Lion Air

Lion Air

  Selasa, 24 November 2015 08:36   1

Oleh Zainal Muttaqin

 

SENIN pagi kemarin (23 November) saya terbang ke Surabaya dari Bandara Sepinggan Balikpapan, naik Lion Air JT-361. On time. Di boarding pass ditulis boarding time jam 08.45 WIT. Saya lihat jam di telepon saya, yang statusnya “mode pesawat mati”, ketika saya sudah duduk di dalam pesawat, jam 09.15 sudah ada pengumuman pintu pesawat segera ditutup. Itu pertanda bahwa pesawat akan segera berangkat.

Sebelumnya, Kamis pagi lalu (19 November) saya juga naik pesawat Lion JT-361, yang jadwalnya terbang jam 09.15. Juga on time. Jam 09.15 pesawat sudah tutup pintu dan langsung berangkat. Setelah melakukan pekerjaan di kantor pusat Jawa Pos di Surabaya, Sabtu pagi 21 November, saya kembali lagi ke Balikpapan naik Lion Air JT-362.

Senin kemarin saya kembali lagi ke Surabaya karena ada janji bertemu dengan bigbos saya, Dahlan Iskan, membicarakan rencana membangun pembangkit listrik di Papua. Selain melaporkan pekerjaan rutin saya: mengunjungi koran-koran dalam jaringan Jawa Pos Grup yang terbit di Bumi Papua.

Selasa malam nanti saya melanjutkan perjalanan ke Biak, terlebih dahulu transit di Makassar, naik Garuda. Setelah menginap semalam di Biak, Kamis 26 November saya melanjutkan perjalanan ke Sorong, dan Sabtu 28 November kembali lagi ke pangkalan di Balikpapan naik Sriwijaya Air.

Setiap bulan saya rutin mengunjungi banyak kota di Indonesia, untuk menengok koran-koran dalam jaringan Jawa Pos Grup, yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Karena itu saya termasukyang mendapatkan berkah adanya Lion Air, karena punya banyak alternatif untuk terbang. Lion Air memiliki rute paling banyak untuk penerbangan domestik.

Saya sendiri pemegang kartu platinum Garuda Miles. Setiap tahun saya terbang bersamaGaruda sedikitnya 60 kali. Tetapi saya juga sering terbang bersama Lion Air, dan anak perusahaannya Wings Air yang pesawatnya berbaling-baling itu.

Dengan Wings Air saya sudah terbang dari kota Luwuk ke kota Palu di Sulawesi Tengah. Dari Bali ke Waingapu di Nusa Tenggara Timur, dari Surabaya ke Lombok di Nusa Tenggara Barat, dari Manado ke Sorong di Papua, dan beberapa tempat lagi yang terpanjang jika saya sebutkan semuanya.

Sering kali saya terbang ke banyak tempat di Indonesia itu, naik Wings maupun Lion, nyaris tidak pernah delay. Kalau pun pernah merasakan delay, biasanya ketika terbang dari Jakarta ke Balikpapan. Itupun selalu mendapatkan pemberitahuan terlebih dahulu lewat SMS. Kadang saya malah diuntungkan karena diubah naik Batik Air, penerbangan full service, milik Lion Grup.

Saya menilai upaya Lion Air Grup untuk memberikan layanan sebaik-baiknya sudah dilakukan. Bisa jadi, saya termasuk yang beruntung hanya sesekali merasakan delay-nya Lion Air. Tetapi saya sangat bersyukur dengan keberadaan Lion Air yang terus tumbuh dan berkembang, karena saya menjadi lebih mudah mengurus pekerjaan saya yang tersebar di banyak kota di Indonesia.

Delay di Jakarta sangat sulit dihindari karena infrastruktur yang sangat terbatas. Untuk take off, maupun landing, di Jakarta sering kali saya hitung harus menunggu sampai 15 menit, bahkan lebih, karena padatnya penerbangan. Sementara landasan pacunya cuma ada dua, dan harus digunakan bergantian oleh banyak pesawat. Tentu delay di Jakarta itu hanya pemerintah yang bisa mengatasinya. Sebab Bandaranya milik pemerintah.

Soal desahan dari ruang pilot, atau bahkan ada menawarkanpramugari yang janda, saya meragukannya. Pilot tergolongmanusia ber-IQ cukup tinggi, tentu tidak akan melakukan hal-hal konyol seperti.

 

Dihukum Pasar

Lion Grup disebut sering delay, tetapi faktanya pesawat-pesawat Lion masih menjadi pilihan banyak orang untuk terbang. Hukum pasar yang berlaku adalah jika kita buruk melakukan layanan terhadap konsumen, maka konsumen akan meninggalkan kita.Tapi faktanya Lion belum ditinggalkan oleh konsumennya.

Masih ada beberapa pilihan orang untuk terbang selain dengan Lion. Ada Garuda dan anaknya, Citilink. Ada Sriwijaya. Adajuga monster dari negeri jiran Malaysia, Air Asia, yang sudahmemiliki banyak rute di negeri kita.

Saya yakin Lion menyadari persaingan di bisnis penerbangan tidak bisa dianggap enteng. Karena itu saya yakin Lion tidak akan dengan sengaja melakukan delay terhadap penerbangannya. Sebab risikonya sangat tidak menguntungkan mereka.

Sampai saat ini Lion tampaknya belum dihukum pasar. Bolehjadi karena Lion menjadi pilihan utama, karena memilikipesawat paling banyak dan rute paling banyak. Bisa juga karenaharga tiketnya paling murah, sementara pesawatnya semuanyabaru.

Nah, dalam situasi seperti itu sebaiknya pemerintah tidak perlulah ikutan menghukum Lion. Yang diperlukan adalah justru membinanya, serta melayaninya dengan layanan terbaik, agar bisa memuaskan pengguna jasanya.

Sebab faktanya, jika ada jalur Lion yang dibekukan, atau tidakdilayani permohonannya membuka rute baru, maka yang dirugikan konsumen juga. Jika jumlah penerbangan dibatasi, yang biasa terjadi adalah hukum permintaan dan penawaran.Setiap kali permintaan meningkat dan penawaran terbatas, makaharga langsung bergerak naik. Tentu yang dirugikan adalah konsumen juga.

*Penulis adalah Direktur Jawa Pos (zam@kaltimpost.net).