Lestarikan Budaya Lewat Festival Arakan Pengantin

Lestarikan Budaya Lewat Festival Arakan Pengantin

  Senin, 10 Oktober 2016 09:25
FOTO BERSAMA : Peserta Festival Arakan Pengantin foto bersama dengan pejabat di lingkungan Pemkot Pontianak di Halaman Masjid Raya Mujahidin.

Berita Terkait

Pontianak Timur Kembali Raih Juara I

SEMBILAN kelompok peserta Festival Arakan Pengantin dilepas Wali Kota Pontianak Sutarmidji, Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dan Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin di halaman Museum Negeri Provinsi Kalbar, Minggu (9/10) pagi. 

Peserta arak-arakan mulai berparade dari halaman Museum Negeri melewati Jalan Ahmad Yani menuju Masjid Raya Mujahidin. Meski cuaca mendung dan sempat gerimis, tak menyurutkan antusiasme para peserta dan ribuan penonton yang memadati area Car Free Day (CFD).   

Festival Arakan Pengantin yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak ini dalam rangka Hari Jadi (Harjad) ke-245 Kota Pontianak tahun 2016. Kesembilan peserta merupakan perwakilan dari enam kecamatan se-Kota Pontianak, Bank Kalbar, Sanggar Kembang Serumpun dan SMAN 5 Pontianak. Selain arakan pengantin, juga ada 18 pasangan pengantin yang dinikahkan secara massal.

Untuk kedua kalinya, setelah 2015 lalu, Kecamatan Pontianak Timur kembali merebut juara pertama dalam Festival Arakan Pengantin tahun ini. Sedangkan Kecamatan Pontianak Selatan menduduki juara kedua dan Pontianak Barat juara ketiga. Pontianak Selatan juga dinobatkan sebagai pengantin terfavorit, sementara peserta dengan barang antaran favorit direbut Kecamatan Pontianak Timur.

Menurut Sutarmidji, setiap peringatan Harjad Kota Pontianak, Pemkot terus menampilkan berbagai kegiatan terutama yang terkait dengan adat istiadat dan tradisi masyarakat Kota Pontianak. Salah satunya arakan pengantin ini. Hal tersebut bertujuan untuk tetap melestarikan dan mempertahankan adat istiadat dan seni budaya masyarakat Pontianak.

            

Pihaknya berupaya mengembalikan lagi dasar dari setiap seni budaya maupun hal-hal lainnya yang bersifat tradisional. Pada peringatan Harjad Pontianak kali ini, lebih banyak ditampilkan seni budaya yang menjadi aset kota. Bahkan pemkot pun sedang membukukan jenis-jenis kue tradisional khas kota khatulistiwa.

Seperti tahun sebelumnya, Pemkot juga menggelar nikah massal bagi pasangan calon pengantin dari kalangan masyarakat tidak mampu. Prosesi pernikahan bagi 18 pasangan pengantin yang berasal dari enam kecamatan se-Kota Pontianak ini dilakukan secara bersama di Masjid Raya Mujahidin. “Semoga mereka bisa membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah,” harapnya usai menjadi saksi nikah.

Bikin Pontianak Bangga

Sebagaimana tema Harjad ke-245 Kota Pontianak “Bikin Pontianak Bangga”, Sutarmdiji mengajak seluruh masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat Pontianak bangga. Sebagai warga Pontianak, kata dia, sudah semestinya bangga karena kota ini memiliki berbagai prestasi dalam tatakelola pemerintahan dan sikap masyarakatnya dalam merespon percepatan pembangunan. 

“Itu tidak ada di daerah lain sehingga perspektif-perspektif yang ada di Kota Pontianak ini dijadikan contoh oleh daerah-daerah lain. Inilah yang membuat Pontianak lebih dikenal, Pontianak disegani,” tukasnya.

            

Ia optimistis, pada suatu waktu, Pontianak juga bisa menjadi kota tertib dalam tatanan hukum. Sebab, tidak sedikit kebijakan-kebijakan yang dicanangkan pemerintah pusat, sudah terlebih dahulu dilaksanakan oleh Pemkot Pontianak. 

Sebut saja reformasi hukum yang dicanangkan pusat, Pemkot sudah lebih dulu. Reformasi perizinan, Pemkot sudah lebih dulu dengan memangkas 99 jenis izin menjadi hanya 17 perizinan. Dwelling time pelabuhan, di Pontianak sudah menerapkan percepatan itu dan bahkan masuk dalam Top 35 Inovasi Pelayanan Publik. 

Tim Pengendali Inflasi di Pontianak dua kali berturut-turut sebagai kota yang mampu mengendalikan inflasi dengan konsep dan teori yang diterapkan. Pontianak juga menjadi pelopor dalam inovasi hingga dinobatkan sebagai kota dengan inovasi terbaik se-Indonesia oleh LAN-RI. “Sehingga apa yang dilakukan masyarakat Pontianak itu yang membuat Pontianak bangga,” imbuh Sutarmidji. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid, menjelaskan, Festival Arakan Pengantin ini merupakan upaya pelestarian adat istiadat yang menjadi tradisi dalam pernikahan khususnya pengantin Melayu Pontianak di tengah modernisasi. Sejatinya, arak-arakan pengantin itu adalah mengantar mempelai pria menuju ke rumah mempelai perempuan. “Karena ini bentuknya festival, sehingga kita ikutsertakan mempelai perempuannya dalam arakan pengantin supaya lebih menarik,” imbuhnya. 

Dalam arak-arakan ini juga menyertakan kedua mempelai pengantin, orang tua dari kedua mempelai, pengiring-pengiringnya, lengkap dengan barang-barang hantaran serta iringan alunan musik, baik itu berupa tar maupun tanjidor.

Adapun pengantin laki-laki mengenakan pakaian telok belanga, sedangkan perempuannya mengenakan baju kurung. Para pengiring yang mengantar calon pengantin membawa berbagai perlengkapan dalam prosesi pernikahan adat melayu. Barang-barang hantaran isinya antara lain, jebah berisi sirih, pinang, kapur, tembakau, gambir dan bunga rampai. Selain itu, juga ada uang asap, perhiasan emas, pakaian, alat-alat dan bahan kecantikan, seperangkat perlengkapan tidur seperti selimut, seprei dan lainnya, seperangkat alat dan perlengkapan mandi, barang-barang kelontong, serta seperangkat alat salat. 

Berbagai barang hantaran tadi juga dihiasi dengan pokok telok, yaitu menyerupai pohon kecil dengan tangkai-tangkai yang masing-masing terdapat telur dan hiasan berwarna-warni. Selain pokok telok, pokok manggar juga tak ketinggalan. Pokok manggar memiliki ranting terbuat dari lidi berlapis kertas warna-warni dan ditancapkan pada sepotong batang pisang atau buah nanas, yang terlebih dahulu ditusukkan pada sebilah tongkat kayu. Pokok manggar  biasanya untuk ditancapkan di halaman rumah mempelai wanita. “Semua barang dan perlengkapan barang hantaran ini dikemas semenarik mungkin,” kata Hilfira.

Dia berharap, festival yang digelar rutin setiap tahun dalam memperingati Harjad Kota Pontianak ini bisa menjadi daya tarik dan mampu memikat minat wisatawan untuk melihat langsung bagaimana adat istiadat prosesi pernikahan dalam budaya Melayu Pontianak. 

Narasi : Idil Aqsa Akbary, Humas Pemkot 

Foto-foto : Shando Safela, Mujadi, Humas Pemkot 

ROMBONGAN : Salah satu peserta rombongan arakan pengantin memasuki area CFD Pontianak saat parade.

MENGINAP GRATIS : Wali Kota Pontianak, Sutarmidji memberikan voucher menginap di hotel gratis kepada pasangan peserta nikah massal.

PARADE : Para pejabat yang hadir ikut parade Festival Arakan Pengantin dengan berjalan kaki.

 

Berita Terkait