LGBT dan Tantangan Dunia Pendidikan

LGBT dan Tantangan Dunia Pendidikan

  Senin, 11 April 2016 16:12   2,265

PENDIDIKAN nasional kita pasca pemilu presiden dihadapkan pada empat tantangan sekaligus. Pertama, tantangan dalam menghadapi bonus demografi. Kedua, tantangan merespons perubahan di tingkat regional atas rencana pemberlakuan Masyarakat ASEAN 2015. Tantangan ketiga adalah kualitas guru yang menjadi kunci sekaligus elan vital dalam pendidikan nasional. Dan tantangan keempat kali ini, bukan main-main yaitu isu LGBT.

            Dunia Pendidikan Indonesia kembali dibuat geger dengan isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang sudah menjadi isu nasional bahkan Internasional. Isu mengenai seks tersebut telah dibincangkan dalam hukum Indonesia hingga Komnas HAM. Penulis berpendapat, bahwa hal ini berkaitan dengan legalitas LGBT untuk selalu eksis dan diakui keberadaannya dalam kehidupan. Melalui perangkat HAM kelompok LGBT gencar menyerukan kebebasan tampil diranah publik dan mensosialisasikan pada dunia pendidikan akan haknya.

          Pidato Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hilarry Clinton di hadapan Dewan HAM PBB di Jenewa, 2011 menjadi doktrin awal “gay rights are human rights and human rights are gay rights“. Sebagai doktrin, cara pandang itu kemudian secara prinsipil perlahan mulai memengaruhi penerapan “conditional use of foreign aid” termasuk jalan menuju kodifikasi LGBT rights ke dalam instrumen ataupun legislasi hak-hak asasi manusia.
Doktrin HAM yang ditelan bulat-bulat di banyak negara menjadi seperti sianida yang mematikan perdebatan moral LGBT. Isu ini dipotret bukan lagi sebagai sebuah fenomena moralitas yang acceptable atau unacceptable. Para proponen LGBT berhasil mengeluarkannya dari perdebatan moralitas dan menggiringnya ke arah wacana isu kesehatan maupun HAM. Argumentasi paling fundamental yang disampaikan Hillary Clinton di Dewan HAM PBB Jenewa adalah hak-hak LGBT dengan hak-hak manusia lainnya tidak dapat dipisahkan; “gay rights and human rights are one and the same.”

Waspada Gerakan LGBT

          Diawal tahun 2016 ini perlu diwaspadai gerakan kaum LGBT yang mulai masuk dunia pendidikan. Termasuk penulis sendiri, yang notabenenya adalah seorang guru mulai membahas ini bersama dengan para siswa di kelas sebagai bahan diskusi yang aktual dan merupakan fakta sosial yang ada di masyarakat Indonesia. Walaupun sempat gagal mendapat pengakuan dari KOMNAS HAM, kini mereka melalui naungan LSM dan kelompok studi gender dan HAM mencoba melakukan edukasi tentang kebebasan dalam melampiaskan nafsu birahinya atau menikah dengan sesama jenis. Suburnya LGBT di Indonesia juga bersamaan dengan banyaknya situs-situs online yang memberikan informasi tentang dunia LGBT dan perkembangannya, serta forum diskusi, sharing pengalaman ataupun bertanya tentang apa saja yang berhubungan dengan LGBT.

            Hal ini penulis baca di media massa, telah terjadi di Universitas Indonesia dengan kelompok diskusi SGRC UI (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies) Universitas Indonesia berani menggunakan logo dan nama UI pada kelompoknya. SGRC adalah sebuah organisasi yang mengatasnamakan mahasiswa UI yang bergerak di bidang kajian pemikiran, khususnya pemahaman tentang permasalahan gender dan seksualitas. Pendiri dana anggota SGRC-UI merupakan mahasiswa, alumni, serta dosen dari Universitas Indonesia. Ternyata, SGRC bukan hanya hadir di UI, tapi juga di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidaytullah Jakarta yang mungkin akan menyebar ke seluruh kampus di Indonesia.

           Pendidikan memang tempat menimba keilmuan dan pusat kajian sebagai penambah wawasan. Apalagi diperguruan tinggi yang menjadi tempat para ilmuan dilahirkan serta adanya kebebasan berpendapat dan pemikiran kritis yang terlepas dari belenggu doktrin ilmu.          Namun, dunia pendidikan tidak boleh lepas dari nilai moral, penanaman karakter bangsa, dan pembentukkan mental yang positif demi membangun peradaban bangsa Indonesia yang maju. Apabila dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi menjadi sarang kaum LGBT dengan bernaung dikelompok diskusi dan kebebasan HAM tentunya sangat dikhawatirkan merusak moral para sarjana. Yang nantinya mereka yang akan memimpin Indonesia kedepan. Dengan melalui sosialisasi kaum LGBT bisa jadi budaya suka dan menikah sesama jenis adalah hal yang lumrah dilakukan jika dibiarkan terus menjamur dengan kedok kelompok diskusi sebagai rekrutmen dan pembudayaan jahiliyah ini.

          Penerimaan konsep same sex civil unions atau perkawinan sesama jenis bagi penulis, adalah praktik yang keliru dan tidak dapat dibenarkan atas nama keyakinan apa pun di Indonesia. Mereka boleh melakukannya di Eropa, Argentina, Brasil, Meksiko, Uruguay, Chili, dan Ekuador atau beberapa negara bagian di AS. Namun, bagi masyarakat umum di Indonesia yang homophobic, penolakan LGBT rights sebagai konsep didasari oleh keyakinan bahwa “homosexuality can never be justified”. Meski demikian, kita juga bukan negara yang harus berlomba menerbitkan legislasi anti-gay untuk alasan politik. Karena, LGBT sebagai entitas tentunya berhak menikmati eksistensinya tidak lebih dan tidak kurang sebagai makhluk hidup yang memiliki persoalan orientasi seksual yang harus dibantu untuk disembuhkan guna menjadi bagian utuh dari masyarakat yang normal.

Peran Dunia Pendidikan

          Kembali lagi pada peran pendidikan sebagai upaya pencegahan terhadap arus budaya barat yang negatif. Penyimpangan terhadap penafsiran HAM telah menjadikan problem serius dalam kehidupan. Pendidikan harus menjadii tempat penyadaran dan pemulihan mereka yang mengalami ketidakwajaran dalam bercinta. Boleh saja, kampus atau sekolah membahas mengenai kelainan seks , homo, lesbian, dan sejenisnya namun harus dalam koridor agama dan dibentengi oleh keimanan yang kuat. Bukannya malahan sebagai tempat mensosialisasikan kebebasan LGBT dan kebebasan memilih pasangan nikah.

          Selain itu, dunia pendidikan menanamkan nilai moral yang baik sebagai benteng arus budaya barat. Dimana budaya tersebut harus benar-benar dipilah. Sebagai seorang guru (pendidik) dan dosen tidak sekedar melakukan transfer ilmu saja namun juga harus memberikan teladan yang baik sebagai sosok yang berilmu dan memiliki integritas yang patut dicontoh. Selain itu, pendidik juga memperhatikan perkembangan moral dan psikologi peserta didiknya. Perkembangan moral yang tidak terkontaminasi budaya negatif dari luar negeri sebab di negara Perancis, Belanda, dan Amerika mulai dilegal menikah sesama jenis dengan mengatasnamakan kebebasan HAM. Jangan sampai kasus pernikahan sesama jenis dilegalkan di Indonesia.        

          Perlunya pengawasan ketat oleh para pelaku akademisi, guru, dan masyarakat sipil terhadap kelompok diskusi yang mengusung nama gender dan HAM karena melalui itu mereka melakukan gerakan masif demi eksistensi mereka diranah publik diakui dan mendapat penghargaan.

          Upaya pemulihan kelainan ini juga perlu dengan menyadarkan mereka untuk mau hidup normal dan menyukai lain jenis atau heteroseks. Kita tidak boleh mengasingkan mereka bahkan mengusir dan mengucilkan mereka. Seharusnya kita harus merangkul dan mengasihi mereka dengan penuh kepedulian sesama karena kita diciptakan Tuhan untuk saling menasehati dalam kebajikan, mengajak kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

            Penulis juga berharap agar pemerintah juga wajib andil dalam pemulihan penyimpangan sosial ini agar terciptanya suasana masyarakat yang damai dan tentram. Melalui lembaga konsultasi saraf dan seksual maupun psikolog yang diterjunkan untuk membantu mereka yang dalam penyimpangan seks. Semoga***

(Guru/Pendidik SMP & SMA Santo Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AGUSTINUS, S.S.

Saya adalah seorang pendidik yang tinggal di Kota Pontianak. Mengajar adalah bagian hobi dalam kehidupan saya karena dengan mengajar, saya bisa berkontribusi bagi dunia pendidikan di Kalimantan Barat. Ikut aktif juga di Sanggar Kesenian, dan menulis adalah bagian aktivitas penting dalam kehidupan saya sebagai guru. Dengan menulis, saya bisa menuangkan ide serta gagasan-gagasan yang ada di pikiran saya. Menulis layaknya mengajar Indonesia.