Lawar Siap Jadi Buah Tangan Asal Pontianak

Lawar Siap Jadi Buah Tangan Asal Pontianak

  Senin, 9 January 2017 09:30
BRAND LOKAL: Penjaga toko melihatkan salah satu produk kaos lawar yang ditawarkan kepada konsumen. Berbagai jenis produk Lawar juga memiliki produk lain seperti jaket, jam, dompet, tas, topi, sandal. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Gerai Fashion Usung Bahasa Lokal 

Menjamurnya gerai yang menawarkan pakaian tak menyurutkan Heri Setiawan, pria yang lahir 29 tahun lalu ini membuat brand sendiri yang diambil dari bahasa sehari-hari masyarakat kota Pontianak.

Pahlevi Y Harisandy, Pontianak

MEMULAI usaha sejak 15 Juli 2015 lalu, Lawar kini telah memiliki gerai sendiri yang diberi nama oleh sang owner Teras Lawar dan terletak di Jalan Uray Bawadi No. 13b - 1, Pontianak.

Heri Setiawan namanya, pria lulusan Teknik Informatika Untan ini adalah dalang dari terciptanya Lawar. Nama Lawar dijelaskannya, didapatnya dari bahasa sehari-hari masyarakat kota Pontianak. Lanjut ia, Lawar dalam bahasa melayu tidak berarti konotasi yang negatif dan bahkan berartian sesuatu yang baik atau bagus.

Selain itu, Lawar juga diyakini Heri sangat mudah diingat. "Harapan ketika digunakan dapat bisa mendefinisikan orang tersebut melalui brand Lawar," katanya.

Lawar tak hanya sekadar terpampang di setiap helai baju. Lawar juga memiliki produk lain seperti jaket, jam, dompet, tas, topi, sandal dan lainnya.

Dalam memproduksi brand miliknya sendiri, Heri Setiawan menuturkan, semua  produk Lawar ini diproduksinya dari pulau Jawa. Pasalnya, dia telah bekerjasama dengan temannya yang menggeluti dunia tekstil di sana.

Bahan yang digunakannya adalah bahan katun dan ditambah kandungan enzim pada setiap helainya. Tak ayal, kalau Lawar terasa lembut saat dikenakan. Heri menegaskan, usaha dibidang yang digelutinya ini sangat menjanjikan. 

Dibeberkannya, setiap bulan produk Lawar miliknya rata-rata terjual 300 - 500 helai. "Yang paling laris manis tentu baju," ucapnya.

Harga yang dipatok Heri terhadap semua produk Lawar miliknya relatif murah dan tak merogoh kocek pelanggannya terlalu dalam. Alasannya, lantaran target pasar yang diincarnya adalah kalangan anak muda dari yang masih menempuh pendidikan di bangku sekolah hingga yang belajar di universitas tinggi.

Heri mengulas, setiap barang yang dijualnya dengan berlabel Lawar berkisar dari Rp75 ribu hingga Rp210 ribu.

Untuk setiap helai baju berlabel Lawar hanya dibanderol seharga Rp90 ribu (lengan pendek) dan Rp95 ribu (lengan panjang. Sandal Lawar juga terbilang murah dengan dihargai Rp75 ribu perpasang.

Harga yang terjangkau ini dikatakan Heri sengaja lakukannya terhadap brand Lawar miliknya. Pasalnya dia menilai, kota Pontianak bukanlah kota metropolitan dan setiap barang yang dijualnya harus disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat.

Tak hanya unggul dari sisi harga, Lawar juga memiliki desain spesial dengan jumlah yang terbatas. Hampir setiap bulan, desain Lawar selalu tampil baru dengan jumlah yang sedikit dan tak akan mengulang desain yang sama. "Setiap edisi hanya dibuat untuk sekitar 36 helai. Jumlah itu termasuk untuk semua ukuran, lengan pendek dan lengan panjang," papar Heri lagi.

Desain Lawar juga dibuat sendiri oleh sang owner. Karena dia ingin Lawar tampil beda dengan yang lain tanpa bertujuan untuk menyingkirkan brand lain.

Kini Lawar sudah menunjukkan kemajuan yang pesat. Mengungkit kala awal berdiri, Lawar hanya melayani pelanggannya di akun media sosial milik sang owner. Kala itu, transaksi jual beli masih menggunakan sistem COD (cash on delivery) dimana Heri Setiawan yang langsung mengantarkan baju Lawar ke rumah calon pembeli.

Saat ini, Lawar sudah dapat dijumpai di Teras Lawar yang buka setiap hari mulai dari pukul 10:00 pagi hingga pukul 22:00 malam. Heri juga telah memiliki empat orang pegawai di Teras Lawar.

Heri menceritakan kembali, sebelum memiliki gerai sendiri, dia hanya melakukan promosi melalui media sosial. Disebutkannya, Instagram di @cintelawar dan @teraslawar (katalog lengkap), Line di @cintelawar dan Facebook di /cintelawar.

Dia berharap, jika Dagadu identik dengan DIY Yogyakarta, kota Pontianak juga demikian terkenal melalui Lawar. Tak ayal, kalau di Teras Lawar tertulis Ole-Oleh Asli Pontianak. "Kita ingin kalau orang lohat baju Lawar langsung ingat kota Pontianak," ungkap Heri pada wartawan media ini.

Selama ini, dia telah melayani pembeli hampir di seluruh wilayah Kalimantan Barat dan beberapa daerah dari luar Kalimantan dengan memanfaatkan jasa ekspedisi. Hal itu juga yang memperkuat keinginannya menjadikan Lawar sebagai buah tangan asli kota Pontianak. "Bagaimana Lawar bisa terkenal dimuka Nasional kalau masyarakat kota Pontianak saja tidak kenal atau tak mau pakai Lawar," imbuhnya.

Maka dari itu, Teras Lawar kembali ditulisnya dengan slogan, Ingat Pontianak Ingat Lawar, Cinte Pontianak Cinte Lawar. Di tahun 2017 ini, Heri mengatakan dia belum ingin membuka gerai baru untuk brand Lawar miliknya. 

Dia hanya ingin membuat sebuah aplikasi untuk layanan dropship. "Ini semisal peluang bisnis bagi masyarakat kota Pontianak. Jadi bisa jual produk Lawar dengan bermodalkan kuota, tanpa harus beli produknya dulu, nanti setiap bulan akan ada fee dari hasil jualannya," jelas Heri Setiawan, owner Lawar.

Hal itu dilakukannya untuk memberdayakan masyarakat kota Pontianak dalam mengenalkan Lawar. "Kita masih siapkan aplikasinya. Secepat mungkin akan dirampungkan," jelasnya lagi.

Dengan ketenaran Lawar yang terus meranjak naik. Keuntungan tak hanya sekadar didapat oleh si pemilik brand, tapi juga untuk kota Pontianak. Meski terlihat simpel, tapi Lawar memiliki keunikan dengan mengusung bahasa keseharian masyarakat Kota Pontianak. "Bahasa kita juga akan dikenal, nanti kota Pontianak juga bisa jadi destinasi wisata yang semakin menarik," pungkas Heri Setiawan, pemilik brand Lawar. (*)

Berita Terkait