kelas lagi,” tutur dia. (*)

Berita Terkait