Lewat Sastra to Door, Menggedor Pintu Abah Zai

Lewat Sastra to Door, Menggedor Pintu Abah Zai

  Rabu, 14 September 2016 10:03
GENG SASTRA FOR PONTIANAK POST SASTRA: Bincang-bincang saat acara Sastra to Door yang digelar Komunitas Geng Sastra.

Berita Terkait

Setelah berhasil mewadahi kegiatan apresiasi sastra melalui malam puisi, kini Komunitas Geng Sastra mencoba menambah konten berupa pengkajian karya sastra. Diberi nama Sastra to Door, kegiatan pertamanya menghadirkan Abah Zai. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

PERTAMA kali Geng Sastra mengadakan acara Poem Nite dulu itu, saya sengaja datang karena saya yakin yang muda-muda ini butuh pendukung. Walaupun isi di dalamnya hanya segelintir, tapi kebahagiaan saya besar sekali,” ucap Zailani Abdullah atau yang akrab disapa Abah Zai saat pertama kali diundang dalam acara malam puisi yang diadakan Komunitas Geng Sastra.

Kalimat itulah yang kemudian menjadi suatu sengatan bernama semangat untuk Amai dan kawan-kawan dari Geng Sastra. Dimana komunitas ini berisikan anak-anak muda yang sudah terlanjur kecanduan sastra. 

“Berpengharapan bahwa cinta kami pada sastra bukanlah cinta yang tanpa mata atau buta sama sekali, maka semenjak berdiri April 2016 kami mulai mengenalkan diri dan membawa sastra di tengah-tengah masyarakat,” ucap Amai.

Amai menjelaskan, untuk Sastra to Door sendiri merupkan suatu acara penjemputan ilmu dari setiap "pintu", kedalaman hati seorang, pegiat sastra. "Disertai pula dengan pembacaan puisi. Acara ini bertempat di manapun, asal ada “pintu” yang bisa digedor ilmunya," ungkap Amai.

Untuk acara perdana Sabtu kemarin, digelar di Halaman Depan UPT Mata Kuliah Umum (MKU) Untan, Jalan Daya Nasional, dimulai pukul 09.00 sampai dengan 11.00 WIB. Dengan garis besar acara, menjemput ilmu dari "pintu" seorang sastrawan Kalbar yang tidak lain adalah Abah Zai.

Menurutnya begitu banyak hal yang bisa digali dari seorang Abah Zai yang notabene sudah berkecimpung di dunia sastra selama 40 tahun lebih. "Dimana ada satu cerita tentang beliau yang menurut saya pribadi sangat menggelikan," katanya.

Kegelian yang terungkap bahwa Abah Zai yang sudah lebih dari 40 tahun menulis, namun baru satu orang di Kota Pontianak ini yang menulis tentang dirinya. Yaitu Khairul Fuad peneliti dari Balai Bahasa Kalbar yang juga sebagai pembicara dalam Sastra to Door tersebut.

"Kenapa menggelikan, bagaimana saya tidak geli, orang yang rela menghibahkan diri demi kepentingan daerahnya, rupanya belum menempati tempat yang semestinya," tanyanya.

"Semoga kita semua bisa menjadi insan yang lebih bisa mengapresiasi segala bentuk penghibahan diri, yang dimaksudkan bukan untuk kepentingan pribadi," tambah Amai.

Sementara itu, menurut Amai, Khairul Fuad sebagai peneliti dari Balai Bahasa Kalbar mengaku terharu ketika mengetahui bahwa hanya dirinya yang berkesempatan menulis tentang Zailani Abdullah. “Saya bisa merasakan bagaimana terharunya Pak Fuad ketika ternyata menjadi satu-satunya orang yang memperhatikan pelaku (lama) sastra di Pontianak,” tambah Amai. 

Dari hasil kajian perdana ini ada beberapa hal yang bisa dipetik dari seorang Abah Zai. Tentang proses kreatif Abah Zai ketika menelurkan karya, tidak diterangkannya secara muluk-muluk. Amai menyimpulkan, Abah Zai mengibaratkan menulis sama dengan berdoa, dan berdoa tidak wajib memakai bahasa yang mendayu-dayu secara berlebihan. “Tulis saja dulu apa-apa yang ada di pikiran. Kalau salah, jangan dicoret dan dibuang. Untuk cerita fiksi, perhatikan awal dan akhir cerita,” ucap Amai menirukan pesan Abah Zai.

Lalu jika berbicara tentang proses, orang yang sudah memproklamirkan diri sebagai seseorang yang suka menulis, dipastikan Abah Zai akan menemukan di satu titik hidupnya di mana ia bosan, jengah, dan malas sekali untuk sekadar memikirkan kalimat yang akan ditulis.

Abah Zai punya sesajen tersendiri terkait itu. Untuk konsisten pertama dan yang utama, harus punya prinsip. Apapun yang terjadi, apapun olokan dan makian orang jangan pernah peduli. “Abah pernah dicap sebagai penulis abal-abal, kampungan, tapi Abah tetap nulis sampai sekarang. Kenapa, karena prinsip Abah, tiada hari tanpa menulis. Jadikan hinaan sebagai jembatan untuk maju. Kemudian kondisikan hati dan pikiran untuk senantiasa sehat,” papar Abah Zai.

Dia melanjutkan menulis harus punya pendirian. Jika dalam perjalanan mulai bosan, istirahat dulu dan tidak perlu jauh-jauh untuk mencari inspirasi.

Sementara itu sebagai peneliti Khairul Fuad menilai, karya tulisan Abah Zai selalu apa adanya, tidak muluk-muluk. “Beliau pernah berkata pada saya bahwa beliau jarang mau membaca karya orang lain karena khawatir gaya tulisan mereka tercampur dengan gaya beliau dan terakhir, spontanitas,” ujar Fuad. 

Menurutnya karya-karya Abah Zai juga daerah-minded, artinya selalu mengangkat akarnya sendiri. “Dan kita, jangan selalu jadi Jakarta-minded,” tambanya. 

Fuad berpesan bahwa menulis dan membaca sebenarnya itu tidak bisa dipisah, keduanya sudah jadi pasangan sah dan jangan ada pikiran untuk memisahkannya. “Ketika sudah membaca, tuliskan apa yang kamu baca. Karena orang yang tidak menulis, ia tak punya sejarah masa lalu,” tutupnya.(*)

Berita Terkait