Lawan Penyakit Melalui Hobi Bermain Badminton

Lawan Penyakit Melalui Hobi Bermain Badminton

  Rabu, 28 September 2016 09:30
Agustian Lim, Pengidap HIV/AIDS yang berjuang melawan penyakitnya. Dia tetap tegar dan berusaha dengan berbagai cara agar bisa pulih. AGUSTIAN LIM FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Agustian Lim, Pengidap HIV/AIDS yang Berusaha Bertahan Hidup

Kisah inspiratif datang dari Agustian Lim (38). Pengidap HIV/AIDS stadium tiga ini melawan virus yang menggerogoti tubuhnya dengan semangat yang menggebu. Uniknya, dia melawan penyakit itu melalui hobinya bermain badminton.

PAHLEVI Y HARISANDY, Pontianak

TIDAK gampang,” tegas Agustian Lim saat ditanya Pontianak Post bagaimana dirinya bisa melawan virus HIV/AIDS. Pria kelahiran Sanggau, Kalimantan Barat, 38 tahun silam ini mengatakan, bukan perkara mudah saat mengetahui dirinya terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Defiency Syndrome (AIDS). 

“Rasanya syok. Tekanan batin juga melanda saya,” kata pria yang kerap dipanggil Ko Agus ini dengan pilu.

Diceritakannya rinci tentang awal mula dia merasakan kejanggalan di dalam dirinya, terutama dari sisi kesehatan.  Dia yang berdomisili di Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini mulai menurun kesehatannya pada Januari 2015 lalu.

Pada September  2014, Palangkaraya memang sedang dilanda kabut asap tebal yang mengganggu sistem pernapasannya. “Tapi bulan Januari 2015 kabut asap itu sudah tidak ada. Tapi kenapa saya semakin susah bernapas,” tanya dia curiga.

Selain mulai susah bernapas, dia juga batuk parah dan nafsu makannya semakin menurun sehingga berat badan merosot belasan kilogram.

Pada Januari 2015, tepatnya pada tanggal 10, dia memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk mencari tahu penyakit apa yang menerpanya. “Setelah konsultasi ke dokter paru-paru, ternyata dikatakannya sisa nyawa saya hanya 2 persen,” kenangnya.

“Saudara positif terjangkit virus HIV/AIDS Stadium III (tiga),” kata Agus menirukan ucapan dokter. 

Setelah mengetahui penyakitnya, Agus kembali ke Palangkaraya untuk berobat di rumah sakit ternama di kota itu. “Sesuai kata dokter yang di Jakarta, saya dapat bertahan melalui obat bernama ARV,” terangnya.

ARV merupakan obat yang diberikan World Health Organization (WHO) untuk menekan perkembangan virus HIV/AIDS yang diberikan secara gratis melalui rumah sakit milik pemerintah.

Awalnya, setelah berobat ke rumah sakit ternama di Palangkaraya, dia mendapatkan pengobatan rawat jalan. Selang sehari, dia kembali ke rumah sakit tersebut dan ngotot minta dirawat inap.

“Saya yang merasakan sakit ini. Saya tidak bisa dirawat jalan, saya harus dirawat inap,” ujar pria kelahiran 17 Agustus 1979 silam itu.

Ko Agus kembali mendapat cobaan besar. Setelah positif terjangkit virus HIV, asuransi kesehatannya pun dinonaktifkan. “Maaf Pak Agus, asuransi kesehatan Anda sudah diputuskan,” katanya menyitir ucapan recepsionist rumah sakit tempatnya berobat.

Dengan berani dia menyatakan bisa memahami hal itu dan menyanggupi semua biaya perobatan secara tunai. “Padahal saya gak punya uang,” akunya lirih.

Bersyukur dia yang bekerja sebagai sales salah satu kendaraan roda empat ternama ini sangat menjalin hubungan baik dengan para konsumennya. Ada tiga konsumennya yang telah menganggap Agus seperti keluarganya sehingga bersedia menyokong biaya pengobatan Agus.

“Mereka yang mengirimkan saya uang puluhan juta rupiah untuk berobat,” sebutnya.

Bagi Agustian Lim, banyak pertimbangan setelah menyandang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) untuk kembali berkomunikasi dengan orang lain sebagaimana lazimnya. Apalagi rata-rata ODHA selalu patah arang untuk berjuang dan bertahan hidup di tengah masyarakat.

Belum lagi masih banyaknya stigma negatif ODHA di mata masyarakat. “Saya putuskan untuk tidak mengabari semua orang yang saya kenal. Hanya orang terdekat dan terpecaya saja yang mengetahui hal ini,” ungkap dia

Awal bulan Februari 2015, kondisinya agak membaik sehingga dia memutuskan untuk kembali bekerja seperti biasa. Meski ada beberapa teman kantornya yang tampak curiga akan dirinya, dia tetap tak menghiraukan.

Sebulan setelah itu, penyakitnya kembali parah. Dia yang hobi bermain badminton ini harus terpaksa kembali dirawat di rumah sakit. “Sesuatu yang sangat saya senangi akan hilang,” kata Agus sedih.

Sejak itulah dia bulatkan tekad untuk melawan virus HIV secara agresif yaitu dengan menyerangnya. “Saya harus semangat satu juta kali dari mereka (virus HIV/AIDS),” tanamnya dalam benak.

Selain memiliki semangat yang besar, dia yang menganut agama Budha ini memiliki kerohanian yang baik. Diceritakannya, dia yang sejak kecil dididik ajaran Budhis dapat menumbuhkan jiwa Budha dalam dirinya.

“Saya bukan anakmu yang patuh, tapi saya juga berhak membangkitkan jiwa Budha di dalam jiwaku yang lemah,” katanya memmohon di dalam doa.

Semenjak itu, dia tak pernah kembali ke rumah sakit untuk perawatan intensif. Dia hanya sesekali datang untuk mengontrol kesehatan.”Saya hanya konsumsi rutin obat dari WHO itu,” ucap pria yang kedua orangtuanya sudah tiada ini.

Kesehatannya yang sudah tak optimal ini membuat dokter menganjurkannya untuk lebih banyak beristirahat dan berhenti menyalurkan hobinya bermain badminton. Namun, Agus tak mengamini permintaan dokter yang menanganinya itu.

“Saya tidak peduli. Saya pikir kalau saya diam-diam saja di rumah saya bisa stres dan kembali mengganggu mental saya. Jadi saya harus bawa diri saya ke kondisi senang. Kesenangan saya ya tentu hanya ada di lapangan badminton,” papar pria berkacamata ini.

Bulan Mei dan Juni 2015, efek samping dari obat yang diminumnya mulai tampak. Kulitnya meruam, timbul bintik-bintik berisi cairan seperti terkena cacar.

Meski demikian, setelah rutin mengonsumsi obat, paru-parunya dikatakan sehat oleh dokter. “Jika kita masih mau melanjutkan hidup ya harus bulatkan tekad dan disiplin mengonsumsi obat,” ucapnya.

Pada Juli 2015, dia lantas memutuskan untuk terbuka kepada siapapun atas penyakit yang diidapmya ini. Orang pertama yang dia pilih untuk dikabari adalah atasannya di kantor. “Saya harap dia mengerti akan penyakit saya. Saya butuh dukungan untuk sembuh,” harapnya.

Sayangnya, setelah jujur kepada atasan, dia malah diberhentikan oleh perusahaan tempat ia mencari nafkah sejak enam tahun lalu. “Saya tidak benci. Saya tidak dendam. Saya harus tegar menghadapinya,” kata anak kelima dari enam bersaudara ini.

Tidak sampai di situ, dia juga disuruh angkat kaki dari tempat tinggal yang diberikan atasannya di kantor karena penyakitnya itu. Akibatnya, dia terpaksa berteduh dari panas matahari dan sejuknya malam di sebuah indekos.

Di tempat tinggal baru ini, dia juga kembali terbuka pada para tetangga barunya, meski mereka sempat ragu mau berteman dengannya. Namun, seiring waktu, akhirnya dia mendapatkan sambutan hangat dari tetangga barunya. “Mereka merasa iba pada saya setelah mengetahui saya terjangkit HIV/AIDS Stadium III,” ceritanya.

Setelah mendapatkan dukungan dari teman baru, Agus mengaku sangat berambisi besar untuk melawan virus itu. “Kalian (Virus HIV) yang akan aku siksa, bukan kalian yang menyiksaku. Kalian salah masuk tubuh,” tegasnya lagi melawan penyakitnya.

Semenjak itu, dia hanya fokus melawan virus itu meski tanpa pekerjaan dan jauh dari sanak saudara. “Saudara saya di Sanggau juga tidak hidup nyaman. Jadi saya putuskan untuk tetap di Palangkaraya, bersama sahabat saya dan tentu juga dengan hobi saya bermain badminton,” sambungnya.

Dari pengalamannya selama mengidap virus HIV/AIDS Stadium III,  ia mengakui bahwa pengucilan dari orang lain berdampak sangat buruk terhadap mentalnya. “Orang yang mengucilkan saya jauh lebih kejam dari virus HIV/AIDS itu sendiri,” katanya dengan tegas.

Terlebih lagi, sambung dia, stigma negatif akan terdengar di telinganya dari orang yang menilai dirinya sebelah mata dari sebab musabab dia terjangkit HIV.

“Kami  (ODHA) tidak perlu ditanya kenapa bisa terjangkit virus ini, kami butuh dukungan. Dukungan itu yang berharga buat kami,” ucapnya lagi.

Saat ini, kesehatan Agus mulai membaik. Bintik-bintik berisi cairan itu sudah tak lagi tumbuh di kulitnya. Berat badannya pun perlahan bertambah. Semangatnya yang besar untuk melawan virus HIV/AIDS yang diidapnya.

Dia berpesan kepada seluruh orang yang juga mengidap penyakit ini agar jangan putus asa dan harus selalu bersyukur akan hal sekecil apa pun. “Harus semangat. Jangan hiraukan omongan negatif di luar sana dan harus selalu bersyukur pada Tuhan,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait