Libur, Omzet Pedagang Turun

Libur, Omzet Pedagang Turun

  Sabtu, 26 March 2016 09:53
TERLIHAT SEPI: Salah satu warung kopi yang mana biasanya pada hari kerja ramai dikunjungi, namun tidak halnya pada hari libur kemarin (25/3), benar-benar sepi pengunjung. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SUKADANA – Hari libur memang hari yang dinanti bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi pekerja swasta. Salah satunya pemilik warung kopi (warkop) yang ada di Jalan Bhayangkara Kota Sukadana.

Afif, pemilik warkop, mengaku jika omzetnya selalu menurun drastis ketika sudah memasuki hari libur. Karena, untuk di Kecamatan Sukadana sendiri, diakui dia, banyak warga yang bekerja di Sukadana, khususnya pegawai negeri sipil (PNS), bukanlah penduduk asli tempatan. Akibatnya, dia menambahkan, ketika hari libur bekerja, mereka masing-masing pulang ke daerah asal.

“Sukadana sepi kalau hari libur, yang sudah pasti ketika hari Sabtu, Minggu, karena PNS pulang ke Ketapang, Pontianak. Karena saya lihat yang bekerja di sini (Sukadana, Red) bukan orang asli Kayong Utara,” terang Afif, Jumat (25/3).

Untuk hari kerja sendiri Afif mengaku bisa mendapat pemasukan hingga Rp200 ribu perhari. Namun ketika memasuki hari libur, diakui dia juga jika pendapatannya jauh berkurang. “Kalau hari kerja, Senin sampai Jumaat, pemasukan orang yang ngopi di sini bisalah masuk 200 ribu (rupiah) perharinya. Tapi kalau sudah libur, 50 ribu saja susah,” tutur Afif.

Hal senada juga diungkapkan pemilik counter HP yang ada di Kota Sukadana. Dia juga ikut merasakan dampak hari libur dengan hasil pendapatannya. Apa lagi Jumat bertepatan dengan tanggal merah, sehingga dia yakin hingga Minggu, Kota Sukadana akan sepi.

“Biasanya hari Sabtu baru sepi pembeli, karena ini tanggal merah, hari Jumaat sudah sepi, nanti mulai ramai lagi hari Senin, karena para pegawai masuk kerja,” jelas Neneng, salah satu pemilik counter HP tersebut. Mengenai hal ini, diakui dia, tentunya bukan hanya dirasakan oleh mereka saja. Dia yakin, di daerah lain pastinya akan merasakan hal yang sama. Karena, diakui dia, bagi pekerja swasta hanya bisa mengandalkan para pengunjung yang menjadi urat nadi bagi mereka untuk mencari nafkah. (dan)

Berita Terkait