Lebar Rupiah dari Mesin Fotokopi

Lebar Rupiah dari Mesin Fotokopi

  Senin, 1 February 2016 08:48
Gambar dari Internet

Peluang usaha yang produknya menjadi kebutuhan masyarakat sangat menjanjikan. Contohnya usaha fotocopi. Sepanjang fotokopi itu masih dibutuhkan, maka selama itu pula pundi-pundi rupiah terus mengalir. RAMSES L TOBING

USAHA fotokopi cukup ramai di Pontianak dan Kubu Raya. Apalagi jika dekat dengan kampus. Bisa-bisa usahanya saling berdempetan satu sama lainnya.Akhirnya kualitas dan pelayanan yang membuat konsumen bertahan dan bertambah. Contohnya di kawasan Jalan Sepakat II. Setidaknya ada 20 usaha fotokopi di tempat ini. Maklum kawasan ini dekat dengan Universitas Tanjungpura dan Muhammadiyah.Begitu juga di dekat perguruan tinggi lainnya. Seperti IAIN Pontianak, IKIP Pontianak, Widya Dharma, UPB dan kampus-kampus lainnya. Sudah tidak asing, jika usaha ini akan dekat dengan sekolah, kampus dan areal perkantoran.

Misalnya Fotokopi Hidayah milik Budahri. Usaha ini sudah berdiri selama lima tahun. Lokasinya dekat dengan sekolah dan kantor dinas, membuat Budahri tak kesepian dari konsumen.

Dia mengaku mendirikan usaha ini merupakan perwujudan cita-citanya di awal-awal kuliah. Apalagi bisnis ini tidak ada matinya. Setiap waktu pasti ada orang yang membutuhkan fotokopi dokumen atau lembaran penting lainnya.

"Di awal-awal berdiri saya juga menawarkan proposal kerjasama ke sekolah dan dinas-dinas," kata Budahri, kepada koran ini malam kemarin.

Tidak semerta-merta penawarannya langsung diterima. Butuh waktu hingga akhirnya ada yang setuju dengan kerjasama tersebut. Namun ada lagi persoalannya, yakni berkaitan dengan pembayaran.

Karena yang menjalani kerjasama adalah dinas, maka pembayarannya sesuai dengan jadwal keluarnya anggaran. Budahri pun memakluminya, sebab dia juga memiliki pelanggan lainnya yang bisa diandalkan untuk perputaran modal usaha.

Budahri menyebutkan dalam sehari setidaknya ada 80-90 konsumen yang datang. Tentunya dengan berbagai keperluan. Fotokopi atau membeli ATK. Lumrah, jika usaha ini menawarkan produk-produk lainnya. Asalkan masih berkaitan dengan kebutuhan perkantoran.

"Kalau Senin-Jumat lumayan ramai. Beda lagi jika hari Sabtu. Biasanya hanya 10-20 orang saja sehari," jelas pemilik Hidayah Fotokopi ini. 

Menurut Budahri, persoalan yang dihadapi pelaku usaha seperti ini adalah kondisi mesin. Setiap hari mesin harus dibersihkan. Jika tidak, maka bisa menganggu aktivitas usaha.

"Intinya harus dibersihkan. Jika sudah rusak, maka kualitas hasil akan menurun," kata dia.

Jika seperti itu, mau tak mau pelaku usaha akan memanggil teknisi lagi. Ini juga menjadi persoalan. Karena belum tentu teknisi datang tepat waktu, mengingat di lokasi yang lain juga ada kerusakan mesin.

Menurut Budahri, hal ini yang menggangu sistem kerja. Langkah antisipasinya, kata dia, pelaku usaha harus memiliki dua mesin. Jika satu rusak, maka mesin lain akan siap pakai melayani konsumen.

Budahri menilai upaya seperti inilah yang bisa mempertahankan konsumen. Umumnya sebagai konsumen membutuhkan pelayanan cepat dan kualitas yang baik. Di samping dari sisi harga yang relatif murah.

"Menjaga mesin, maka menjaga kualitas hasil fotokopi. Dengan demikian menjaga kepercayaan konsumen," kata Budahri.

Ada juga Turmadi. Pria jebolan IKIP Pontianak ini mengelola usaha fotokopi milik keluarga. Usaha itu dikelolanya dari kuliah hingga selesai. Bahkan hingga sekarang. "Dibuka sejak tahun 2003. Terhitung sudah 13 tahun," kata pengelola Sakhas Center ini.

Pria yang akrab disapa Tur ini menilai usaha fotokopi akan selalu dibutuhkan masyarakat. Terutama untuk kalangan instansi dan sekolah.

"Kebutuhannya pun tidak hanya orangtua tapi juga anak-anak," kata dia.

Dia mencontohkannya di kalangan mahasiswa. Ketika masih kuliah, jelas dia, dirinya menerima berbagai tugas yang harus difotokopi. Belum lagi buku-buku yang menjadi pegangan. Sekarang pun tuntutan itu tidak hanya di perkuliah saja. Justru di kalangan pelajar, mereka sudah menerima banyak tugas yang harus difotokopi. "Ini gambaran jika usaha seperti ini tidak akan mati," katanya.

Hanya saja, lanjut dia, pelaku usaha tidak hanya menawarkan jasa fotokopi saja. Umumnya akan menggandeng produk lain, seperti jasa rental komputer, print dan ATK.

Tur menyebutkan di awal-awal berdiri usaha ini juga menawarkan program kerjasama dengan instansi atau sekolah. Tentunya penawaran kerja sama itu memberikan potongan harga. Namun Tur tidak melupakan pelanggannya yang lain. Mereka yang datang langsung ke tempat usahanya. Dalam sehari, kata dia, konsumen yang datang berkisar antara 80 sampai dengan 150 orang.**