Lion Air Salahkan Sopir Bus Penjemput

Lion Air Salahkan Sopir Bus Penjemput

  Senin, 16 May 2016 09:30

Berita Terkait

JAKARTA – Proses investigasi insiden salah terminal penumpang Lion Air JT 161 rute Singapura–Jakarta pada 10 Mei lalu di Bandara Soekarno-Hatta mulai dilakukan. Pada penyelidikan awal terungkap fakta bahwa pihak Lion Air tidak melaporkan secara resmi kejadian tersebut kepada otoritas bandara (otban). Manajemen maskapai penerbangan itu justru menyalahkan sopir bus penjemput.

Kepala Kantor Otban Soekarno-Hatta Muzafar Ismail menyampaikan, hingga kini laporan resmi secara tertulis belum sampai di mejanya. Pihak CIQ (customs, immigration and quarantine/bea cukai, imigrasi, dan karantina) juga belum mendapatkan keterangan. 

Hal itu tentu menimbulkan pertanyaan besar. Sebab, berdasar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, seluruh kejadian yang menyangkut keselamatan, keamanan, dan pelayanan di bandara harus segera dilaporkan kepada kantor otban. ”Karena itu, kami investigasi penyelenggara bandar udara dan Lion Air. Termasuk ground handling-nya, apakah ada unsur kesengajaan atau tidak,” ujarnya kemarin (15/5). 

Seperti diberitakan, insiden tak lazim terjadi pada 10 Mei. Ketika itu penumpang Lion Air JT 161 jurusan Singapura–Jakarta yang semestinya diantar ke terminal 2 (internasional) justru dibawa ke terminal 1B (domestik). Sebagian penumpang yang kebingungan sudah langsung keluar tanpa pemeriksaan imigrasi. Juga tanpa pengecekan bea dan cukai.  

Pihak Lion Air beralasan, kesalahan terjadi pada pihak ground handling (layanan sisi darat). Ketika itu ground handling mengira pesawat yang mendarat di remote area (jauh dari terminal kedatangan) tersebut adalah penerbangan dari Padang.  

Dalam proses investigasi itu, otban tidak sendiri. Otoritas CIQ akan turut terlibat. Sebab, ada pelanggaran yang berkaitan dengan imigrasi dan bea cukai. ”Tidak tertutup kemungkinan PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) juga diikutsertakan,” ungkapnya. 

Muzafar mengatakan, pihaknya telah mendengar penjelasan sementara dari perwakilan Lion Air. Berdasar keterangan tersebut, diketahui ada kesalahan penurunan sebagian penumpang internasional (1 dari 4 bus) ke terminal 1 (domestik). Meski begitu, tambah dia, otban akan tetap memeriksa standard operating procedure (SOP) ground handling. 

Jika dalam proses investigasi itu ditemukan pelanggaran serius, pihaknya tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi. ”Kita lihat pasal-pasalnya yang dilanggar ya. Tergantung pelanggarannya. Tapi, bisa berupa penangguhan izin hingga suspend,” ujar mantan direktur angkutan udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut. 

Untuk mencegah kejadian yang sama terulang, lanjut Muzafar, otban bakal mengevaluasi lagi seluruh SOP ground handling penerbangan internasional. Upaya itu juga akan dikoordinasikan dengan seluruh kantor otban di Indonesia. ”Setahu kami ini kejadian pertama. Dan jangan sampai terulang,” tegasnya.

Dihubungi terpisah, Public Relation Manager Lion Air Group Andy Muhammad Saladin enggan menanggapi lambatnya laporan kesalahan penurunan penumpang tersebut. ”Kita tunggu saja hasil investigasinya dulu,” ujar Andy kemarin.

Lion Air menyalahkan sopir bus yang mengangkut penumpang pesawat Lion Air JT 161 itu. Menurut Andy, pesawat yang membawa 182 penumpang tersebut mendarat pada pukul 19.20 dan langsung diarahkan untuk parkir di remote area oleh air traffic control.

Masalahnya, pada saat penjemputan itu, satu di antara empat sopir bus penjemput mengira penumpang tersebut dari Padang. Sopir itu lantas membawa penumpang ke terminal 1B. Tapi, setelah petugas menyadari kesalahan tersebut, penumpang langsung diarahkan kembali ke terminal 2. ”Semuanya sudah dibawa kembali ke terminal 2,” ujarnya. 

Andy memastikan, tidak ada unsur kesengajaan atas insiden itu. Pihaknya pun terbuka dengan investigasi yang dilakukan otban, imigrasi, dan bea cukai. Mereka pun akan membentuk tim khusus untuk penanganan tersebut. ”Ini kejadian yang pertama bagi kami. Kami akan tunggu hasil investigasinya,” kata dia.

Adapun sopir bus yang lalai membawa penumpang pesawat itu akan mendapat sanksi berat. Lion Air telah mengklarifikasi dan siap menjatuhkan sanksi. Sopir bus dianggap tidak teliti dalam menjemput penumpang. ”Bisa jadi akan diberhentikan. Kami berkomitmen untuk pelayanan yang terbaik kepada konsumen kami,” tegas Andy.

Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie menjelaskan bahwa kasus tersebut kembali menambah borok Lion Air. Sebab, kesalahan itu sudah jelas merupakan kelemahan dalam manajemen maskapai penerbangan tersebut. Mantan legislator di Komisi V (membidangi perhubungan) DPR itu mempertanyakan apakah manajemen benar-benar menjalankan SOP yang ada.

Alvin menyatakan, bus penjemput penumpang sudah bersiaga setidaknya 20 menit sebelum pesawat mendarat. Jika sampai terjadi kesalahan, kata Alvin, penyebabnya bukan hanya kealpaan sopir bus. ”Tapi juga tim operasional yang seharusnya menggiring dan mengawasi transfer para penumpang. Ini membuat saya penasaran bagaimana sebenarnya training dari pegawai ground handling Lion Air,” ucapnya.

Kesalahan-kesalahan manajemen tersebut, ungkap Alvin, bukan sesekali saja terjadi dan diketahui publik. Salah satunya, kata Alvin, kasus sindikat pencurian bagasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab ground handling Lion Air. ”Untuk kali ini, publik tak hanya harus mengkritisi Lion Air. Pemerintah juga harus dikritisi. Terutama Kemenhub. Sampai kapan mereka mau mati kutu saat berhadapan dengan maskapai ini?” cetusnya. 

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menuturkan, penyelesaian kasus tersebut tidak cukup hanya menyampaikan teguran dan permintaan maaf dari pihak maskapai milik pengusaha Rusdi Kirana itu. ”Kemenhub jangan ciut nyali untuk memberikan sanksi kepada Lion. Harus investigasi tuntas dan sanksi serius,” tegasnya. (mia/bil/jun/byu/lum/c9/sof)

 

Berita Terkait