Layani Tamu Alun Kapuas, Rusdi Pakai Perahu

Layani Tamu Alun Kapuas, Rusdi Pakai Perahu

  Selasa, 5 April 2016 10:08
JUALAN: Pedagang Apung melayani pengunjung alun Kapuas. Ramses/Pontianak Post

Berita Terkait

PONTIANAK-Menjadi pedagang harus kreatif. Kreatif tidak hanya untuk produk yang dijual, akan tetapi bagaimana cara menjualnya. Inilah yang dilakukan Rusdi pedagang minuman di areal Taman Alun Kapuas (TAK).  Uniknya pria 57 tahun itu disebut pedagang apung. Sebab, dia berjualan tidak di atas tanah melainkan di atas air. Rudi meletakkan barang dagangan di atas sampan beserta payung untuk menangkis panas dan hujan. 

Pemkot Pontianak berhasil menyulap Taman Alun Kapuas yang dulunya tak beraturan menjadi rapih, bersih dan indah dipandang mata. Akan tetapi, kawasan itupun bebas dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Larangan itu membuat mereka harus kreatif sebab rezeki harus dicari dengan cara yang halal. Akhirnya munculah pedagang minuman dan air yang mengapung di sungai kapuas. 
“Karena di atas dilarang, makanya kami lari ke sini. Kita pun bersyukur tidak dilarang buka sampai malam,” kata pria yang akrab disapa Pak Uban ini.  Rusdi tak sendiri. Dia bersama enam enam PKL lainnya menikmati alunan ombak kecil menyampu sampannya ketika mencari rejeki di atas sungai kapuas. Akan  tetapi tidak menyurutkan kenginan Rusdi dan kawan-kawan mengais rejeki halal. 

“Saya pertama kali buka langsung berjualan di sini. Sampai sekarang ada enam pedagang yang berjualan disini,” kata Rusdi. 

Segala aktivitas jualan pun dilakukan di atas speedboard. Seperti menyuguhkan minuman, memasak mie rebus, bakas sosis. Meskipun sesekali perahu oleng karena diterjang gelombang. Dalam kondisi seperti itu, Pak Uban masih pawai menggoreng dan membakar sosis.  

Pak Uban menyebutkan speedboard yang digunakannya dibeli seharga Rp2 juta. Hanya saja penghasilan yang diperoleh jauh berbeda ketika masih berjualan di atas. Dia pun bersyukur jika selama berjualan bisa mengembalikan modal. Apalagi tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakoninya.

“Selama masih mau makan, saya akan tetap berjualan,” ujar dia.  Menurut Pak Uban, hari minggu adalah hari terlaris ketika berjualan. Di hari itu omset yang diterimanya bisa mencapai Rp700 ribu. Kendati tidak setia saat dia bisa mendapatkan omset sebanyak itu. Pernah juga, pria yang tinggal di beting  ini hanya membawa pulang Rp5 ribu saja. Tapi kadang juga pagi sampai sore untung Rp300 ribu.  

Pak Uban masih tetap berharap TAK bisa buka penuh hingga malam malam hari, seperti sebelumnya. Namun harapan ini ternyata masih rancu, pasalnya sampai saat ini masih belum ada statemen yang keluar dari Pemkot Pontianak apakah boleh pedagang berjualan di area TAK maupun di pinggiran sungai kapuas. 

Kendati demikian, Pak Uban tetap menaruh harapan bisa berjualan di atas. Dia berkeinginan memiliki satu lapak di atas. Itu pun kalau harga sewa terjangkau, baru ia bisa menempatinya. (mse) 

Berita Terkait