Lelaki Hebat Dibalik Tarian

Lelaki Hebat Dibalik Tarian

  Minggu, 21 Agustus 2016 10:41

Berita Terkait

Seni tari tak hanya untuk kaum perempuan. Lelaki pun bisa menari. Bahkan tak hanya menari, mereka juga menciptakan tarian.  Di Kalbar, terdapat para pria hebat itu. Mereka mengenalkan tarian dari provinsi ini hingga ke luar negeri. 

Aktif Promosikan Tarian Daerah

“Tari menjadi sajian seni hiburan yang tak sekadar gerak tubuh berirama saja, tetapi juga mengandung ragam filosofi di dalamnya,” ungkap Johari Pion, seniman asal Kalimantan Barat yang saat ini masih aktif mempromosikan seni budaya Kalimantan Barat, baik di tingkat nasional maupun international. 

Selain menjadikan tubuh lebih sehat dengan banyaknya gerakan-gerakan yang dilakukan, tarian juga mengandung makna untuk mengungkapkan perasaan, maksud, mengajarkan kerjasama, bercerita tentang kehidupan natural. Pada gerakan tari-tari tradisional, tak hanya menjadi kekayaan budaya saja, tetapi juga menyimpan beragam makna sosial. 

Sebelum menekuni dunia tari, Johari Pion lebih dulu aktif di dunia teater sejak tahun 1970-an. Baginya, tarian itu komplit. Tarian juga bisa dibawa pada dunia teater. Seperti drama teatrikal yang menyesuaikan dengan naskah tanpa bersuara. 

Sejak jatuh cinta pada dunia tari, ia pun aktif mengikuti pelatihan-pelatihan dan mengikuti berbagai festival. Ia bahkan mendapatkan kesempatan belajar di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo pada 1990 hingga 1991. 

“Saya dilatih menjadi seorang koreografer. Saya dilatih untuk mampu mengolaborasikan seni tari dan budaya nusantara. Setelah itu saya kembali ke daerah, dan menggarap tarian lain dengan nuansa etnik,” ucap pencipta Tari Kamang. 

Aktif di dunia tari membawanya pada sejumlah prestasi yang membanggakan. Tahun 1992 ia meraih juara dua tingkat Kalbar pada Festival Budaya Bumi Khatulistiwa dan juara pertama di tahun 1993 yang memberikan kesempatan baginya untuk ikut mempromosikan budaya Indonesia ke negara Amerika Serikat. “Sebelum ke sana saya ikut promosi ke beberapa daerah di Indonesia,” jelasnya yang kerap menuai prestasi hingga tahun 1997.

Saat ini ia sering mempromosikan seni budaya daerah, serta mewakili Kalbar sebagai dewan juri diajang parade tari di tingkat nasional. Ia juga mulai kembali aktif dalam dunia teater.  Beragam karya disutradarainya, bahkan juga turut mencetak prestasi, salah satunya lolos seleksi pada kegiatan di Tenggarong, Kalimantan Timur pada Oktober mendatang setelah menang di tingkat Kalbar dan Regional 1. 

Johari Pion melihat perkembangan yang berbeda jauh pada masa lalu dengan sekarang. Meskipun demikian, dia juga tidak menyalahkan generasi muda dalam mengeksplore kemampuan mereka dalam dunia tari. 

“Dulu itu sangat kental tradisionalnya. Maksud saya kalau mereka menggarap tarian yang berinovasi dari tarian daerah, kentalkan ke daerahnya. Bukan lebih banyak gerakan eksperimennya, sehingga yang ditonjolkan itu gerak hasil kreativitasnya, bukan yang tradisionalnya,” saran Johari. 

Sebuah tarian daerah itu memiliki makna yang mendalam. Itu sebabnya, seorang penari harus memperdalam wawasannya terhadap tarian yang akan dimainkan. Bagaimana gerakannya, apa makna dari gerakan tersebut. 

“Sekarang ini saya melihat hampir kebanyakan sanggar itu gerakannya sama di setiap daerah. Ketika ada lomba tari melayu, atau tari dayak misalnya, banyak yang tidak lagi mencerminkan ke dayaknya, atau melayunya. Jadi kalau tarian itu dipakaikan baju Sunda, atau baju Papua, maka orang akan mengatakan itu dari Papua,” tuturnya prihatin. 

Banyak indikasi hal tersebut bisa terjadi. Seringkali kreativitas tercipta hanya dari menonton sebuah tarian, lalu meniru geraknya. Padahal seorang penari yang baik, dia harus punya wawasan, berani mengeksplore dan  membuat analisa dengan terjun langsung ke lapangan. 

“Jadi kecenderungan sekarang ini lebih tepat dibilang penata tari bukan koreografer. Sebab mereka hanya menyusun gerakan-gerakan saja setelah menonton sebuah tarian. Beda dengan koreografer yang mampu membuat atau menciptakan sesuatu yang baru. Bila itu tarian daerah, maka dia tetap berpondasi dengan budaya daerah. Kalau di sifatnya modern maka akan lebih luas lagi,” terangnya. 

Dia sendiri terbiasa terjun langsung ke lapangan. Dia melihat bagaimana keseharian masyarakat. Mempelajari makna, musik, dan gayanya. Tak jarang pula harus menginap di rumah warga demi bisa beradaptasi secara langsung. “Sebab gerak-gerak itu punya maknanya. Misalnya gerakan perempuan seperti apa, gerakan pria bagaimana, ada aturannya,” ungkapnya, sembari mengatakan bahwa perlu penguatan struktur budaya dasar kepada generasi muda oleh institusi terkait, terutama kepada mereka calon guru seni. 

Dulu, banyak orang tua khawatir anak lelakinya menari. Mereka takut kelak seringnya latihan tari dengan gerakan lembut terbawa pada karakternya. “Itu dulu, lelaki menari masih dianggap tabu. Kalau dia (lelaki) mau menari, berarti dia siap lembut. Tidak heran orang tua tidak mau menjadikan anak lelakinya menari,” ulasnya. 

Penyebabnya,  karena ada tuntutan pengajar tari agar penari harus melakukan gerakan dengan lembut. Padahal tidak seperti itu. Penari lelaki dan perempuan memiliki karakter masing-masing. “Kalau perempuan jelas lembut. Kalau lelaki kan tidak. Kalau gerakan laki-laki yang memang keras, harus dipaksakan lembut itu kan tidak logis. Sebenarnya biarkan tetap dengan khas lelakinya. Yang perlu dilatih itu kelenturannya dalam menari. Kelenturan,” ungkapnya. **

Berita Terkait