Limbah Anorganik Warga Dibayar

Limbah Anorganik Warga Dibayar

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:30
SAMPAH BERBAYAR: Angkuts dan Walikota Pontianak saat menunjukan dokumen kerja sama menangani sampah. PAHLEVI Y HARISANDY/PONTIANAK POST

Perkembangan teknologi dan informasi memberikan dampak positif bahkan jalan keluar setiap penggunanya dari kesulitan. Tak terkecuali mengenai sampah. Kini, berkat pemuda bernama Muhammad Hafiz Waliyudin masyarakat kota Pontianak tak perlu pusing mengatasi tumpukan sampah dirumahnya.

PAHLEVI Y HARISANDY, Pontianak

SETIAP orang pasti menghasilkan limbah setiap hari. Limbah inilah yang menjadi momok yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Saat sampah itu semakin membeludak tak terkendali dan menjadi sarang penyakit, kesehatan manusia jadi sasaran utamanya.

Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masih dapat dikatakan rendah. Pasalnya, sampah masih saja mudah kita temukan, entah itu menggunung di pinggir jalan dan tak sedikit pula yang berserakan di jalan.

Kendati demikian, tidak sedikit pula diantara masyarakat tersebut yang peduli dan bertindak terhadap sampah melalui layanan jasa berbasis aplikasi android bernama Angkuts. Adalah Muhammad Hafiz Waliyudin, pemuda berusia 22 tahun yang menggagas terciptanya Angkuts sekaligus memegang tampuk kepemimpinan PT Angkuts Kreatif Indonesia.

Selaku Direktur PT Angkuts Kreatif Indonesia, Muhammad Hafiz Waliyudin atau yang akrab dipanggil Hafiz mengatakan, latar belakang menggagas aplikasi ini adalah berkaca dari kesuksesan layanan ojek berbasis aplikasi android atau online.

Diceritakannya, mulanya dia dan beberapa temannya memiliki ide untuk memberikan jasa angkut sampah yang mungkin ini pertama kali ada di Pontianak. “meski pada awalnya (tahun 2013) saya diejek teman-teman. Kami tetap lakukan itu dan kami putuskan sampah yang kami angkut adalah sampah anorganik yang sudah dipilah, saat itu nama kami adalah grab trash,” terangnya.

Alasan Angkuts untuk mengharuskan konsumennya memilah sampah sebelum menggunakan jasanya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memisahkan sampah yang dapat diolah menjadi barang produktif baru dan sampah yang sudah tak dapat diolah lagi.

“Selain itu untuk tidak membuat mind set driver kami sampah itu selalu kotor dan beraroma tak sedap. Jadi mereka tidak patah semangat untuk mengangkut sampah konsumen kami,” tuturnya.

Konsep yang dilakukannya pun berpola kerja hampir sama dengan pemulung sampah, hanya saja Angkuts lebih terorganisir dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Saat ini aplikasi Angkuts bisa diakses dengan smartphone berbasis android. Penggunaannya cukup mudah, hanya perlu menginstal aplikasi Angkuts yang diunduh di Playstore. Kemudian, pengguna harus registrasi dengan mengisi data identitas diri.

Selanjutnya, bagi yang memiliki sampah-sampah anorganik seperti yang tercantum dalam aplikasi, cukup memanggil driver dengan menekan dan tahan ikon “Panggil Angkuts”. Dilanjutkan mengisi alamat lengkap dan menekan tombol OK. Dalam aplikasi Angkuts juga tertera daftar harga sampah-sampah anorganik yang dihitung per kilogram.

Pengangkuts yang berada di kelurahan terdekat akan datang dan mengambil sampah tersebut. Sampah anorganik itu seperti kertas, koran, kardus, kaleng alumunium, botol dan gelas plastik. “setidaknya sekitar satu ton sampah setiap bulannya yang kami dapat dari masyarakat kota Pontianak pengguna jasa kami,” tambahnya.

Kemudian, sampah akan ditimbang untuk menentukan uang yang akan diterima pengguna aplikasi. “Nantinya uang itu akan masuk dalam bentuk virtual account dalam akun yang bersangkutan,” jelas Hafiz.

Apabila uang di dalam akun pengguna aplikasi ini sudah mencapai kelipatan 50 ribu pengguna bisa menguangkannya di Kantor Angkuts,  di Jalan Kom Yos Soedarso Gedung PT Dua Agung Lt III, Kecamatan Pontianak Barat.

Selang berdirinya PT Angkuts Kreatif Indonesia enam bulan lalu, Angkuts sudah memiliki 25 orang Pengangkuts  yang tersebar di seluruh kelurahan se-Kota Pontianak. Sebagian besar mereka berasal dari kalangan mahasiswa.

Harapannya ke depan, agar lebih terorganisir, para pemulung di kota ini juga ikut bergabung. “Kelemahannya sejauh ini adalah penggunaan smartphone, belum semua memiliki,” jelasnya.

Untuk memperoleh keuntungan, setelah membeli sampah dari masyarakat, para Pengangkuts akan menjual kembali sampah-sampah tersebut ke pengepul akhir. Keuntungan dari penjualan sampah anorganik itu, 100 persen akan menjadi hak driver, tidak ada sistem bagi hasil.

“Pengangkuts itu biasa mengumpulkan terlebih dahulu sampah-sampah masyarakat itu di rumahnya atau di gudang kami. Tapi ada juga yang langsung membawanya ke pengepul,” katanya.

Diakhir pembicaraan, Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknik ini mengatakan, masyarakat kota Pontianak sekarang tidak perlu repotmembuang sampah mereka yang menggunung. Cukup dipilah mana sampah anorganik dan yang organik. “Nah yang anorganik ini cepat saja hubungi Angkuts, Pengangkuts kami akan membantu anda membuang sampah dan dibayar pula sampahnya,” imbuhnya. (*)