Listrik , Nanga Kelibang Gelap

Listrik , Nanga Kelibang Gelap

  Rabu, 24 February 2016 09:36
Yusup Basuki

Berita Terkait

SEBAGIAN desa dan dusun diwilayah kabupaten Kapuas Hulu belum teraliri listrik, baik PLN, PLTS maupun PLTMH. Padahal listrik merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Salah satu desa yang belum bisa menikmati listrik adalah Desa Nanga Kelibang, Kecamatan Bunut Hulu. Kepala  desa Kelibang Yusup Basuki berharap keluhan dan keinginan masyarakat dapat direalisasikan pemerintah.

“Kami sudah mengajukan listrik sejak tahun 2012, saat itu apartur desa telah membuat pengajuan ke PLN Wilayah Kalimantan Barat. Kami berharap PLN masuk ke Desa kami, namun sampai sekarang belum ada respon,” kata Yusuf ditemui di Putussibau, Selasa (23/2). Tahun berikutnya, masyarakat dan beberapa perangkat desa juga betandang ke PLN area Sanggau dengan permohonan yang sama.

Ya, keinginan masyarakat, sambung pria yang akrab disapa Bacok ini, agar desa Nanga Kelibang bisa dialiri listrik. Mengingat desa tersebut berada tak jauh dari jalan lintas selatan, Kapuas Hulu. “Itupun tidak ada respon. Dengan alasan desa kami belum bisa daliri listrik karena perhitungan dari PLN rugi, menurut mereka konsumen tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk jaringan,” kata Bacok.

Dikatakan Bacok, di Desa Nanga Kelibang terdapat 77 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk mencapai 500 jiwa. Selain itu, hanya berjarak beberapa kilo dari jalur lintas selatan yang sudah dialiri listrik dari PLN. “Sementara masyarakat sangat mengharapkan PLN.Kalau kami mengandalkan genset (Generator set) mesin pribadi tak mampu apalagi BBM (Bahan Bakar Minyak) sulit didapat, tuturnya.

Belum lagi ekonomi masyarakat yang lagi morat-marit seperti ini. Selain desa Nanga Kelibang, satu desa tetangga juga belum tersentuh listrik, yakni desa Segitak. Bacok berharap, kedepan pemerintah daerah juga memikirkan penerangan di daerah tersebut. Setidaknya potensi alam yang ada diwilayah dua desa inibisa dimanfaatkan pemerintah untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro.

“Disana memang ada potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, ada air terjun yang namanya Gurung Sagu,” jelasnya. Bahkan dulu dari Dinas Pertambangan Kabupaten sudah mensurvei, melihat kapasitas debit air. “Menurut mereka cukup layak, tapi sampai sekarang belum ada tindaklanjut. Kami sudah ajukan agar Gurung Sagu dimanfaatkan untuk pembangkit,”jelas Bacok.

Menurut dia, Gurung Sagu sangat potensial dikeola untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang diperkirakan mampu menjangkau dua desa. “Kalau memang kapasistas tidak mampu untuk dua desa, satu desa aja tidak apa-apa,” harapnya. Karena desa yang belum tersentuh listrik bisa dibangun secara bertahap baik PLN maupun pusat listrik tenaga surya (PLTS) atau PLTMH.(aan)

Berita Terkait