Lebih Dekat ke Anak, Tetap Produktif di Rumah

Lebih Dekat ke Anak, Tetap Produktif di Rumah

  Minggu, 7 February 2016 08:11

Keluarga dan karier merupakan problem yang sering dialami para wanita yang sudah berumah tangga. Mereka dihadapkan pada pilihan apakah fokus untuk keluarga, atau juga membagi waktunya untuk bekerja di kantoran. Meskipun penuh pertimbangan, banyak pula yang memilih untuk berhenti bekerja demi untuk keluarga. Begitu pula yang menjadi alasan tiga ibu rumah tangga ini kepada For Her. Mereka mengaku ada gejolak batin saat memutuskan berhenti bekerja atau tidak. Tetapi pada akhirnya, mereka pun menikmati keputusannya itu.

Oleh : Marsita Riandini

SEMBILAN belas tahun bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia, membuat Novie Prihartini (45 tahun) merelakan kehilangan pendapatan plus bonus-bonus yang nilainya bisa mencapai puluhan juta per  bulan. Ibu tiga anak ini berulang kali memikirkan keputusan yang penuh pertimbangan itu. “Saya ini khan bekerja di perusahaan yang siap kapan saja dimutasi. Terakhir saya di mutasi ke Balikpapan selama tiga tahun. Saat itu anak-anak dan suami di Pontianak,” jelasnya.

Tiga tahun di Balikpapan, dia pun kembali lagi bekerja di Pontianak. Saat itulah keputusan untuk berhenti dipilihnya. “Anak-anak terutama yang sulung sudah protes kalau nanti ibunya pindah lagi. Sementara kalau bawa anak-anak kasihan, mereka sudah berada di lingkungan yang nyaman,” terangnya. Ketika ada tawaran pensiun dini, dia pun memilihnya. “Baru April kemarin satu tahun berhenti. Daripada dimutasi lagi, saya pilih pensiun dini saja,” katanya.

Suka duka tentu dirasakan dari keputusan yang diambilnya. “Dari pendapatan jelas tidak ada lagi. Kalau dulu satu bulannya bisa puluhan juta, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Hanya saja saya senang bisa dekat dengan anak, bisa bantu mereka mengerjakan PR, antar jemput ke sekolah, makan bersama,” ulasnya.

Dia bercerita, ketika bekerja jauh dari anak-anaknya, mau tidak mau dua minggu sekali dia harus pulang ke Pontianak. “Dulu belum ada tuh pesawat yang langsung ke Balikpapan, harus transit ke Jakarta. Jumat siang pulang ke Pontianak, Minggu sore balik lagi ke sana,” ceritanya.

Meskipun berhasil mencoba bertahan dengan jarak jauh yang memisahkan. Tetap saja lanjut dia, ada yang membuat kebahagiaan terasa kurang. “Positifnya anak-anak jadi tumbuh mandiri sebab jauh dari ibunya, tetapi anak-anak pasti merindukan kehadiran ibunya,” ucap dia.

Paling terharu ketika anak-anaknya ulang tahun. Ketika ditanya kado yang mereka inginkan, mereka menolak. ”Anak-anak suka bilang nggak perlu kado atau uang, yang penting mama hadir. Sementara saya tidak bisa hadir, apalagi kalau pulang sebentar saja, ongkosnya cukup besar,” papar dia. Belum lagi kondisi anak bungsunya yang masih kecil. Dia selalu menghitung mundur waktu pulang ibunya. “Khan pulangnya 2 minggu sekali. Nanti pas nelpon dia bilang 10 hari lagi ya ma. Besoknya bilang lagi 9 hari lagi. Meskipun komunikasi lancar, video call sering tetap saja mereka ingin kehadiran ibunya,” tutur dia.

Alasan itulah yang membuatnya memilih tak lagi bekerja. Sekalipun pendapatan berkurang, tetapi dia yakin rezeki Allah dalam bentuk lainnya tetap ada. “Terasa lebih happy, Alhamdulillah. Rezeki pun tetap berkecukupan,” timpalnya. Sebelum berhenti, dia pun sudah memikirkan usaha lain yang bisa dikerjakan sembari tetap fokus pada keluarga. “Sebelum berhenti itu saya sudah join dengan usaha travel. Walaupun berhenti tetap harus produktif, tetapi bisa dikerjakan di rumah. Bisa ngatur waktu sendiri, antar anak les. Ibadahnya juga lebih mudah. Dulu waktu kerja mau pengajian saja susah. Harus bisa curi-curi waktu. Intinya materi kurang, berkah lain nambah,” pungkasnya. **

 

 

 

Sulit Mencari Pengasuh

 

Bekerja di bank, memiliki pendapatan yang lumayan tentu menjadi harapan banyak orang. Apalagi jika pekerjaan tersebut bagian dari passion yang membuat orang susah hati bila berhenti. Begitu pula yang dirasakan oleh Irene Relita (27 tahun). “Saya sebelum menikah memang sudah bekerja di salah satu bank. Setelah menikah pun masih tetap bekerja tetapi di bank yang berbeda selama lima tahun,” ucap dia yang berhenti demi keluarga.

Keputusan itu diambilnya setelah mempertimbangkan baik-baik. Hal tersulit kata dia, berhadapan dengan egoisme yang tinggi. “Dulu itu saya berpikir bahwa saya sudah kuliah, capek-capek belajar, jadi saya harus bekerja. Saya tidak mau menjadi ibu rumah tangga saja. Apalagi saya sudah menjadi pegawai tetap, mau mencari pekerjaan seperti ini susah,” terangnya.

Kekhawatiran lainnya kata dia, ada banyak ibu rumah tangga yang ingin berhenti bekerja, tetapi khawatir pendapatan suami yang belum pegawai tidak mampu memenuhi kebutuhan. “Awalnya juga gitu. Dulu ketika punya uang sendiri mau beli apa, mau makan apa lebih mudah. Itu yang jadi pertimbangan. Tetapi setelah berhenti, rezekinya ada saja. Toh waktu bekerja pun saya tidak banyak membantu suami, lebih banyak untuk diri sendiri,” ujarnya.

Alasan utama yang membuat dia memilih berhenti ketika sering mendengar tangisan sang anak melalui telepon. Sementara saat itu dia belum bisa pulang lantaran pekerjaan yang diemban. “Waktu itu anak saya sakit, sementara pekerjaan menumpuk. Saya baru bisa pulang malam hari. Suami berusaha pulang awal biar bisa menemani anak. Meskipun ada pengasuh saat itu, tetap saja anak saya rewel,” ujarnya yang siang hari, kerap meluangkan waktu untuk pulang melihat anaknya.

Persoalan lainnya ketika sang atasannya memintanya fokus pada pekerjaan, atau keluarga. “Saya semakin ditekan ketika atasan mengatakan mau pilih kerja atau keluarga. Sementara saya masih tetap ingin bekerja, tetapi juga ingin fokus pada keluarga,” ucapnya. Pada akhirnya, dirinya memilih fokus pada keluarga. “Sebenarnya saya bisa saja menggunakan jasa pengasuh, tetapi sekarang mencari pengasuh yang jujur, baik itu khan sulit. Sementara saya tidak mungkin menitipkan anak ke orang tua saya ataupun mertua, sebab mereka bekerja semua. Saya juga tidak ingin membebankan mereka. Walaupun saya tidak bisa membahagiakan mereka, minimal saya tidak menyusahkan mereka lagi,” ulasnya.

          Setelah berhenti, Irena mengaku butuh proses untuk membiasakan diri. “Tadinya bekerja sekarang tidak. Tadinya pegang uang sendiri, sekarang bergantung sama suami. Jelas tidak enak. Setahun saya butuh penyesuaian,” ucapnya yang mengatakan sang suami sangat pengertian sehingga tetap memberikan kesempatannya untuk berbelanja barang kesukaannya.

Saat di awal, tidak begitu sulit sebab kata dia masih ada simpanan yang bisa digunakan untuk belanja-belanja. “Setelah simpanan habis, mau belanja seperti biasa khan tidak bisa. Sebab ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi,” terangnya.  Lantas dia bersama sang kakak pun mencari kesibukan lain tanpa harus meninggalkan anaknya di rumah. “Kebetulan kakak saya juga berhenti bekerja. Jadi kami buka usaha jualan makanan via online, ternyata permintaan banyak. Satu bulan bisa dapat  7 juta. Tetapi lama kelamaan pesaingnya tambah banyak. Meskipun tak sebanyak dulu tetapi kadang saya tetap terima pesanan, terutama ketika anak saya tidak lagi sakit,” pungkasnya yang mengaku hingga saat ini masih ada tawaran untuk bekerja, bahkan dengan gaji yang lebih tinggi. **